sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bunda sedang stres? Cobalah berbicara dengan anak-anak

Stres memang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kota. Namun jangan sampai stres memperburuk kebiasaan anda di rumah

Alia Kirana
Alia Kirana Kamis, 19 Okt 2017 12:24 WIB
Bunda sedang stres? Cobalah berbicara dengan anak-anak

Anda mungkin sedang menjalani hari-hari yang sulit belakangan ini. Pekerjaan di kantor menumpuk, kondisi keuangan keluarga menipis, belum lagi hubungan dengan pasangan memburuk. 

Semua hal itu tentu memicu stres. Lantas, anda mungkin berpikir bahwa anak-anak belum cukup dewasa untuk mengetahui semua masalah tersebut, dan menyimpan semua masalah sendiri.

Padahal, menurut Stephanie Smith, seorang psikolog di Colorado, Amerika Serikat, anak justru tahu apa yang sedang terjadi. Anak-anak sangat peka akan suasana hati orang tua mereka.

Meski demikian, bukan berarti orang tua tidak boleh menunjukkan stres atau emosi negatif di depan anak. Orang tua hanya perlu sadar dan bijaksana dalam mengelola emosi mereka.

Orang tua juga perlu memahami bahwa anak tidak harus melulu melihat emosi bahagia dan tenang. Stres, kesedihan, frustrasi, dan emosi negatif lainnya merupakan bagian yang normal dari kehidupan. 

Anak-anak perlu mengetahui hal itu. Hanya saja, orang tua harus memikirkan cara yang tepat untuk menghadapi masa-masa penuh tekanan.

Stres yang muncul tanpa solusi bisa mulai mempengaruhi interaksi orang tua dengan anak, dan perasaan anak.

Anda mungkin telah meluangkan sedikit waktu untuk bermain dengan anak. Namun sesudah itu, stres tetap muncul.

Sponsored

Bahkan Anda mungkin tidak menaruh perhatian penuh kepada anak saat bermain dengan mereka. Stres juga berpotensi menciptakan kebiasaan keluarga yang tidak sehat. Contoh, anda tidak memiliki energi untuk memasak karena stres. Sehingga anda dan keluarga makan makanan cepat saji.

Periset bahkan telah menemukan bahwa anak-anak dari orang tua yang merasa stres karena masalah kesehatan, tekanan keuangan, atau masalah lainnya yakni sering makan makanan cepat saji, berolahraga lebih sedikit, dan cenderung mengalami obesitas.

Anda juga mungkin memberi contoh yang buruk kepada dalam menangani stres, seperti mengkonsumsi makanan secara berlebihan di depan televisi. Atau terus-menerus membenamkan diri dengan smartphone.

Agar kebiasaan buruk akibat stres tidak menular ke anak, orang tua perlu jujur kepada anak. Terkadang bagus juga untuk menyampaikan perasaan secara terbuka kepada anak. 

Anda bisa mulai olahraga di akhir pekan bersama anak, atau membaca buku sebelum tidur daripada menonton televisi sambil makan makanan cepat saji. Anak-anak tentu akan memperhatikan semua tindakan positif orang tua mereka dalam mengurangi stres.

Anda bahkan dapat meminta bantuan mereka. Agar dapat berkomunikasi dengan anak mengenai stres, Stephanie memberi tahu cara tepatnya.

Mulailah dialog seperti ini kepada anak: "Saya merasa mudah tersinggung hari ini karena saya mengalami hari yang berat di kantor. Apakah kamu ingin naik sepeda dengan saya setelah sarapan besok pagi? Itu sangat membantu saya untuk merasa lebih baik,"

Selain itu, Anda dapat mengatakan kepada anak-anak bahwa Anda sedang memerlukan waktu untuk membaca buku sendiri, atau melakukan lari pagi supaya merasa rileks.

Jika menghadapi stres dalam waktu yang cukup lama, Anda dapat mendiskusikan hal itu dengan anak.

Tentu diskusi tersebut disesuaikan dengan umur anak. Anda dapat menyakinkan anak bahwa apa yang anda lakukan adalah untuk membuat situasi menjadi lebih baik.

Jadi, anak-anak dapat memahami bahwa di dalam hidup manusia dapat melewati masa-masa sulit dengan baik.