logo alinea.id logo alinea.id

Makna di balik sarung Ma'ruf Amin

Sarung identik dengan kaum Nahdliyin sejak dahulu. Ma'ruf Amin menerapkan cara berpakaian seperti itu.

Robi Ardianto Kudus Purnomo Wahidin Nanda Aria Putra
Robi ArdiantoKudus Purnomo Wahidin | Nanda Aria Putra Senin, 21 Jan 2019 20:18 WIB
Makna di balik sarung Ma'ruf Amin

Di antara pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan bertarung pada pemilihan umum (pemilu) April 2019 mendatang, cara berbusana Ma’ruf Amin paling menonjol. Ke manapun dan di manapun, Ma’ruf tak melepaskan sarungnya. Bahkan, ketika debat capres-cawapres 17 Januari 2019 lalu, Ma’ruf tetap memakai sarung.

Dalam keseharian, kita pun kerap melihat orang memakai sarung. Bukan hanya untuk salat, tapi saat santai atau beraktivitas di lingkungan rumah.

Guru besar Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Sukron Kamil mengatakan, keberadaan sarung tak bisa lepas dari pengaruh budaya India yang masuk membawa agama Hindu sekitar abad ke-4.

Penggunaannya dalam tradisi agama Hindu bisa dilihat dalam masyarakat Hindu di Bali kini, yang sehari-hari masih mengenakan sarung.

“Coba lihat India, hingga detik ini (masyarakatnya) masih pakai sarung. Demikian juga kalau Anda lihat orang Hindu di Bali yang ke sawah, sembari mengurus anak babi pakai sarung,” kata Sukron saat dihubungi reporter Alinea.id, Jumat (18/1).

Menurut Sukron, sarung sudah menjadi alat pelengkap hidup masyarakat yang mendiami Nusantara sejak lama. Lambat laun dikenakan juga kaum muslim, saat Islam masuk dan berkembang di Nusantara.

Kaum sarungan dan keseharian Ma’ruf

Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Ma'ruf Amin mengambil undian pertanyaan saat debat pertama Pilpres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1). (Antara Foto).

Di masa pergerakan nasional tahun 1920-an, menurut Sukron, sarung sempat dijadikan sebagai identitas politik para kaum Nahdliyin, untuk membedakan kelompok mereka dengan kaum nasionalis sekuler dan kolonial—yang kerap memakai jas dan dasi.

“Kaum Nahdliyin dari dulu dikenal sebagai kaum sarungan,” ujar Sukron.

Sukron mencontohkan, sarung melekat pada Hasjim Asy’arie (pendiri Nahdlatul Ulama) dan intelektual sekaliber Haji Agus Salim. Sukron melanjutkan, sarung hingga kini masih dikenakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), seperti calon wakil presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin.

"Ma’ruf Amin yang dari NU itu, saya lihat memang tak ingin menghilangkan identitasnya. Dia mengisyaratkan ‘kalau saya jadi wakil presiden tak harus menghilangkan identitas saya’," katanya.

Meski begitu, Sukron tak sepakat anggapan yang mengatakan, Ma’ruf mengenakan sarung dipengaruhi kepentingan politik. Sebab, kata dia, mengenakan sarung oleh cawapres nomor urut 01 itu semata-mata dipengaruhi faktor budaya asal Ma’ruf.

Berbeda dengan Joko Widodo. Menurut Sukron, Jokowi mengenakan sarung, lebih dipengaruhi kultur Jawa.

"Jadi, bukan karena politik, untuk menunjukkan Jokowi pro-Islam, seperti hoaks yang belakangan beredar, yang menafsirkan Jokowi anti-Islam. Jokowi ataupun Ma'ruf Amin pakai sarung bukan untuk meng-counter itu, tapi lebih ke faktor budaya,” ujarnya.

Dalam keseharian, Ma’ruf pun mengenakan sarung. Hal itu diungkapkan salah seorang anak Ma’ruf, Siti Ma’rifah.

“Abah (Ma’ruf Amin) memang seperti itu (mengenakan sarung). Beliau akan berpakaian seperti itu, seperti kesehariannya,” kata Siti saat dihubungi, Jumat (18/1).

Hal senada pun disampaikan anak Ma’ruf Amin lainnya, Ahmad Syauqi. Dia mengatakan, busana yang dikenakan ayahnya saat debat capres-cawapres sangat cocok dan sesuai dengan karakter pasangannya, Jokowi.

"(Sarung) sangat menyesuaikan dengan apa yang dikenakan (pakaian) Pak Jokowi, saling menyesuaikan Abah dengan Pak Jokowi," ujarnya ketika dihubungi, Jumat (18/1).