logo alinea.id logo alinea.id

Rumah Merah Putih: Nasionalisme anak-anak perbatasan

Kisah Varel dan Oscar yang tinggal di pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) atau perbatasan Indonesia.

Armidis
Armidis Minggu, 23 Jun 2019 01:05 WIB
Rumah Merah Putih: Nasionalisme anak-anak perbatasan

Varel (Petrick Rumlaklak) dan Oscar (Amori de Purivicacao) tinggal di pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT). Bersama beberapa teman satu sekolah, mereka berdua berangkat ke kantor desa untuk mengambil jatah dua kaleng cat warna merah putih yang dibagikan panitia perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia untuk warga.

Varel bersama kawan-kawannya sempat bermain di bawah di sebuah pohon rindang sebelum pulang ke rumah. Dua kaleng cat yang ditunggu orang tuanya untuk mengecat pagar rumah hilang. Kepada Ibunya (Safira) dan Ayahnya (Yama), Varel berkilah bahwa pihak panitia kehabisan cat sehingga akan kembali dibagikan menjelang pelaksanaan perayaan kemerdeakaan RI.

Begitulah adegan film Rumah Merah Putih itu dimulai. Ide cerita yang sederhana itu mengantarkan Varel bersama teman-temannya ke dalam petualangan, nasionalisme, dan persahabatan. Bagi masyarakat perkotaan yang mudah mengakses segala hal, dua kaleng cat bukan sesuatu yang menarik diceritakan. Tapi cerita itu menjadi berbeda bila terjadi di daerah pedalaman.

Petualangan anak kampung

Oscar dan Varel serta kawan-kawannya. / Youtube

Petualangan dimulai dengan adegan Anton dan David Silalahi yang menanyakan ketersediaan cat warna merah putih ke pihak panitia. Salah satu panitia perayaan 17 Agustus Om Cia (Dicky Tatipikalawan) mengatakan cat warna merah putih yang disiapkan panitia habis.

Adegan meloncat ke dua sosok utama, yakni Varel dan Oscar. Akting Varel dan Oscar tampak solid sejak film disutradarai oleh Ari Sihasale itu dimulai. Kekompakan keduanya terlihat saat mereka bahu-membahu membantu masyarakat desa Silawan memperoleh air bersih dengan imbalan uang. Uang yang terkumpul digunakan untuk ongkos dan membeli cat di kota, sebab di desanya tidak ada toko yang menjual cat yang inginkan.

Untuk menambah uang yang sudah terkumpul, Varel dan Oscar menjual ayam jantan miliknya ke salah satu penduduk desa. Alasan mereka, tak ingin mengecewakan kedua orang tua Varel agar bisa mengecat pagar rumahnya dengan warna bendera.

Sponsored

Pertualangan semakin seru saat cat yang dibelikan Varel di kota salah warna. Menjelang sore, Varel dan Oscar terpaksa kembali ke kota untuk menukar cat warna coklat itu. Sayangnya, toko tempat mereka membeli sudah tutup. Kwitansi sebagai bukti jual belinya juga sudah dibuang Varel ke tempat sampah di pinggir jalan.

Varel terpaksa membongkar tempat sampah untuk menemukan kwitansi pembelian cat. Namun, mereka menemukan sebuah dompet lengkap dengan kartu identitas pemiliknya. Karena sikap jujur yang dimiliki kedua anak ini, mereka lalu mengembalikan dompet tersebutkepada pemiliknya.

Celakanya, kedua kehabisan uang untuk ongkos pulang. Mereka terpaksa tidur di emperan ruko menunggu hari siang. Cat warna coklat yang dimilikinya terpaksa dijual untuk mencari ongkos pulang ke desa.

Ujian persahabatan

Oscar sampai di puncak pinang. / Youtube

Setalah usaha mencari cat ke kota kandas, Varel dan Oskar mendapat informasi bahwa cat yang dicarinya dijadikan hadiah perlombaan panjat pinang. Bersama timnya, Varel menyusun rencana agar bisa memenangkan perlombaan dengan harapan bisa mendapatkan cat berwarna merah putih.

