sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Minat terhadap insektisida nabati semakin meningkat

Pemicu bangkitnya pengaplikasian insektisida nabati adalah karena adanya dampak negatif dari insektisida sintetik.

Dave Linus Piero
Dave Linus Piero Rabu, 15 Sep 2021 12:53 WIB
Minat terhadap insektisida nabati semakin meningkat

Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Rohimatun mengatakan, minat terhadap insektisida nabati kian meningkat. Hal itu terjadi seiring munculnya kesadaran atas dampak buruk penggunaan insektisida sintetik.

“Akhir-akhir ini kita sering mendengar mengenai back to nature,” ujar Rohimatun saat pembuka pemaparan di webinar Pengembangan Insektisida Dabati (Ekstrak Tanaman) dengan Nanoteknologi via Zoom, Rabu (15/9).

Menurutnya, pemicu bangkitnya penggunaan insektisida nabati adalah karena dampak negatif dari insektisida sintetik. Juga meluasnya penerapan konsep pengendalian hama terpadu dan berkembangnya petanian organik.

Selain itu, kata dia, ada gerakan dan upaya untuk melestarikan lingkungan dengan cara mengurangi penggunaan bahan kimia. Yang terakhir adalah karena ada perjanjian perdagangan internasional (sanitary and phytosanitary measures) yang membatasi kadar residu pestisida di dalam produk pertanian.

Insektisida nabadi merupakan bahan kimia yang berasal dari tumbuhan yang dapat mengakibatkan satu atau lebih pengaruh biologi terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT), baik respons fisiologi (seperti pertumbuhan dan perkembangan), maupun tingkah laku (seperti aktivitas makan dan peneluran), dan memenuhi beberapa syarat untuk digunakan dalam pengendalian OPT.

Syarat untuk membuat insektisida alami, kata dia, adalah efektif dan efisien, aman terhadap lingkungan dan organisme, tidak bersifat antagonis jika dicampur, dan bahan baku yang mudah didapat. Selain itu, pestisida nabati ini dapat dipadukan dengan teknik pengendalian lain dan dapat disiapkan secara sederhana.

Namun, insektisida ini memiliki kekurangan, antara lain persistensinya singkat, sehingga perlu aplikasi berulang. Kemudian spektrum terbatas, beberapa ekstrak bekerja lambat. “Bekerja lambat maksudnya insektisida tidak langsung mematikan, tetapi ini mengubah dan mengganggu proses moulting serangga. Jadi serangga itu tidak ganti kulit secara normal,” ujar Rohimatun.

Jadi, insektisida ini tidak membunuh hama tanaman secara langsung. Tetapi membuat hama tumbuh secara tidak normal, sehingga mati. Misal, saat hama itu masih menjadi imago, sayapnya tumbuh tidak normal dan menjadi mati. Kelebihannya, biaya produksi yang dikeluarkan relatif lebih murah, dan mutu bahan baku dipengaruhi oleh jenis tanaman dan lingkungan.

Sponsored

Proses pembuatan insektisida nabati secara sederhana dan terstandar dari ekstrasi berbeda. Dalam proses sederhana, bahan baku yang sudah diremas, dipotong, dan diiris lalu direndam ke air. Kemudian disaring dan sudah bisa langsung diaplikasikan.

Namun, dalam proses yang standar memakan proses lebih panjang. Pertama, bahan baku yang dipotong akan dikeringkan sampai kadar air 10%-12%. Kemudian diblender sampai ukuran 40-6 mesh. Setelah itu, baru direndam dengan pelarut organik.

Setelah direndam akan disaring secara bertingkat kemudian akan dilakukan proses evaporasi. Baru, setelah proses itu dijalankan, maka insektisida baru bisa disimpan atau diaplikasikan.

Namun, kadang pengembangan insektisida nabati terkendala karena kelarutan, bioaksibilitas, dan bioaktivitasnya. Oleh karena itu, peneliti saat ini mengembangkan teknologi nano. “Nah, salah satu solusinya dalah teknologi nano yang menghasilkan formulasi emulsi berukuran nano (1 nm=10-9 m),” ujar Rohimatun.

Nano dimanfaatkan karena partikel yang disemprotkan sangat kecil, sehingga dapat mengenai tanaman secara menyeluruh. Selain itu, teknologi ini juga dapat mendispersikan minyak dalam air dan melindungi komponen bioaktif yang tidak larut dalam air.

Rohimatun menjelaskan, Insektisida nabati yang diformulasi dengan nanoteknologi masih memiliki potensi yang luas untuk digali dan dikembangkan. Formulasi nano insektisida nabati harus memerhatikan standar yang berlaku, dan bioassay harus mengikuti prosedur yang berlaku dan perlu pemahaman mengenai mode of action bahan aktif terhadap serangga hama target.

Berita Lainnya