logo alinea.id logo alinea.id

Prostitusi artis dan skandal Titien Sumarni

Tenar dan membintangi banyak film pada 1950-an, lalu meninggal dunia dalam kemiskinan dan kesendirian.

Fandy Hutari
| Fandy Hutari Selasa, 08 Jan 2019 16:31 WIB
Prostitusi artis dan skandal Titien Sumarni

Artis AS menangis tersedu-sedu, saat membacakan permintaan maaf kepada publik, usai diperiksa sebagai saksi sekitar 25 jam di kantor Polda Jawa Timur, Minggu (6/1). Berbeda dengan AS, artis VA tampak menampakan wajah tenang kala membacakan permintaan maaf yang sama.

Kedua artis itu diciduk anggota Polda Jawa Timur di sebuah hotel di Surabaya, Sabtu (5/1). Mereka diduga terkait jaringan prostitusi artis daring.

Pemesan jasa VA disebut-sebut seorang pengusaha berinisial R. Sekali kencan, VA mematok Rp80 juta, sedangkan AS bertarif Rp25 juta.

Sebelumnya, pada Desember 2018 publik juga sempat dihebohkan dengan ditangkapnya narapidana korupsi Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan di sebuah hotel di Bandung, bersama artis muda FNJ.

Kisah prostitusi di kalangan artis bukan hal baru. Pada 2015 lalu, artis NM pernah ditangkap di kamar hotel, diduga terlibat prostitusi daring. Di tahun yang sama, ada artis AA yang ditangkap di sebuah hotel di Jakarta Selatan bersama seorang mucikari dari jaringan prostitusi artis.

Tarif kencan yang fantastis tentu hanya bisa dipenuhi orang-orang dari kalangan berduit, seperti pengusaha atau pejabat. Kisah artis “main mata” dengan pejabat atau pengusaha pun sudah ada sejak dahulu.

Bintang film terkenal

Titien Sumarni adalah bintang film tenar pada 1950-an. Dia menjadi contoh aktris yang pernah terlibat skandal dengan pejabat dan pengusaha di zamannya.

Menurut buku Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (1979), Titien diperkenalkan pegawai studio film Golden Arrow Harun Al Rasyid kepada sutradara Rd. Ariffin yang hendak membuat film. Dia lalu diajak bermain dalam film Seruni Laju (1951).

Titien menikah muda. Di usianya yang masih 16 tahun, dia dipersunting Moestari, seorang duda berusia 32 tahun, yang bekerja sebagai pegawai negeri di Jawatan Perekonomian Tasikmalaya. Selecta edisi 4 Juli 1966 menulis, orang penting yang mengizinkan Titien terjun ke dunia film adalah Moestari. Dunia gemerlap film, akhirnya malah membuat Titien lupa daratan.

Flyer film Sepandjang Malioboro (1951), salah satu film yang dibintangi Titien Sumarni. (Fandy Hutari/Alinea.id)

Awal kiprahnya di dunia film tak mulus. Titien pernah bermain dalam film-film produksi studio film raksasa Persari milik Djamaluddin Malik, seperti Pengorbanan (1952) dan Lagu Kenangan (1953).

Akan tetapi, menurut Rd. Lingga Wisjnu dalam bukunya Rahasia Hidup R.A. Titin Sumarni (1955), Titien dicoret dari Persari lantaran bermain sandiwara yang disponsori rokok keretek. Meski akhirnya, jasa Titien kembali dipakai Persari beberapa tahun kemudian.

Nama Titien mulai terkenal pascamembintangi film Putri Solo (1953), produksi Bintang Surabaja. Kian lama pamor perempuan kelahiran 28 Desember 1932 ini di layar lebar makin mengkilap.

Dia pernah dinobatkan sebagai Ratu Layar Perak, melalui angket yang diadakan majalah Dunia Film dan Kentjana pada 1954. Di tahun yang sama, dia mendirikan studio film Titien Sumarni Motion Pictures.

Studio film ini menghasilkan Putri dari Medan (1954), Mertua Sinting (1954), Tengah Malam (1954), Sampah (1955), dan Saidjah Putri Pantai (1956). Selain bertindak sebagai produser, seluruh film ini dibintangi dirinya.

Meski begitu, dia tetap berperan di beberapa studio film lainnya. Termasuk bermain dalam Lewat Djam Malam (1954), sebuah film legendaris produksi gabungan Perfini pimpinan Usmar Ismail dan Persari pimpinan Djamaluddin Malik.

Di puncak kariernya, Titien memiliki banyak penggemar, terutama laki-laki. Selain aktingnya, Titien terkenal cantik, dengan ciri khas tahi lalat di kiri atas bibirnya. Bahkan, Presiden Sukarno pun menyukai akting Titien.

