sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mural, kapitalisme, dan ketidakadilan itu

Sepuluh seniman jalanan berkolaborasi meneriakkan ketidakadilan yang masih abadi di negeri ini. Mereka menuntut kesetaraan.

Khudori
Khudori Senin, 15 Nov 2021 14:30 WIB
Mural, kapitalisme, dan ketidakadilan itu

Seekor kucing raksasa duduk menenteng celengan. Persis di belakang kucing, kawanan anjing tampak semringah. Riang gembira menyantap aneka penganan. Persis di sebelah kanan, dibeber aneka branded item. Mulai makanan, minuman hingga fashion tersohor, simbol gaya hidup urban.

Ini adalah salah satu fragmen mural, hasil kolaborasi lima seniman jalanan (street artist) di salah satu tembok di Perumahan Alam Raya, Benda, Kota Tangerang, Banten, pada 8-10 November lalu. Mereka adalah Popo, Farhan Siki, Arman Jamparing, Edi Bonetski, dan Digie Sigit. 

Popo, secara komikal membincangkan ihwal keberuntungan atau rezeki lewat figur kucing raksasa. Rezeki, keberuntungan, dan kesehatan adalah doa setiap warga. Akan tetapi, konsumerisme sebagai anak kandung kapitalisme global tak terelakkan menghimpit, membelah, dan menguras energi hidup warga lewat godaan gaya hidup urban. Farhan Siki memanggungkan hal itu.

Mural bergambar kucing dengan celengan karya seniman Popo. Foto Alinea.id/Khudori.

Arman Jamparing menimpali dengan menghadirkan hiruk-pikuk dan chaos di dunia digital. Lewat teks "Gemuruh Dunia Kontemporer", teknik stencil dan wheat paste ia menyuguhkan aneka kenyataan hari-hari ini lewat gambar kepala lelaki dengan mata tertutup 'FACT' dan hiu ukuran kolosal. 

Goresan abstrak dengan warna-warna cerah karya Edi Bonetski menyiratkan chaos dalam jiwa manusia urban. Berpadu dengan karya Arman Jamparing lewat imej bocah-bocah kecil terserak tak teratur. Keduanya mengaitkan dengan ke-Indonesian lewat teks "Mencari Suaka di Negeri Sendiri".

Mereka semua --dari Popo, Farhan Siki, Arman Jamparing, dan Edi Bonetski-- merelasikan konsumerisme yang dipopulerkan kapitalisme global dan gemuruh dunia digital hari-hari ini telah menciptakan aneka chaos. Warga yang tersisih menggugat kemandirian dan kedaulatan negara.

Mural di tembok sepanjang 75 meter ini ditutup oleh karya karikatural Degie Sigit, seniman asal Yogyakarta. Lewat figur ibu kuli panggul di Pasar Beringharjo, Sigit menggugat ketidakbecusan aparat menghadirkan kesejahteraan yang merata. Ia menggugat sistem (ekonomi) yang menindas dan korup melalui teks "Bagaimana Tega Kalian Mencuri Uang Kami". 

Sponsored

Menurut Bambang Asrini Widjanarko, kurator acara ini, secara keseluruhan karya Popo-Farhan-Arman-Edi-Sigit merelasikan keberuntungan, dunia konsumerisme, dan kapitalisme yang menciptakan kegamangan kejiwaan manusia. Ini berelasi dengan kelokalan: Masihkah kita berdaulat?

Kurator Bambang Asrini Widjanarko menunjuk mural karya Anagard. Foto dokumentasi L Project.

Relasi itu, kata Bambang, bertemu dengan statemen menyengat Degie Sigit: "Bagaimana Tega Kalian Mencuri Uang Kami". "Ini narasi elok dan menggugah kesadaran. Kala dunia kontemporer, globalisasi, dunia digital, keberuntungan yang berelasi dengan uang jangan sampai memberi beban berat atau menghisap mereka yang kurang beruntung," jelas Bambang.

10 ragam seniman 

Acara bertajuk "On & Off Pressure" ini mengajak 10 seniman jalanan. Mereka, selain lima orang yang berkolaborasi pada tembok 75 meter tadi, ada lagi Anagard, Bujangan Urban, Media Legal, Hana Madness, dan Bunga Fatia. Mereka berasal dari Yogya, Jakarta, Tangerang, dan Bandung.

