logo alinea.id logo alinea.id

Panitia bom, penentu Ramadan dan lebaran zaman kolonial

Kini wewenang mengumumkan jatuhnya awal dan akhir Ramadan dipegang Kementerian Agama Republik Indonesia.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Kamis, 16 Mei 2019 03:04 WIB
Panitia bom, penentu Ramadan dan lebaran zaman kolonial

Kewenangan mengumumkan awal dan akhir Ramadan dipegang Kementerian Agama Republik Indonesia. Di era kolonial Belanda, pemegang wewenang otoritas tersebut adalah Hoofd Penghoeloe tingkat daerah.

Hoofd Penghoeloe saling berkoordinasi untuk membentuk Perhimpoenan Penghoeloe dan Pegawainya (PPDP) yang telah disertai pengurus besarnya (Hoofdbestuur).

Lukman Hakiem dalam buku Merawat Indonesia; Belajar dari Tokoh Peristiwa menulis, tugas dan tanggung jawab membunyikan bom diserahkan kepada panitia agar tidak disulut sembarangan.

“Tentu tidak semua kaum muslimin di masa itu membaca Berita Nahdlatoel Oelama. Radio masih merupakan barang mewah, televisi belum ada. Para pemangku kepentingan umat menyampaikan pengumuman penting itu melalui sebuah tanda. Di Jember, Jawa Timur, pengumuman tersebut disampaikan melalui alat tradisional yang mengeluarkan suara keras seperti suara bom,” tulis Lukman dikutip Alinea.id pada Rabu (15/5).

Suara bom, tulis Lukman, juga menjadi isyarat masuknya waktu berbuka puasa. Menurut Lukman, sidang itsbat yang digelar Kementerian Agama seolah hanya formalitas belaka. Sebab, kata Lukman, masing-masing organisasi masyarakat menggunakan perhitungannya sendiri yang tidak bisa digoyahkan.

Seperti halnya sekarang, di masa lalu pun panitia penentu hari awal dan akhir Ramadan tersandung polemik berjalan tak seirama.

“Adalah sebuah fakta terkenal bahwa permulaan ini tidak dirayakan pada hari yang sama di berbagai daerah, baik di Jawa maupun di luar Pulau Jawa. Sebaliknya, tidak jarang ketika Batavia merayakan awal Poeasa, Jawa Tengah telah melakukannya dan, misalnya, Jawa Timur masih harus mengikuti. Beberapa muslim yang berwibawa telah mencobanya sebelumnya mulai poeasa pada satu hari yang sama. Namun, semua upaya ini gagal,” tulis surat kabar Het niews van den dag voor Nederlandsch-Indie edisi 11 Oktober 1937.

Walaupun PPDP didirikan agar umat Islam seirama, tapi Hoofd Penghoeloe di tingkat daerah masih menggunakan perhitungannya sendiri. Sehingga, PPDP bersama sejumlah tokoh muslim terkemuka pun memutuskan untuk bekerja sama dengan Observatorium Meteorologi Batavia dalam menentukan awal dan akhir Ramadan.

Sponsored

“Dengan gagasan ini, pihak berwenang yang terlibat sepakat, sehingga awal Poeasa akan jatuh pada 5 November tahun ini (1937). Sehubungan dengan ini, bantuan otoritas resmi Mohammed diimbau untuk merayakan permulaan Poeasa pada hari itu dan akhirnya menyingkirkan masalah yang sulit ini,” tulis surat kabar Het niews van den dag voor Nederlandsch-Indie edisi 11 Oktober 1937.

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB