sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kisah menghidupkan kembali kain tenun Tidore

Selain untuk dijual, tenun bermotif kuno dengan gambar kalajengking juga untuk persembahan khusus tamu Kesultanan Tidore.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Senin, 06 Jul 2020 16:03 WIB
Kisah menghidupkan kembali kain tenun Tidore
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 137568
Dirawat 39290
Meninggal 6071
Sembuh 91321

Tidore merupakan salah satu kesultanan di Nusantara yang cukup dikenal pada masa lampau. Salah satu peninggalannya yang sudah nyaris tidak lagi ditemukan adalah motif tenun Tidore. Ini karena motif tenun di Kesultanan Tidore, yang dikenal dengan nama Puta Dino, sudah punah.

Salah satu tokoh yang aktif menghidupkan kembali motif tenun Tidore adalah Anita Gatmir.

Kepada Alinea.id, Anita menceritakan niat menghidupkan tenun Tidore bermula saat dirinya membuat lomba menulis blogger pada 2016. Sebagai keturunan keluarga Kesultanan Tidore, Anita ingin memperkenalkan kampung halamannya.

Ia tertarik mengungkap itu setelah seorang kawan menyindir foto upacara adat keluarga Kesultanan Tidore yang justru mengenakan pakaian adat khas Jawa hingga Sumatera. “Saya seperti ditampar. Diingatkan kok bisa, Kesultanan Tidore itu kerajaan besar jaman dulu,” ujar Anita saat menghadiri acara '74 tahun BNI Cinta Produk Nusantara’ di Lobby Grha BNI, Jakarta, Senin (6/7).

Lantas, Anita pun bertanya kepada tetua-tetua di Tidore yang seorang di antaranya mengaku pernah melihat alat tenun di kampungnya. Selain itu, pencarian kain tenun Tidore dilakukan pula ke Museum Tekstil, Perpustakaan Nasional, dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Akhirnya Anita menemukan foto hitam putih bertulis Tidore–Halmahera pada 2019 di ANRI. Arsip foto tanpa angka tahun tersebut berasal dari Leiden, Belanda.

“Nah, itu yang bikin saya yakin. Tenun Tidore ini kayak puzzle,” ucapnya.

Proses penciptaannya juga harus menghadapi beberapa tantangan karena memulainya dari 0. Mulai dari proses pembuatan, hingga sumber daya manusianya. Dari 12 pengrajin tenun Tidore yang dibina. Namun, hanya 5-6 anak saja yang konsisten. Aktivitas dilakukan dari rumah tenun Puta Dino Kayangan Tidore, dan alatnya mendapatkan bantuan dari Bank Indonesia.

Sponsored

“Butuh ketekunan karena kami menggunakan benang yang tipis sekali. Awal-awal senang ramai, tetapi enggak bisa bertahan lama. Banyak yang datang dan pergi (anak binaannya),” tutur Anita.

Ciri khas tenun Tidore yang dibuatnya terletak pada motif kuno yang dicontoh Anita dari temuan arsip foto tadi. Selain untuk dijual, tenun bermotif kuno dengan gambar kalajengking juga untuk persembahan khusus tamu Kesultanan Tidore.

“Kalajengking itu binatang spesial di tempat kami. Dipakai dalam berbagai kedaton. Istana itu berbentuk kalajengking,” ucapnya.

Lebih jauh, Anita berharap, adanya pendampingan dan dukungan untuk program tenun Tidore ini. Sehingga, anak didiknya bisa terus belajar dan tenun Tidore pun bisa terus eksis.

Berita Lainnya