logo alinea.id logo alinea.id

Nostalgia rasa ngeri dalam komik siksa neraka

Anak-anak yang tumbuh pada era 1970-an hingga 1990-an akrab dengan komik bertema siksa neraka, yang menimbulkan memori seram.

Armidis
Armidis Selasa, 11 Jun 2019 14:37 WIB
Nostalgia rasa ngeri dalam komik siksa neraka

Inspirasi cerita

Iwan Gunawan menuturkan, ada gaya visual yang memberikan daya tarik sekaligus ketakutan, sehingga komik genre agama laris manis di pasaran. Mulanya, kata dia, komik bergenre agama visualnya tak sevulgar komik yang terbit pada 1980-an.

Pada 1950-an, sebut Iwan, gambarnya tak mengeskploitasi bentuk penyiksaan. Melainkan membuat cerita yang sangat santun untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan, yang dibalut dengan bungkus agama.

Lantas, gaya gambar dan konten cerita berubah pada 1980-an. Bentuk-bentuk penyiksaan ditonjolkan sebagai identitas komik siksa neraka.

“Satu sisi sangat menakutkan pembaca. Anak kecil akan mendapat gambaran yang menakutkan. Berdasarkan ungkapan imajinasi, orang merangkai menjadi cerita untuk kemudian divisualkan dalam bentuk komik. Itu terus menerus diproduksi karena laku,” ujar Iwan.

Sementara itu, Hikmat Darmawan membeberkan dasar teologis yang menjadi rujukan pembuatan komik siksa neraka. Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta tersebut mengatakan, konten komik dinukil dari kitab Durratun Nashihin.

“Kesahihan cerita dalam kitab tersebut banyak diperdebatkan, sebab banyak hadis yang dirujuk memiliki sanad yang sangat lemah,” ucap Hikmat.

Imajinasi pelukis maupun penulis cerita dalam komik tersebut, menurut Hikmat, tidak tunggal. Ia menduga, ada pengaruh mitologi dalam kepercayaan lain, yang mewarnai cerita-cerita komik siksa neraka.

Misalnya, kata dia, cerita soal lapisan neraka dan bentuk siksaan bagi manusia yang durhaka yang bisa ditemukan dalam mitologi China. Komikus Indonesia, menurutnya, juga dipengaruhi komikus Tionghoa yang banyak ditemukan pada awal 1950-an. Sayangnya, belum ada hipotesis yang kukuh mendukung asumsi ini.

Selain itu, pada periode yang sama, di Amerika Serikat juga tengah masif komik yang menampilkan gambar-gambar sadis. “Ada faktor EC Comics di Amerika era 1950 itu sampai juga ke Indonesia,” kata dia.

Komik karya Maulana Syamsuri terbitan Pustaka Agung. Terbitan terbaru komik bertema siksa neraka. Terbit pada 2015. /facebook.com/yuliani.sallam

Tak lagi digandrungi

Komik yang dikoleksi Iwan Gunawan umumnya ia dapat di Jakarta dan Bandung. Iwan hanya mengoleksi sekitar 10 edisi komik siksa neraka. Sebab, peredaran komik itu tak sebanyak komik lain, seperti komik karya Tatang S.

Menurut Iwan, masa kejayaan komik siksa neraka tak bertahan lama. Sejak 1990-an hingga 2000-an, merosot total. Sepanjang dua dekade terakhir, penerbitan dengan tema baru tidak terlihat.

Iwan sendiri mengaku kesulitan berburu komik siksa neraka yang terbit pada 1970-an, dan publikasi sebelumnya. Saat ini, yang banyak beredar di pasaran merupakan hasil produksi ulang dari edisi-edisi yang pernah terbit pada 1970-an.

Dihubungi secara terpisah, komikus Yudis Sutanto menilai, terjadi perubahan drastis kecenderungan penikmat komik pada generasi milenial. Generasi yang tumbuh seiring perkembangan teknologi internet ini, kata Yudis, lebih menggemari genre drama ketimbang genre agama, yang menampilkan sesuatu yang menyeramkan.

Meski begitu, komikus 101 Hantu Nusantara (2010) ini tak menampik, bisa saja komik siksa neraka kembali diterima dalam industri komik Indonesia, jika saja dikemas dengan gambar yang lebih baik dan alur cerita menarik.

"Pernah sih kepikiran mau bikin ulang, tapi ya harus ada izin dari kreatornya atau penerbitnya dulu. Cuma mungkin penerbitnya sekarang sudah enggak ada," katanya.

Sementara itu, Hikmat menolak bila komik siksa neraka dinilai sebagai komik yang paling digandrungi di masanya. Menurutnya, penggemarnya tak lebih dari sekadar ingin mengenang visual dari ancaman siksa-siksa di neraka.

“Komik surga negara itu fokus pada porno penyiksaan (torture porn). Itulah yang membuat dikenang banyak orang. Rata-rata yang dikenang rasa takut. Apakah itu mengubah perilaku. Mungkin iya, tapi pendekatan traumatik itu. Secara psikologi, perkembangannya tidak sehat juga,” ujarnya.