sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Nyanyian Akar Rumput, hadirkan kembali Wiji Thukul dalam gambar

Film itu mengambil puisi yang pernah ditulisnya sebagai judul: Nyanyian Akar Rumput.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Jumat, 10 Jan 2020 11:06 WIB
Nyanyian Akar Rumput, hadirkan kembali Wiji Thukul dalam gambar
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 24749
Dirawat 16802
Meninggal 1496
Sembuh 6240

Sementara anak Wiji Thukul, Fajar Merah, duduk tepat di bawah karikatur bapaknya. Ia menuturkan awal mula proses ia bersedia terlibat di film Nyanyian Akar Rumput.

Yuda mulanya menawarkan pembuatan film dokumenter perjalanan Merah Bercerita. Tanpa dinyana-nyana, alur cerita berangangsur-angsur masuk kepada sosok penyair itu lagi.

Takpelak, semakin membuatnya tidak mempunyai kesempatan untuk enghilangkan bayangan pria yang santer tersiar lenyap sejak 27 Juli 1998 dari dirinya.

"Akhirnya mungkin saya semakin tidak punya kesempatan untuk menghilangkan saya dari gambaran Wiji Thukul," kata dia

Kemunculan film itu, semakin menguatkan pandangan orang terkait dirinya yang memiliki hubungan dengan sang penyair.

Diakui olehnya, ia ingin "menghilangkan" Wiji Thukul karena sendari kecil tidak mengenalnya.

Dengan gamblang, Fajar mengatakan tidak suka disamakan dengan bapaknya karena pada dasarnya mereka adalah dua orang yang berbeda.

Dari sayup-sayup kabar yang dia dengar, bapaknya adalah orang yang gesit dan ceplas-ceplos. Sementara ia, memiliki sifat berkebalikan dari bapaknya.

Terlepas dari itu, pria kelahiran 23 Desember 1993 itu, tidak menampik ingin mengenal dan melepas rindu kepada Wiji Thukul. Melalui film Nyanyian Akar Rumput, diakuinya sedikit bisa membayar kerinduan.

"Bedanya, mungkin saya ada teman-teman yang memang sudah punya, maksudnya orang tuanya sudah meninggal dia bisa ke makam, lah aku ke mana? Ya udah di rumah saja," ujar dia.

Setali tiga uang, Yuda menyebut keterlibatan Fajar bersama grup musiknya karena memang berbicara tentang proses kreatif mereka dalam bermusik.

Hal itu, kata dia, karena dalam film dokumenter yang digarapnya juga merekam perjalanan Merah Bercerita dari panggung ke panggung, termasuk proses rekaman pertama.

Manusia memang acapkali luput, namun yang terlupa itu tetap dicatat sejarah—tertulis atau tidak sekalipun.

Nahasnya, saat ini banyak catatan sejarah tertulis yang hanya mencatat tindak tanduk "orang-orang besar" saja. Termasuk merekam ucapan Joko Widodo, pada 9 Juni 2014. Saat itu, mantan Wali Kota Solo berstatus sebagai calon presiden.

Kala itu, tak dipungkiri nama Jokowi melejit. Ia dielu-elukan rakyat banyak, termasuk korban dan aktivis HAM.

Berlatar belakang sipil, lebih kurang enam tahun yang lalu dia digadang-gadang dapat menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat.

Bukan tanpa sebab, harapan itu disematkan ke pundak Jokowi karena kompetitornya, Prabowo Subianto dianggap tak bisa diharapkan.

Gayung bersambut, saat itu pejabat yang akrab dengan blusukan menegaskan sikapnya terkait penghilangan paksa kepada Wiji Thukul.

Ia mengatakan, apa pun kondisinya, seniman yang dekat dengan rakyat kecil itu harus ditemukan. "Harus ditemukan. Harus jelas. Bisa ketemu hidup atau meninggal," begitu Jokowi berujar kepada jurnalis di Jalan Sukabumi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 9 Juni 2014.

Janji Jokowi itulah yang diutarakan Usman Hamid. Takpelak, memori yang terbatas ini kembali ke masa-masa itu.

Bersinggungan dengan karya Yuda, ia menilai dokumenter tersebut merupakan pengingat sekaligus penagih serangkaian kata yang pernah ke luar dari mulut Jokowi.

"Jadi saya kira karya Yuda ini menjadi pengingat janji itu dan penanggih janji," ujar Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid.

Berita Lainnya