logo alinea.id logo alinea.id

MSG/Micin tak bikin bodoh, ini faktanya

Tak cuma memberi rasa gurih pada makanan, kandungan MSG juga memiliki fungsi yang dibutuhkan tubuh manusia.

Tri Kurniawan
Tri Kurniawan Kamis, 22 Agst 2019 11:35 WIB
MSG/Micin tak bikin bodoh, ini faktanya

‘JANGAN kebanyakan makan micin, nanti bodoh.’ 
‘Kebanyakan makan micin, sih, jadi darah tinggi, tuh.’ 
‘Makanya, kurangi micin, biar gak kegemukan dan asma.’ 

Jika percaya dengan ilustrasi tersebut, sebaiknya Anda teruskan membaca artikel ini. Kita cek bersama, fakta tentang MSG, yang beken disebut micin. Nama ilmiahnya monosodium glutamate (MSG). Senyawa ini terbentuk dari glutamat (78,2%), natrium (12,2%), dan H2O (9,6%). 

Tak cuma memberi rasa gurih pada makanan, menurut Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) Nurpudji Astuti, kandungan MSG juga memiliki fungsi yang dibutuhkan tubuh manusia. “Natrium merupakan salah satu mineral penting dalam keseimbangan cairan tubuh, sedangkan glutamat merupakan amino acid conditionally essential pada tubuh yang bekerja pada saluran cerna,” kata Nurpudji. 

Micin pertama kali ditemukan Profesor Kimia University of Tokyo, Kikunae Ikeda, pada 1908. Micin merupakan bentuk garam paling stabil dan paling baik untuk menimbulkan rasa gurih pada makanan. Intensitas rasa masakan yang memakai MSG disukai banyak orang. 

Jika MSG terbukti berguna untuk tubuh, mengapa anggapan micin membuat bodoh dan sumber berbagai penyakit santer terdengar? 

Polemik ini menyeruak pascakemunculan istilah ‘Sindrom Restoran China’ pada 1968. Sindrom tersebut merujuk pada sejumlah gejala seperti sakit kepala, mual, lemas, jantung berdebar-debar, dan mati rasa yang muncul setelah seseorang menyantap masakan khas China. Nyatanya, belum ada riset yang menyatakan dengan gamblang bahwa konsumsi MSG bisa memicu banyak penyakit, termasuk hipertensi dan kanker. 

Nurpudji menyatakan salah kaprah tentang micin muncul akibat informasi yang beredar di masyarakat tidak disertai bukti ilmiah yang benar. “Jika dibandingkan, kadar natrium pada garam dapur bisa tiga kali lipat dari MSG yang rata-ratanya hanya 1%-2% dari total konsumsi garam harian kita. Jadi, lagi-lagi anggapan itu tidak terbukti secara ilmiah,” kata Guru Besar Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar itu. 

Demikian juga anggapan MSG menjadi pemicu kanker. Nurpudji berpendapat perlu kajian atau penelitian untuk memastikan anggapan itu. 

Sponsored

“Hal penting lain yang perlu kita telaah bersama, kalaupun ada manusia yang terkena penyakit-penyakit tersebut akibat MSG, dia adalah orang yang memiliki sensitivitas terhadap reseptor glutamat,” imbuh anggota Kelompok Kerja Ahli Dewan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian ini. 

Tidak berlebihan 

Senada dengan Nurpudji, Guru Besar Ilmu Gizi, Institut Pertanian Bogor (IPB) Hardinsyah menyatakan, ketiga unsur di dalam MSG merupakan zat gizi yang dibutuhkan tubuh manusia. Glutamat adalah sejenis asam amino, bagian dari protein yang berasa gurih atau umami. H2O atau air juga termasuk zat gizi. Sedangkan sodium atau natrium merupakan sejenis mineral yang berfungsi sebagai elektrolit dan penjaga keseimbangan otot.

MSG juga bisa ditemukan pada berbagai bahan makanan alami seperti tomat, keju, jamur kering, serta sejumlah buah dan sayur. Menurut Hardinsyah, meski tubuh manusia dapat memproduksi zat-zat itu, kadarnya belum mencukupi. Karena itu, pemenuhan tambahan bisa diperoleh dari asupan makanan dan minuman sehari-hari.

Pembuatan MSG di Indonesia sendiri mengedepankan prinsip alami, yakni menggunakan tetes tebu yang difermentasi. Proses fermentasi ini sama seperti yang dilakukan untuk membuat yogurt dan kecap. Selain itu, kehalalannya juga terjamin sertifikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

Karena dibuat dari bahan alami, tak perlu khawatir menambahkan MSG ke dalam masakan. Apalagi, beberapa badan dunia yang berkompeten dalam bidang makanan seperti The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JEFCA) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) serta Badan POM RI telah mengakui keamanan penggunaan micin selama dalam batas konsumsi wajar. Kementerian Kesehatan RI melalui Peraturan Menteri Kesehatan No 033 Tahun 2012 juga mengizinkan konsumsi MSG  maksimal 5 gram per hari. 

"Penggunaan MSG sebagai bumbu masak tak berbahaya selama tidak berlebihan. Karena itu, konsumsinya tetap perlu diperhatikan," ujar Hardinsyah, yang juga Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia.  
 
Merujuk data Chemical Economics Handbook 2015, tingkat konsumsi MSG masyarakat Indonesia hanya 0,65 gram per hari; masih sangat sedikit dibandingkan masyarakat negara maju. Seperti misalnya Amerika Serikat tercatat mengonsumsi MSG hingga sekitar 1 gram per orang per hari, dan Jepang yang bahkan mengonsumsi hingga 2 gram per orang per hari.
Micin tak bikin bodoh. Alinea.id/Dwi Setiawan