sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bawaslu: Media massa alami krisis identitas

Seharusnya media massa lepas dari pengaruh kekuasaan atau kebutuhan pasar.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Kamis, 05 Des 2019 23:20 WIB
Bawaslu: Media massa alami krisis identitas

Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) periode 2008-2012, Bambang Eka Cahya Widodo, berpendapat demokrasi yang sehat membutuhkan ruang publik yang sehat pula. Dalam manifestasi ruang publik, satu di antaranya adalah media yang bisa menjadi ruang partisipasi masyarakat.

Akan tetapi, dewasa ini media massa Indonesia banyak yang mengalami krisis identitas. Menurutnya, seharusnya media lepas dari pengaruh kekuasaan atau kebutuhan pasar.

"Sehingga kemudian fungsi-fungsi penyaluran aspirasi publik yang mestinya dijalankan media massa itu mengalami problematika yang sangat serius," kata Bambang di Jakarta, Kamis (5/12).

Di sisi lain, ketika berharap dengan media alternatif seperti media sosial, sebagai ruang publik, media sosial acapkali tidak menghasilkan sebuah model partisipasi yang berkualitas.

Menurut Bambang, itu karena media sosial berisi 'kebisingan' atau dapat dikatakan terjadi egalitarianisme intelektual yang tidak terarah. Menurut dia, hal itu menyebabkan sesuatu yang benar atau salah sulit untuk dibedakan.

"Mungkin banyak orang merasa sudah berpatispasi politik di media sosial dengan ikut berdebat, berdiskusi di media sosial, tetapi kemudian voice yang jernih yang kemudian menjadi inti dari partisipasi itu kehilangan makna," ujar dia.

Di sisi lain, harapan agar media sosial menjadi ruang publik yang berkualitas seakan-akan semakin jauh. Ihwal itu, kata dia, karena saat ini merebak buzzer atau influencer yang sekarang malah menjadi profesi. 

"Ini membuat ruang publik kita menjadi penuh hal-hal yang tidak penting dan dangkal," jelas dia.

Sponsored
Berita Lainnya