Bambang Asrini menjelaskan, 10 seniman ini biografinya tak sama. Ada yang otodidak, seperti Edi Bonetski, ada yang tidak. Mereka juga punya keseriusan pada perspetktif tertentu: ada wheat paste, mural, dan stencil. Mereka rata-rata sudah punya jam terbang 10 hingga 20 tahun.

Cara pengungkapan mereka, kata Bambang, ada yang politik sekali, seperti Sigit, atau yang indah dan menyejukkan yang diusung Hana Madness dan Bunga Fatia. Ada juga yang cukup keras dan sulit diterjemahkan, seperti Farhan. Alumnus Fakultas Sastra Universitas Jember yang terlibat di aneka proyek street art di berbagai belahan dunia, terutama Eropa, ini berfokus pada isu kapitalisme dan konsumerisme dalam kehidupan urban. 

Para seniman itu, jelas Bambang, juga mewakili gaya seni dengan latar tema berbeda-beda. Edi, misalnya, yang pernah masuk lima besar kompetisi "Omah Munir Award" pada 2016, itu bergaya abstrak. Rerata mereka sudah pernah bertemu fisik, juga di sosial media. "Saat bertemu, mereka bisa saling berkolaborasi. Bahwa berbeda-beda itu menarik," kata Bambang.

Ihwal "On & Off Pressure", jelas Bambang, tak ubahnya sebuah saklar yang dipakai menyalakan dan mematikan. Seni jalanan akan selalu mendapatkan tekanan dari berbagai penjuru, bisa cuaca, lalu lalang pemakai jalan, bisa juga aparat kepolisian atau satuan polisi pamong praja. 

Lewat kolaborasi ini, sesama seniman bisa saling menimpa karya. Saling membalas, baik bekerja sama atau saling menolak. Kala ada represi, akan ada regresi. "Bersamaan polemik mural yang distigma sebagai aksi vandal pada Juli-September lalu, itu bukan mematikan, malah meng-on-kan seniman," kata Bambang seraya menyebut aksi di Batam dan kota lain. 

Para seniman jalanan ini, klaim Bambang, seniman paling bebas. Karena tak tergantung kolektor dan galeri. Mereka bisa menciptakan stiker, membuat tato atau berjualan apa saja: kaos atau topi. Mereka bisa hidup dari itu semua. "Mereka ini lebih mulia karena jualan tiap hari. Mereka tak bisa dibayar, kalau buzzer jelas (berbayar)," Bambang menyindir.

Karena itu, Bambang tak habis pikir pemerintah sibuk "menertibkan" para seniman jalanan. Sejatinya, mereka "usil" mencorat-coret ruang publik itu berharap dihargai dan diberikan tempat berkarya. "Jika (seniman jalanan ini) dipaksa, dia kembali ke tabiatnya: independen," kata dia.

Acara ini dihelat oleh L Project. CEO L Project Ali Kusno Fusin berharap, acara ini mengedukasi publik bahwa seni jalanan adalah cabang seni rupa murni, yang secara salah diidentikan dengan aksi vandal. Seniman senior-junior juga diharapkan bisa bertukar gagasan. "Kami juga ingin para seniman mural kembali produktif di masa pandemi," jelas Ali.

Ihwal lokasi, kata Ali, Perumahan Alam Raya posisinya strategis, yakni di pusat Kota Tangerang. Diharapkan, tempat ini bisa menjadi magnet seni baru di Kota Tangerang, khususnya bagi pegiat dan penikmat seni jalanan. Ini terbukti, sejumlah seniman muda ikut menggoreskan karya di tujuh titik tembok seluas 1.500 meter persegi di sekitar perumahan, Rabu (10/11). Di hari terakhir itu, para seniman melukis bersama di kanvas.

Ragam ketidakadilan itu

Pada tembok lain, Anagard menghadirkan figur manusia raksasa dengan alat pelindung diri berkepalakan aneka tumbuhan. Lewat teks di tangan kanan, "No Forestasi", seniman asal Yogyakarta ini menyentak kesadaran publik akan pentingnya menjaga hutan sebagai paru-paru dunia. 

Anagard mengaku, mural itu hasil pembacaan dia saat keliling ke berbagai daerah di Indonesia. Juga mengunyah berita. Hutan di Indonesia telah rusak. Dijarah oleh kapitalisme dan industri. Padahal, kata dia, bumi bentuknya bulat. Karena itu, punya keterbatasan. Manusia bertambah dan butuh tempat. Kalau bumi tak dikontrol dan dibatasi, akan rusak. 

