sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mencegah kanker payudara dengan pemeriksaan gen

Beberapa orang percaya kanker payudara bisa terjadi karena faktor keturunan atau genetik. Benarkah?  

Satriani Ariwulan
Satriani Ariwulan Sabtu, 10 Okt 2020 18:47 WIB
Mencegah kanker payudara dengan pemeriksaan gen
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 406.945
Dirawat 58.868
Meninggal 13.782
Sembuh 334.295

Kanker payudara merupakan salah satu penyakit berbahaya dan mematikan bagi manusia. Beberapa orang percaya kanker payudara bisa terjadi karena faktor keturunan atau genetik. Benarkah?  

Ketua Bidang Pelayanan Sosial Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Sonar Soni Panigoro membenarkan hal tersebut. Menurutnya, ada dua jenis kanker payudara, yakni kanker payudara familial yang berhubungan dengan riwayat keluarga dan kanker payudara sporadic yang tidak diketahui penyebabnya.

"Namun, mempunyai anggota keluarga yang terkena kanker bukan berarti berisiko terkena kanker," ujar Sonar, Sabtu (10/10)

Sonar yang juga merupakan dokter spesialis bedah onkologi di RSPUN dr. Cipto Mangunkusumo itu mengatakan, pemeriksaan gen BRCA (breast cancer gene/gen kanker payudara) 1 atau 2 juga bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah sekaligus mendeteksi risiko seseorang mengembangkan kanker payudara jika ada riwayat kanker serupa di keluarganya. 

"BRCA1 dan 2, gen yang cukup berperan dalam kanker payudara. Selain itu ada gen-gen lain yang diteliti kemungkinan hubungannya. Sayangnya, yang bisa dideteksi BRCA 1 dan 2 ini hanya 5-10%, jadi ada faktor lainnya," kata Sonar dikutip Antara. 

Sebelum pemeriksaan gen, seseorang bisa menjalani skrining melalui konseling genetik untuk memperkirakan risiko terkena kanker payudara. Jika diketahui berisiko tinggi, maka dianjurkan melakukan pemeriksaan genetik BRCA 1 dan 2.

"Jika ada sifat (mutasi) BRCA 1 atau 2, maka 85% (bisa) terjadi kanker, jadi lakukan pemeriksaan skrining rutin dimulai dari usia 25 tahun," kata Sonar.

Mutasi tertentu gen BRCA bisa menyebabkan sel-sel membelah diri, berubah secara cepat dan bisa menyebabkan kanker. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), semua wanita memiliki gen BRCA1 dan BRCA2, tetapi hanya beberapa wanita yang mengalami mutasi pada gen tersebut.

Sponsored

Jika salah satu dari orang tua memiliki mutasi gen BRCA1 atau BRCA2, maka berpeluang 50% untuk memiliki mutasi gen yang sama.

Lalu, apakah pemeriksaan gen ini sudah tersedia di Indonesia? Sonar mengiyakan, namun menurut saat ini masih relatif mahal.

"Pemeriksaan BRCA 1 dan 2 di Indonesia sudah ada tetapi masih mahal, hampir Rp7 jutaan. Ini jadi pemikiran kami untuk ke depan bagaimana menekan pemeriksaan bisa lebih murah," tutur dia.

Selain itu, pemeriksaan gen, dokter juga menyarankan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) setiap bulan, pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) setiap enam bulan, mamografi dan USG setiap tahun dan MRI payudara untuk yang berusia lebih muda dari 25 tahun. 

Faktor lingkungan

Tak hanya gen yang bisa menyebabkan seseorang terkena kanker payudara, tetapi juga faktor lingkungan dan ini berkontribusi sebesar 95% pada kejadian kanker.

Sebesar 30% hingga 35% di antaranya akibat diet tak sehat, sekitar 10% hingga 20% karena obesitas, 15% hingga 20% akibat infeksi, 25% hingga 30% karena rokok, dan 4% hingga 6% akibat minuman beralkohol. Sementara sisanya, 10% hingga 15% karena faktor lainnya.

Tak hanya itu, jenis kelamin perempuan, tidak menikah, menopause terlambat (lebih dari 55 tahun), pernah menjalani operasi tumor jinak payudara, ada riwayat kanker payudara, mendapatkan terapi hormonal yang lama juga bisa menjadi faktor risiko.

Menurut Sonar, kejadian kanker payudara termuda di Indonesia saat ini pernah dialami seseorang berusia 17 tahun. Sementara pada mereka yang di bawah 20 tahun tergolong jarang.

"Mulai 30 tahun ke atas bisa 5% (angka kasusnya)," kata Sonar.

Untuk mengurangi risiko kanker payudara, masyarakat perlu melakukan CERDIK, yaitu cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok dan polusi, rajin olahraga, serta diet berimbang dengan mengonsumsi makanan rendah lemak, mengurangi karbohidrat dan tinggi serat. Lalu, istirahat yang cukup dan mengelola stres.

Berita Lainnya