close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Hend Zaza. foto cgtn
icon caption
Hend Zaza. foto cgtn
Sosial dan Gaya Hidup
Sabtu, 24 Juli 2021 16:14

Berusia 12 tahun, Atlet termuda asal Suriah kalah di babak pertama

Tidak mudah untuk berlatih sebagai atlet di suriah. Dia kerap menghadapi pemadaman listrik.
swipe

Hend Zaza, atlet tenis meja Suriah tersingkir di babak pertamanya, Sabtu (24/7). Namun bukan kekalahannya yang menjadi perhatian, melainkan statusnya sebagai atlet termuda di Olimpiade 2020.

Di putaran pertama, Hend Zaza, kalah dari lawannya Liu Jia, atlet Australia. Dalam debut Olimpiadenya ini, Zaza menghadapi lawan yang usianya tiga kali lipat dari usianya. Sebelumnya, untuk lolos ke Olimpiade, dia mengalahkan pemain yang lebih berpengalaman dari dirinya, seorang pemain Lebanon berusia 42 tahun. Zaza mengalahkannya ketika dia berusia sebelas tahun.

"Saya berharap untuk bermain lebih baik tetapi ini adalah lawan yang tangguh jadi ini pelajaran yang baik bagi saya, terutama dengan ini menjadi Olimpiade pertama saya," kata Zaza kepada wartawan setelah pertandingan.

 "Saya akan mengusahakannya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik untuk waktu berikutnya, semoga."

Lahir di Hama, Suriah, pemain tenis meja ini adalah atlet Olimpiade termuda kelima sepanjang masa dan termuda di Olimpiade sejak pedayung Spanyol berusia 11 tahun, Carlos Front berkompetisi pada Olimpiade 1992.

Zaza adalah salah satu pembawa bendera Suriah dalam "Parade Atlet" pada Upacara Pembukaan Jumat. Dia telah dipuji karena keterampilannya di usia yang begitu muda dan untuk dorongannya untuk berlatih dan bersaing meskipun menghadapi tantangan pandemi dan perang saudara di Suriah.

Zaza beralih ke tenis meja sejak usia lima tahun karena ingin mengikuti jejak kakaknya, yang suka bermain tenis meja. 

Tidak mudah untuk berlatih sebagai atlet di suriah. Dia kerap menghadapi pemadaman listrik sehingga tidak bisa berlatih di malam hari. Konflik senjata juga membuatnya kerap tidak dapat berpartisipasi dalam pertandingan di luar Suriah.

Setelah kekalahannya ini, dia memiliki pesan untuk anak-anak lain.

"Selama lima tahun terakhir saya telah melalui banyak pengalaman berbeda, terutama ketika ada perang yang terjadi di seluruh negeri, dengan penundaan pendanaan untuk Olimpiade, dan itu sangat sulit," katanya. 

"Tapi saya harus berjuang untuk itu dan ini adalah pesan saya kepada semua orang yang ingin berada di situasi yang sama. Perjuangkan impian Anda, berusaha keras, terlepas dari kesulitan yang Anda alami, dan Anda akan mencapai tujuan Anda."

Lawannya, Jia, juga seorang pembawa bendera pada hari Jumat. Pemain Austria berusia 39 tahun itu mengatakan ketika dia pertama kali memberi tahu putrinya bahwa dia akan melawan pemain yang hanya dua tahun lebih tua darinya, putrinya berkata 'Sebaiknya kamu tidak kalah.'

Jia senang untuk maju tetapi dia sangat bersimpati dengan Zaza. 

"Ada olahraga dan ada kehidupan," katanya setelah pertandingan. "Ada orang yang harus menanggung kesulitan. Mereka luar biasa, tidak mudah bagi mereka," katanya. "Dia juga perempuan - untuk berada di Olimpiade pada usia 12 tahun, di hati saya, saya sangat mengaguminya," imbuh Jia.(Sumber npr)

img
Fitra Iskandar
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan