sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Into the Light jelaskan temuan survei kesehatan mental yang mengkhawatirkan

Berdasarkan survei, 40% partisipan memiliki pemikiran melukai diri sendiri maupun berpikir untuk bunuh diri dalam dua minggu terakhir.

Clarissa Ethania
Clarissa Ethania Sabtu, 11 Sep 2021 08:23 WIB
Into the Light jelaskan temuan survei kesehatan mental yang mengkhawatirkan

Rasa kesepian bisa menjadi tanda awal jika seseorang berada di dalam kondisi mental yang “gawat”. Terlebih jika orang-orang yang diajak berkomunikasi, tidak dapat memahami maksud dan perasaan yang tengah di alami. Rasa kesepian dapat memunculkan adanya rasa cemas, rasa terasingkan, dan yang lebih parah adalah berakhir dengan depresi, yang dapat membuat orang tersebut memilih untuk menggunakan cara yang singkat untuk menyelesaikan masalah.

Hal ini pun didukung dengan adanya survei yang telah dilakukan oleh Into The Light dengan Change.org mengenai masalah kesehatan mental di Indonesia. Berdasarkan suvei, sekitar 98% partisipan merasa kesepian dalam sebulan terakhir, dan 40% memiliki pemikiran melukai diri sendiri maupun berpikir untuk bunuh diri dalam dua minggu terakhir.

Orang-orang yang memiliki kecenderungan melakukan melukai diri (self harm) ataupun bunuh diri datang dari tempat mereka yang tidak mampu mengatasi stres yang mereka alami. Sehingga mereka menggunakan self harm/ keinginan untuk melukai diri untuk melepaskan rasa stres mereka.

Ada yang berpikir jika dirinya merasa lega saat melakukan self harm, sehingga melakukannya secara berulang kali. Pemikiran ingin bunuh diri datang dari lebih dikarenakan, karena seseorang tersebut mengalami rasa sakit yang terus menerus ditambah dengan keputusasaan. Tidak lagi melihat hidup itu menjadi suatu hal yang layak untuk dijalani, karena rasa sakit yang terlalu menghantui. Akhirnya melihat bahwa kematian adalah satu-satunya cara untuk menghentikannya.

“Orang-orang ini tidak datang dari tempat yang berbahagia. Orang-orang ini tidak berasal dari tempat yang tidak damai sejahtera. Melainkan orang-orang yang datang dari tempat yang terluka. Hal ini lah yang perlu kita pahami betul, bagaimana kita bisa melakukan action yang tepat, guna, serta tentunya bisa mendorong perilaku ini bisa dicegah,” ujar pendiri Into The Light Benny Prawira, dalam webinar, Jumat (10/9) malam. 

Sebenarnya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh penderita kesehatan mental untuk mencegah dirinya untuk melakukan self harm ataupun bunuh diri. Yakni, menyingkirkan/menjauhkan diri dari trigger/pemicu yang dapat membuat kita melakukan tersebut. Selain itu, dapat memperoleh bantuan dari ahli kesehatan yang profesional, yang kemudian dapat melakukan metode-metode pencegahan dan pengendalian diri yang sudah dikonsultasikan.

Adanya pendampingan dari tenaga kesehatan yang profesional yang memiliki kemampuan untuk membantu para penderita kesehatan mental, menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Kendati demikian masih banyak dari orang-orang yang merasa takut ke layanan kesehatan mental dan juga merasa biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Selain itu, informasi akan layanan kesehatan mental yang tidak cukup informatif membuat seseorang enggan untuk pergi ke layanan kesehatan mental, seperti poli jiwa, maupun unit psikologi di Rumah Sakit.

Di Indonesia layanan kesehatan jiwa sudah tersebar di berbagai kota besar. BPJS kesehatan pun telah menyediakan layanan kesehatan mental. Bagi pemilik kartu BPJS, biaya konsultasi dan pengobatan untuk gangguan kejiwaan tertentu seperti gangguan depresi, skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan personaliti, dan perilaku kontrol impulsif, dapat ditanggung sampai dengan gratis. 

Sponsored

“BPJS kesehatan memberikan penjaminan pelayanan kesehatan jiwa sesuai indikasi medis, sesuai dengan hasil pemeriksaan dokter di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS kesehatan,” ujar Analisis Manfaat Kesehatan Primer BPJS kesehatan Rahma Anindita, dalam kesempatan yang sama.

Pada 2019, dilihat dari data pemanfaatan program kesehatan untuk kesehatan jiwa, terdapat 354.000 kasus, dengan total biaya kurang lebih Rp531 miliar untuk rawat jalan maupun rawat inap. Sayangnya gangguan kesehatan yang diakibatkan dari menyakiti diri sendiri tidak dijamin dalam program JKN.

Selain BPJS kesehatan, Kementerian Kesehatan pun memiliki aplikasi yang dapat membantu dan juga mencegah masalah kesehatan mental seseorang. Aplikasi Sehat Jiwa, menjadi aplikasi yang diciptakan guna menekan banyaknya kasus masalah kesehatan jiwa yang tidak tertangani karena kurangnya pengetahuan masyarakat. Alhasil, banyak masalah kesehatan jiwa yang terlambat ditangani atau tidak tertangani sama sekali. 

“Aplikasi sehat jiwa ini di dalamnya ada terdapat salah satu tools untuk mendeteksi kesehatan mental kita. Aplikasi ini bisa bisa diakses dan digunakan untuk menilai seberapa baik kondisi mental kita, jika menyadari kesehatan mental yang kurang baik, bisa langsung menghubungi di bagian konsultasi dan ada tenaga-tenaga profesional yang siap, sesuai dengan jadwal-jadwal yang bisa dihubungi untuk layanan konseling,” ucap Direktur P2 Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kementerian Kesehatan Celestinus Elyga Munthe.

Melalui aplikasi-aplikasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat Indonesia dalam melakukan identifikasi dini dan mencegah adanya gangguan kesehatan mental. Kendati demikian diperlukan adanya peran dari setiap masyarakat akan masalah kesehatan mental ini. Begitu pula pelayanan dari layanan kesehatan mental yang masih perlu dioptimalkan kembali.
 

Berita Lainnya