Sepanjang kariernya dari 1951 hingga 1956, dia bermain di 34 judul film. Film terakhir yang dibintanginya berjudul Djandjiku (1956).

Skandal seks

Pada 1959, diberitakan Varia Nomor 84, 25 November 1959, Titien tengah menyiapkan sebuah film untuk Titien Sumarni Pictures. Bahkan, dia sudah melakukan pendekatan dengan dua orang sutradara jempolan, yakni Lilik Sudjio dan Turino Djunaidi. Film itu disebut-sebut bertema keagamaan.

Namun, tampaknya film ini tak pernah jadi diproduksi. Sebab, Selecta Nomor 250, 4 Juli 1966, melaporkan pada 7 Agustus 1959 sore, Titien berjalan kaki tanpa alas seperti orang linglung di Kota Bandung.

Berduyun-duyun anak-anak hingga orang dewasa mengikuti Titien berjalan. Anak-anak meneriakinya “orang gila”.

Di antara Jalan Raya Barat dan Jalan Garuda, salah seorang petugas kepolisian menghentikan langkahnya. Polisi ini mengenali Titien, yang bintang film terkenal dari ibu kota. Lalu, Titien ditolong. Anggota kepolisian itu meminta bantuan seorang supir truk untuk mengantar sang aktris ke rumah familinya.

Titien berjalan-jalan tanpa alas kaki dan pakaian yang kumal, bukan tanpa alasan. Dia sedang kecewa.

Titien Sumarni dikerubungi penggemarnya saat berkunjung ke Medan. (Film Varia Nomor 7 Januari 1956).

“Titien bermaksud ingin menemui seorang lelaki yang dikatakannya pernah mengadakan hubungan, hingga lahir seorang anak perempuan,” tulis Selecta, 4 Juli 1966.

Sang aktris cantik ingin meminta tanggung jawab laki-laki itu, tapi gagal. Lantas, dia depresi dan berjalan tanpa arah di Kota Bandung.

Laki-laki yang dituntut tanggung jawab Titien bukan orang sembarangan. Selecta edisi 4 Juli 1966 menyebut, lelaki itu bernama Mohammad Jahja Ali, seorang pemborong kaliber besar di Kota Kembang.

Setelah namanya melambung sebagai bintang film, Titien terlibat sejumlah skandal. Selecta Nomor 247, 13 Juni 1966 menyebutkan, ada nama Saerang (pengusaha kopra asal Minahasa), Bupati Jombang, dan beberapa pejabat Bandung yang diduga “main mata” dengan Titien, usai berpisah dengan Moestari.

Titien memiliki lima orang putra. Salah satunya Tommy Sjarief, anak dia dan Moestari. Selebihnya, lahir dari ayah yang berbeda-beda. Harian Berita Yudha edisi Jawa Barat pernah membeberkan wawancara Titien Sumarni sebelum meninggal dunia, soal ayah dari anak-anaknya.

Titien Sumarni dan Djamaluddin Malik, berlebaran dengan Presiden Sukarno pada 1955. (Repro buku Rahasia Hidup RA Titin Sumarni karya Lingga Wisjnu).

Menurut Selecta Nomor 247, 13 Juni 1966 hasil wawancara yang ditulis Berita Yudha edisi 30 April 1966 itu menyebutkan, anak kedua dan ketiga Titien bernama Boyke dan Fatah merupakan hasil hubungannya dengan R. Enoch Danubrata.

Enoch bukan orang main-main. Dia adalah mantan Kepala Polisi Komisariat Jawa Barat (sekarang Kapolda), berpangkat akhir Brigjen Polisi. Dua anak lainnya, tak tahu siapa ayahnya.

Disebutnya nama Enoch tentu menggemparkan kala itu. Dia menyanggah, dengan siaran pers melalui penerangan Komdak VIII/Jawa Barat. Enoch membantah keras pernyataan Titien dan mengatakan tak pernah kawin dengan aktris rupawan tersebut.

Enoch kemudian menambahkan sanggahannya dalam siaran pers dari Pendak VIII Jawa Barat. Dalam siaran pers itu, dia menjelaskan, pada 1959 Titien memang pernah terlibat dalam sebuah skandal seks dengan sejumlah pejabat tinggi di Bandung. Lalu, masih mengutip Selecta edisi 13 Juni 1966, demi menyelamatkan Titien, persoalan skandal seks itu diambilalih kepolisian.

Kebetulan saat itu Enoch masih menjabat Kepala Polisi Komisariat Jawa Barat. Lalu, menurut pengakuan Enoch, tenaga Titien dimanfaatkan oleh kepolisian sebagai informan lepas untuk peristiwa khusus.

“Dalam hubungan dengan dipakainya tenaga Titien itu bukan berarti saya telah mengawininya,” kata Enoch, seperti dikutip Selecta,13 Juni 1966.