Tim mereka berhasil memuncaki batang pinang, tapi mesti dibayar dengan harga mahal. Oscar terjatuh saat mengambil hadiah-hadiah yang digantung  pada kayu yang melingkar di atas pohon tersebut.

Akibat kecelakaan itu, Oscar mengalami kelumpuhan. Ayah Oscar sudah meninggal, sementara ibunya menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Satu-satunya keluarga dekat Oscar ialah Maria Lopez (Pevita Pearce). Dia yang merawat Oscar sejak kecil. 

Atas saran temannya, Maria berencana akan membawa Oskar ke Surabaya, namun usaha itu terkendala biaya. Sempat juga akan dibawa ke Dili (Timur Leste), namun karena Oscar belum memiliki paspor, niat untuk mengobati Oscar terpaksa dibatalkan.

Di tengah kebingungan teman dan keluarga  soal biaya, aksi Varel memanjat tiang bendera menjadi penyelamat bagi Oscar. Awalnya, sejumlah orang yang hadir dalam upacara bendera pada 17 Agustus risau lantaran bendera tidak bisa dikibarkan. Ujung tali pengikat bendera terputus di bagian atas tiang. Dengan piawai, Varel kemudian memanjat dan mengambil tali untuk diikat kembali ke bendera.

Pesan moral dan akhir bahagia

Ari Sihasale mengarahkan pemain Rumah Merah Putih. / Instagram

Rumah Merah Putih sarat akan pesan-pesan bijak, khas film garapan Alenia lainnya. Aksi heroik Varel viral di media sosial. Berkat aksi itu pula, Gubernur NTT lewat utusannya mengapresiasi aksi Varel dan berjanji akan mengabulkan permintaan Varel. Sebagai orang yang setia kawan, kepada utusan pemerintah itu, Varel meminta agar sahabat karibnya yang tengah terbaring sakit bisa mendapat pengobatan.

Film Rumah Merah Putih sejatinya bercerita tentang kisah patriotisme dan nasionalisme warga atau anak pedalaman. Akan tetapi, kisah persahabatan antara Varel dan Oscar lebih dominan ketimbang kisah nasionalisme.

Dalam film ini, Ari Sihasal tidak banyak mengeksplorasi kondisi sosial ekonomi pembangunan yang kontras. Tidak ada ironi kehidupan warga pedalaman selain kesulitan air bersah yang berhasil ditonjolkan dengan utuh. 

Akibatnya, klimaks film ini tak terasa menegangkan. Padahal kenyataan-kenyataan yang timpang di NTT bisa meneguhkan ide utama soal nasionalisme anak-anak di pedalaman menjadi lebih bermakna.

Di sisi lain, dialog Ibu Varel tentang keberadaan orang tua Oscar yang terpaksa merantau ke Hongkong seharusnya bisa menjadi pembuka untuk menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat perbatasan. 

Untung saja, eksploitasi NTT yang indah dengan pemandangan perbukitan yang indah mampu menutup keingintahuan penonton tentang daerah perbatasan.

Keberagaman Indonesia juga menjadi sorotan. Peneguhan identitas ke-Indonesiaan dari bagian awal tampak mendominasi. Di bagian awal, masing-masing menyebutkan nama sewaktu kaleng cat Varel hilang. Temannya langsung mengambil nama yang diletakkan panitia di dalam kantong kresek masing-masing penerima. 

“David Silalahi, Ibu Kupang, Bapak Medan, dan saya Indonesia,” ujarnya membacakan kertas. “yang penting kita Indonesia,” kata Varel. Bahkan sisipan kata “saya Indonesia,” sempat beberapa kali diulang dan terkesan membosankan.

Seperti laiknya film-film lokal, petualangan bocah-bocah pedalaman NTT ditutup dengan happy ending. Oscar yang sempat mengalami kelumpuhan kembali sehat setelah mengalami pengobatan selama tiga bulan di Surabaya.

starstarstarstarstar2

Banyak pengulangan cerita dan dialog dalam film.