sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Film Kapak Naga Geni 212 Wiro Sableng, benarkah jelek?

Film yang ditunggu-tunggu akhirnya tayang, Pendekar Kapak Naga Geni 212 Wiro Sableng. Benarkah jelek?

Sukirno
Sukirno Sabtu, 01 Sep 2018 00:55 WIB
Film Kapak Naga Geni 212 Wiro Sableng, benarkah jelek?

Film yang ditunggu-tunggu akhirnya tayang, Pendekar Kapak Naga Geni 212 Wiro Sableng. Benarkah jelek?

Bagi Anda yang sempat menikmati kisah Wiro Sableng versi serial televisi pada era 1990-an, pasti memiliki ekspektasi tinggi untuk film ini. Pun begitu dengan saya yang memiliki harapan tinggi terhadap film superhero lokal ini.

Saya sudah menunggu penayangan film ini sejak tahun lalu. Bahkan, bayangan film ini akan menampilkan jurus-jurus Pencak Silat yang keren dan kekocakan dari tokoh Wiro Sableng sudah tergambar.

Akhirnya, film ini resmi tayang di bioskop pada Kamis (30/8). Film yang diadaptasi dari seri novel Wiro Sableng karya Bastian Tito, juga pernah difilmkan pada era 1980-an.

Sayangnya, action fantasy yang ditampilkan Wiro Sableng tak setinggi ekspektasi. Jalan cerita yang terlalu sederhana berbanding terbalik dengan begitu banyaknya kisah di dalam novel maupun serial serupa.

Sejumlah efek di film ini juga tampak mengganggu. Misalnya saat menampilkan lembah dan pegunungan, serta ketika adegan berkelahi di atas pohon, tampak konyol.

Begitu pula dengan make-up artist yang tampak begitu kasar. Sosok Sinto Gendeng yang digambarkan amat tua, terlihat menyedihkan dandanannya.

Tetap keren!

Sponsored

Untungnya, film garapan Lifelike Pictures bekerja sama dengan Fox International Production ini justru terbilang keren. Keseluruhan adegan laga dan efek fisual digarap secara apik.

Saya tak menyangka, film Indonesia mampu menyuguhkan gambar yang sangat tajam dan detil. Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara juga menggarap setiap adegan dengan begitu jeli.

Karakter Wiro Sableng yang diperankan oleh Vino G. Bastian, putra dari pengarang novel tersebut, juga cukup keren. Meski sedikit dipaksakan, Vino mampu memerankan sosok Wiro Sableng jenaka dengan kekuatan jurus silat mumpuni.

Kekuatan Timpal Tampubolon dan Seno Gumira Ajidarma dalam menulis naskah menjadi andalan Wiro Sableng versi 2018 yang dapat diterima oleh generasi millenial. Meski ber-setting era kerajaan, percakapan di film ini terbilang sangat kekinian.

Sheila Timothy selaku produser berani mengeluarkan kocek hingga US$3 juta setara dengan Rp40 miliar untuk produksi film ini. Namun, memang dukungan dari rumah produksi Hollywood Fox International Production sebagai perpanjangan 20th Century Fox cukup oke.

Rumah produksi ini berani menyajikan efek computer-generated imagery (CGI) yang secara keseluruhan ciamik. Adegan laga juga tak luput dari efek CGI dengan jurus-jurus menampakkan kekuatan terbang hingga tenaga dalam, pada jarak yang sangat dekat. Efek ini jarang terjadi di film-film lokal.

Film ini mengisahkan perjalanan misi serius Wiro Sableng mencari murid pengkhianat Mahesa Birawa (Yayan Ruhiyan) atas perintah gurunya, Sinto Gendeng (Ruth Marini). Dalam perjalanannya, Wiro bertemu dengan Anggini (Sherina Munaf) dan Dewa Tuak (Andy /rif). 

Pada perjalanan pencarian Mahesa Birawa, Wiro dengan tingkah kocak, mampu mengocok perut penonton dengan jokes receh masa kini. Aksi kocak Wiro datang banyak dari ucapan dan dialognya, seperti ketika bertemu Anggini dan Dewa Tuak, atau kala menggoda Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) dengan gombalan yang menggelitik penonton.

Harus diakui, jurus-jurus silat yang diperankan Vino tak mampu menandingi Yayan Ruhiyan. Yayan memang sudah sangat keren saat melakukan adegan-adegan berkelahi dengan jurus-jurus silat andalan.

Secara keseluruhan, film Wiro Sableng ini tidak hanya menyuguhkan romantisme kerinduan novel dan serial yang sohor tahun 90-an, tetapi juga menjadi level baru bagi film laga Indonesia. Film ini layak untuk tampil di negara lain dengan kekuatan tradisi Nusantara. 

Ternyata, secara keseluruhan, film ini tidak jelek. Justru, film ini sangat layak untuk ditonton. Sudah siap sableng

4

Apabila dibandingkan dengan film Indonesia lainnya, film ini memiliki efek CGI serta gambar yang bagus. Akting para pemain juga cukup mumpuni. Namun, jalan cerita yang terlalu sederhana menjadi faktor minus bagi film ini.