logo alinea.id logo alinea.id

Film seluloid, layar tancap, dan kenangan masa silam

Layar tancap bukan hanya bisa menjadi hiburan, tetapi juga menjadi mata pencaharian dan pendidikan.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Sabtu, 30 Mar 2019 10:00 WIB
Film seluloid, layar tancap, dan kenangan masa silam

Saat ini, menemukan hiburan layar tancap di kota-kota besar seperti Jakarta ibarat melihat oasis di tengah gurun pasir. Tak ada lagi orang-orang hajatan menyewa tukang putar film keliling, yang berbekal pita seluloid dan layar dari kain.

Gempuran bioskop grup raksasa yang merambah pusat perbelanjaan, sudah menjadi pilihan kaum urban menikmati film. Bahkan, kini dengan mudah orang menonton film melalui medium internet.

Bila mau lelah sedikit, orang Jakarta bisa melipir ke pinggiran ibu kota untuk menikmati layar tancap. Misalnya saja ke Kelurahan Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan.

Pada Rabu (27/3) malam, di sebuah lapangan di lokasi itu diputar layar tancap untuk memeriahkan acara khitanan seorang anak warga kampung.

Berhenti jadi sopir angkot

Nur Iyan dan alat pemutar film untuk layar tancap. Alinea.id/Robertus Rony Setiawan.

Selain untuk hiburan di acara hajatan warga kampung, pemutaran biasanya diadakan saat peringatan 17 Agustusan, ulang tahun, atau silaturahmi warga setelah Idulfitri.

Penyedia film-film untuk diputar di layar tancap itu adalah Nur Iyan. Sudah 16 tahun ia berbisnis sewa film seluloid. Di tempat tinggalnya di Pamulang, Tangerang Selatan, ternyata bisnis sewa film seluloid masih menjanjikan untung bagi Iyan.

“Sebulan saya bisa 4 sampai 5 kali adakan pemutaran layar tancap,” kata Iyan saat berbincang dengan reporter Alinea.id di rumahnya, Kelurahan Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan, Jumat (29/3).

Iyan tengah mengecek kesediaan dan kondisi gulungan seluloid sejumlah judul film. Menggunakan mesin pencetak lubang klise seluloid, dengan cekatan Iyan memperbaiki pita-pita seluloid yang sudah robek di bagian tepi.

Beberapa tumpukan wadah plastik berdiameter 30 sentimeter tergeletak di teras rumahnya. Judul-judul film yang ditulis dengan tinta tipe-x tertera di sana, seperti Bulletproof Monk (2003) dan Kesempatan dalam Kesempitan (1985).

Iyan mengatakan, umumnya film-film yang kerap diputar merupakan produksi langka. Dalam satu kali pemutaran, film-film yang diputar dipilih dari beberapa genre berbeda.

Dahulu, sebenarnya usahanya ini sebagai sampingan dari pekerjaan utamanya sebagai sopir angkutan kota. Iyan mengatakan, usahanya ini butuh modal lumayan besar.

Setidaknya, kata Iyan, satu judul film seluloid berukuran 16 milimeter maupun 35 milimeter ia beli sekitar Rp4 juta.

Ia berstrategi. Untuk menambah koleksi filmnya, setiap keuntungan bersih dari penyewaan dan jasa pemutaran ia sisihkan untuk membeli film seluloid baru.

Pada 2013 ia fokus total bisnis jasa penyewaan dan pemutaran film seluloid untuk layar tancap. Mobil angkotnya ia jual.

“Saya pakai buat nambah biaya ngembangin usaha film layar tancap ini,” kata dia.