Perfilman internasional semakin sering melirik keunikan tradisi lokal Indonesia sebagai latar cerita yang memikat pembaca global. Kendati demikian, langkah rumah produksi Korea Selatan yang merilis film horor Taboo: The Silent Day langsung memicu perbincangan hangat di ruang publik.
Berdasarkan lansiran Variety (24/8), rumah produksi Showbox mengangkat tentang sekelompok teman yang berlibur di Bali. Perjalanan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka tidak sengaja memecahkan guci yang berisikan arwah-arwah dendam pada Hari Nyepi.
Fenomena ini menjadi pintu masuk bincangan garis batas antara komersialisasi industri hiburan dan penghormatan terhadap nilai spiritual lokal. Terlebih, Hari Nyepi merupakan esensi penyucian diri. Berikut penjelasannya lebih lanjut dilansir dari Surat Edaran PHDI dan Jurnal Komunikasi Budaya mengenai Cultural Appropriation (24/8).
Eksploitasi keheningan Nyepi dalam genre horor
Sineas memanfaatkan konsep Catur Brata Penyepian, khususnya keheningan mutlak dan pemadaman listrik sebagai perangkat suspense yang sangat efektif dalam genre horor. Selain itu, aturan larangan bepergian (Amati Lelungan) secara alami menciptakan situasi terisolasi yang mengurung para karakter tanpa akses bantuan teknologis.
Secara teologis, Catur Brata Penyepian mengatur empat larangan utama bagi umat Hindu. Merujuk pada kajian Parisada Hindu Dharma Indonesia (24/8), tradisi ini berfokus pada penyucian diri, sehingga pengalihfungsian narasinya menjadi teror supranatural memicu keprihatinan.
Pandangan pro: Peluang promosi budaya dan kolaborasi internasional
Pendukung film ini menilai keterlibatan aktor lokal seperti Della Dartyan dan Sujiwo Tejo sebagai langkah positif dalam membawa nama Indonesia ke panggung internasional.
Pemanfaatan lokasi syuting domestik turut memperkenalkan keindahan visual Pulau Bali serta tradisi Nyepi kepada penonton global yang belum pernah mendengarnya. Jadi, sebagian pihak memandang karya sinema ini sebagai sarana promosi budaya yang efektif melalui media populer.
Kekhawatiran misrepresentasi dan desakralisasi ritual
Sebaliknya, kelompok masyarakat lokal mengkritik keras potensi desakralisasi makna Hari Raya Nyepi. Sebagai dampaknya, narasi yang menonjolkan makhluk halus di tengah ritual suci dikhawatirkan membentuk stigma keliru bagi audiens luar negeri yang tidak memahami konteks asli.
Oleh sebab itu, kritik ini menegaskan pentingnya etika etnografi dan sensitivitas budaya ketika sineas mengadaptasi nilai-nilai keagamaan.
Pentingnya batas etika dalam kolaborasi seni lintas budaya
Pada akhirnya, kolaborasi sinema lintas negara seharusnya tidak mengorbankan sakralitas tradisi demi mengejar keuntungan komersial semata. Rumah produksi internasional wajib mengedepankan riset mendalam serta berdialog dengan pemangku adat setempat sebelum mengeksekusi ide cerita.
Dengan demikian, industri kreatif dapat melahirkan karya yang menghibur tanpa mencederai tatanan nilai budaya yang diangkat.