sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Memulihkan psikologis anak yang terpisah dengan ortu karena Covid-19

Anak menjadi salah satu kelompok rentan terdampak pandemi Covid-19.

Firda Cynthia
Firda Cynthia Sabtu, 13 Jun 2020 06:03 WIB
Memulihkan psikologis anak yang terpisah dengan ortu karena Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 78572
Dirawat 37226
Meninggal 3710
Sembuh 37636

Pandemi Covid-19 bisa membawa dampak psikis bagi anak-anak yang harus terpisah dengan orang tua positif coronavirus, atau bahkan yang meninggal akibat serangan virus yang muncul pertama kali di Wuhan, China itu.

“Dampaknya bisa berbeda-beda ke anak, tapi yang pasti, bagi anak situasi ini tidak mudah karena orang tua seperti jangkar mereka. Keluarga adalah lingkup terdekat bagi anak,” kata tenaga ahli Psikologi UPT P2TP2A DKI Jakarta, Vitria Lazzarini Latief.

Vitria menambahkan, bagi anak-anak yang sudah sekolah dan berusia remaja, kengeriannya akan begitu nyata dibanding anak-anak lebih kecil yang belum terlalu paham dengan situasi buruk ini. 

Anak-anak yang belum terlalu paham hanya mengetahui orang tua yang biasa mengasuhnya telah pergi, namun belum paham penyebabnya dan keadaan pandemi ini.

“Bagi anak-anak yang sudah SMP atau SMA, dampak psikisnya lebih terasa karena mereka enggak tau kapan akan pulih, kemudian juga dipaparkan data kasus dan kematian yang terus-menerus. Sedangkan untuk yang lebih kecil mereka masih bisa belum memahami meski mereka mengetahui bahwa orang tuanya sudah tidak ada,” imbuhnya.

Pandemi membuat banyak pekerja sosial turun ke lapangan untuk mendampingi anak-anak atau keluarga yang terdampak Covid-19 secara langsung.

Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Kementerian Sosial (Kemensos) RI Suharni Ambarawati ceritakan pengalamannya mendampingi anak yang terdampak Covid-19. 

Sakti Peksos merupakan pekerja sosial yang berkerja dan bertanggungjawab terhadap fungsi sosial anak agar optimal tumbuh kembangnya.

Sponsored

“Kami melakukan kunjungan ke rumah korban. Pada saat melakukan kunjungan, pendampingan kepada keluarga positif harus memerhatikan protokol kesehatan karena kasusnya saat itu seorang ibu positif dan bapaknya pasien dalam pengawasan (PDP). Mereka harus meninggalkan rumah dan 2 anaknya. Inilah keterpisahan dengan orang tua karena Covid-19,” tutur Ambar.

Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan dalam hal ini terus mendampingi keluarga yang terdampak Covid-19 karena salah satu anggota keluarga mereka terpapar.

Tujuannya, untuk memutus rantai penularan dan dapat memastikan kebutuhan hidup anak tetap terpenuhi meski orang tua mereka tengah dirawat di rumah sakit ataupun sudah meninggal.

“Anak-anak hidup sendirian tanpa orang tua. Kami mendampingi dan memastikan bagaimana kondisi psikologis, sosiologis, dan spiritual anak,” pungkas Ambar.

Berita Lainnya