Enoch berdalih, Titien pernah menyalahgunakan namanya. Lalu, dia dipecat. “Dan mungkin karena sakit hati akhirnya ia tak segan-segan membuat sensasi mengotori nama saya,” ujar Enoch.

Skandal seks Titien Sumarni dengan sejumlah petinggi dan polisi di Kota Bandung itu, hingga kini masih menjadi misteri. Kasusnya tenggelam, seiring kematiannya yang tragis.

Mati diracun?

Selecta Nomor 250, 4 Juli 1966 melaporkan, setelah linglung berjalan kaki di Kota Bandung, Titien kemudian dirawat seorang tukang becak di Cianjur dalam keadaan sakit parah dan miskin. Tak lama di sana, dia diboyong ke Bandung, lalu diserahkan ke seorang dukun klenik bernama Mamah Atjeng untuk dirawat.

Sesungguhnya, pada medio 1950-an, Titien pernah mengalami sakit yang juga parah. Ketika dirinya masih berada di puncak karier, menurut buku Rahasia Hidup R.A. Titin Sumarni karya Lingga Wisjnu, Titien diguna-guna orang. Dirinya pernah mengeluh sakit perut, hingga muntah darah. Usai dijampi-jampi oleh seorang dukun dari Tasikmalaya, dari perutnya keluar sebilah bambu sepanjang sekitar 10 cm.

Titien Sumarni sempat menjadi ratu dunia layar lebar Indonesia pada 1950-an. (Repro buku Rahasia Hidup RA Titin Sumarni karya Lingga Wisjnu).

Ketenaran Titien saat itu mungkin membuat beberapa saingannya di dunia film iri. Tapi, penyakit dan akhir hidup Titien lebih pedih ketimbang diguna-guna.

Dua bulan tinggal di rumah Mamah Atjeng, Titien kemudian ditemukan seorang wartawan bernama Hajat Tatos Kusuma. Lalu, dibantu seorang perempuan bernama Sri Budijono, Titien dilarikan ke Rumah Sakit Advent.

Pada 13 Mei 1966 malam, Titien meninggal dunia. Ada kejanggalan dalam kematian Titien. Seorang wartawan Berita Yudha, Hajat, yang menemani Titien hingga akhir hayat menyatakan, aktris cantik itu wafat bukan karena penyakit yang dideritanya.

Di dalam Minggu Pagi edisi 15 Mei 1966, Dokter Benjamin K. Supit yang merawat Titien mengatakan, selama seminggu ada di RS Advent, kondisi Titien berangsur-angsur membaik. Bahkan sudah bisa berjalan-jalan di sekitar kamarnya.

Titien Sumarni di Rumah Sakit Advent, Bandung, sebelum meninggal dunia. (Selecta No. 247 13 Juni 1966)

Akan tetapi, sebelumnya Titien sempat makan makanan kiriman dari luar. Padahal, Supit sudah berulangkali mengingatkan Titien untuk tak makan sembarangan, yang tak terkontrol pihak rumah sakit.

“Dari penyelidikan dalam usaha menyelamatkan Titien Sumarni, akhirnya ditemukan suatu makanan yang diduga menyebabkan keracunan Titien. Makanan tersebut ternyata ketan hitam yang dikirim seseorang tidak dikenal,” tulis Minggu Pagi, 15 Mei 1966.

Anehnya, belum 12 jam Supit mengatakan hal itu, dia buru-buru meralat. Menurut Selecta edisi 13 Juni 1966, ralat itu dilakukan usai datang AKP-1 Moh. Saleh dari Dinas Reserse Kriminil AKRI Kobes Bandung.

Saleh menyelidiki keterangan dokter. Lantas, tak lama, keluar pengumuman resmi yang secara tak langsung meralat keterangan dokter.

“Sebab-sebab kematian Titien Sumarni bukan karena keracunan, tapi akibat komplikasi antara penyakit lama yang dideritanya dengan serangan buang air terus menerus. Sehingga menyebabkan terlalu banyak air keluar dari tubuh dan ini mengakibatkan sel-sel tidak bekerja sebagaimana biasa, serta pernapasannya yang sangat diperlukan untuk memulihkan tenaga pun tidak lancar, sebab paru-parunya sudah berlubang,” demikian keterangan resmi pihak kepolisian dan dokter RS Advent, seperti dikutip oleh Selecta, 13 Juni 1966.

Keterangan resmi itupun mengakhiri polemik kematian Titien. Perkaranya ditutup.

Titien wafat dalam usia 38 tahun, mengalami kesepian dan miskin di rumah sakit. Tanpa kelima putranya. Tanpa seorang pun lelaki yang pernah berhubungan dengannya.