Ia gusar kala Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya mengatakan bahwa pembangunan di era Presiden Jokowi tak boleh terhenti oleh deforestasi. "Itu gila, monster. Apa (dia) keseleo. Jika paru-paru rusak, kita mati. Jika bumi rusak, kita tak bisa hidup," kata Anagard.

Di ujung lain, Ardiansah dan dua koleganya menghadirkan figur Dewi Themis, Dewi Keadilan. Jika figur asli Dewi asal Yunani itu memegang pedang, kali ini diganti dengan roll cat. Sementara di sebelah kiri, ibu-ibu tua berharap mendapatkan keadilan yang belum diraih.

Mural bergambar ibu kuli panggul Pasar Beringharjo karya seniman Degie Sigit. Foto Alinea.id/Khudori.

Temon, panggilan Ardiansah, menjelaskan apa yang dia muralkan masih soal tuntutan keadilan buat seniman. Temon adalah pembuat mural "404: Not Found" yang sempat membetot perhatian karena diintegorasi polisi. "Ini merespons situasi waktu itu: seniman mestinya tak diadili, diberi tempat untuk ekspresi, bukan malah (mural) dihapus," kata dia pada Alinea.id.

Menurut Temon, mural figur Presiden Jokowi bertutup mata "404: Not Found" itu terilhami oleh film "Kinipan" produksi Watchdoc yang diputar lewat nonton bareng di berbagai daerah pada April-Mei lalu. Film itu bercerita orang Kinipan yang menderita setelah sebagian hutan terinvasi perkebunan. Temon kaget. "Kok di Indonesia ada kayak begini," kata dia.

Pada tembok besar dan tinggi, enam seniman --Farhan Siki, Bujangan Urban, Media Legal, Hana Madness, Bunga Fatia, Edi Bonetski-- berkolaborasi. Lewat gambar bunga teratai raksasa sebagai pusat, mereka menghadirkan narasi kemerdekaan dan kesetaraan yang kini dalam tanya.

Mural dengan gambar bunga teratai raksasa sebagai pusat. Foto dokumentasi Bujangan Urban.

Tuntutan kesetaraan bagi para disabilitas dengan keras disuarakan Hana Madness. Bukan hanya lewat figur yang bisa melepaskan diri dari belenggu rantai, tapi juga lewat empat kata: "Equity, Diversity, Inclusive, No Stigma". "Perlu ada semangat inklusivitas, tanpa diskriminasi, dan akses dalam semua aspek hidup," kata Hana kepada Alinea.id, Rabu (10/11).

Lewat warna-warna cerah dan komikal, Hana mengambil inspirasi pengalaman pribadi yang dekat dengan isu-isu kesehatan jiwa. Sebagai penyandang disabilitas mental, ia merasakan betul betapa warga disabilitas jadi anak tiri di negeri sendiri. Seni telah jadi media terapi diri Hana. 

Hana menjalani masa kecil dan remaja yang amat sulit: mendapat pelecehan dari orang terdekat. Masalah itu selalu memicu trauma. Sampai sekarang ia masih terapi dan minum obat. Karena itu, ia bergembira diundang di acara ini, sehingga bisa bertukar ide dan energi. "Ini menggairahkan," kata dia. "Jadi, ini on. Di-off-kan masa lalu," timpal Bambang Asrini. 

Lewat mural ini, kata Bambang, para seniman menarasikan bahwa kemerdekaan adalah sebuah pemberian semesta secara azali. Kemerdekaan ada semenjak lahir dan tiap manusia setara, tanpa kecuali. Modernitas ingin memanggil manusia dengan berdiri tegak dan melata bersama. 

Sayangnya, kata Bambang, itu tidak mungkin. "Di Tanah Air masih muskil kita sejajar dan setara. Belenggu stigma, jurang disparitas ekonomi, pun pencederaan manusia atas mereka yang berkuasa pada yang lemah masih terjadi. Manusia-manusia ringkih menghadapi realitas itu," kata dia.

Seperti sebuah tekanan yang memompa para seniman jalanan, kata Bambang, mereka percaya bahwa masih ada Indonesia di esok hari yang lebih baik walau rapuh. Karena itu, "Energi terus dinyalakan, meski tantangan dan tentangan menghambat dan menghantam entah dari mana saja. Teruslah fill the blank di tembok-tembok di seluruh Nusantara," provokasi dia.

Berita Lainnya
×
tekid