logo alinea.id logo alinea.id

Say I Love You: Mengejar mimpi di sekolah 'kandang ayam' 

Film inspiratif yang diangkat dari kisah nyata ini telah tayang di bioskop sejak pekan lalu.

Armidis
Armidis Senin, 08 Jul 2019 02:10 WIB
Say I Love You: Mengejar mimpi di sekolah 'kandang ayam' 

Sekolah Menengah Atas (SMA) Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Batu, Malang, Jawa Timur, sebenarnya tak punya persyaratan ketat dalam menerima calon siswa. Namun, tak semua orang bisa masuk ke sekolah serba gratis itu. Hanya mereka yang berasal dari kalangan yatim dan kalangan papa yang boleh mengenyam pendidikan di sekolah 'kandang ayam' itu.

Di sekolah itulah, Sheren--yang diperankan Dinda Hauw--bertemu Sayydah (Rachel Amanda). Yatim piatu asal Madiun itu terpaksa mengenyam bangku pendidikan di SPI lantaran keterbatasan biaya. Tak jauh berbeda, Sayydah dipaksa ibu tirinya bersekolah di SPI karena alasan ekonomi. 

Meskipun sama-sama miskin, keduanya adalah 'permata' bagi sekolah yang dirintis Julianto Eka Putra (Verdi Sulaiman) alias Koh Jul itu. Tak seperti mayoritas murid SPI yang nakal dan hanya bersekolah karena 'kewajiban', Sheren dan Sayydah masih punya minat belajar yang menggebu-gebu. 

Bagi kaum papa, SPI sebenarnya tergolong sekolah mewah. Selain tak perlu membayar biaya pendaftaran, asalkan mau mengisi bangku sekolah, setiap siswa berhak mendapatkan jatah makan dan tinggal di asrama. Uang saku secukupnya pun disediakan. 

Namun demikian, beragam fasilitas itu ternyata tak membuat para siswa terlecut untuk lebih rajin belajar. Bahkan, kenakalan mayoritas murid SPI kian menjadi-jadi. Para murid pria, salah satunya Robert (Alvaro Maldini), bahkan tak segan-segan teler di lingkungan sekolah saat jam belajar. 

Kehidupan siswa-siswi di SPI itulah yang kemudian menjadi latar belakang film Say I Love You garapan sutradara Faozan Rizal. Film yang diangkat dari kisah nyata tersebut sudah mulai tayang di bioskop Indonesia sejak pekan lalu. 

Verdi Sulaiman memerankan Julianto Eka Putra alias Koh Jul. Foto tangkapan layar Youtube.

Masa transformasi

Sponsored

Inti cerita dalam film tersebut bisa dikata bermula dari Pak Didik (Butet Kertaradjasa). Meskipun tercatat sebagai guru yang paling senior dan paling tahan banting di SPI, Pak Didik memutuskan berhenti mengajar lantaran tak tahan menghadapi ulah anak-anak didiknya. 

Sempat ditahan oleh Koh Jul, Pak Didik yang kadung putus asa dengan kelakuan para murid berkukuh untuk meninggalkan sekolah. Keputusan Pak Didik untuk resign itu kemudian membuat Koh Jul tergugah untuk terjun langsung mengelola sekolah yang ia rintis.

Kehadiran Koh Jul di sekolah merupakan titik awal keberhasilan SMA SPI. Koh Jul yang berlatar belakang pengusaha sukses di Surabaya menawarkan metode pembelajaran yang berbeda. Meskipun awalnya sulit, Koh Jul terus berupaya menularkan nilai-nilai positif bagi siswa SPI.

Di depan para siswa, Koh Jul menyerukan big dream, big hope, big spirit, big action, and big success. Ajimat Koh Jul itu bukan sekadar jargon kosong. Ia mencoba mentransformasikan ke dalam kegiatan belajar-mengajar.

Lambat laun, pola pengajaran klasik pun mulai ditinggal. Proses belajar tidak lagi sebatas teori melainkan mengajak pelajar masuk ke dalam praktik kehidupan yang lebih nyata. Untuk menginsipirasi para siswa, Koh Jul misalnya memita para siswa menuliskan mimpi-mimpi besarnya ke dalam buku harian.

Tak hanya itu, relasi yang kaku antara guru dan murid diubah. Selain sebagai pendidik dan pengayom, Koh Jul juga kerap menempatkan diri sebagai teman bagi para siswa. 

 

Tak hanya sekadar manis di mulut, Koh Jul juga rajin menampilkan teladan lewat aksi-aksi nyata. Di dalam salah satu adegan misalnya, Koh Jul ditampilkan sedang menyikat toilet sekolah yang kumuh. 

Siswa yang melihat tingkah laku Koh Jul kemudian menawarkan diri untuk menggantikannya. "Biar kami saja, Pak,” kata salah seorang siswa.

“Apa saya kelihatan seperti orang sakit?,” tanya Koh Jul .

Siswa itu menjawab tidak. 

"Kalau tidak sakit, kenapa saya tidak boleh bekerja?" tanya dia lagi sambil meneruskan pekerjaannya. 

Siswa yang sejak awal hanya berdiri di muka pintu toilet itu kemudian berinisiatif mencari sikat dan membersihkan seluruh bagian toilet siswa.

Di bawah kendali Koh Jul, Sheren dan Sayydah pun seolah menemukan momentum untuk mengejar mimpi-mimpinya. Sheren punya mimpi memiliki gedung pertunjukan seni dan berkeliling dunia merasa mendapat sokongan moral dari Koh Jul. Begitu pula dengan Sayydah.

Tanpa sepengetahuan Koh Jul, Sheren dan Sayydah nekad mengikuti lomba karya ilmiah se-Jawa Timur. Meskipun sempat diwarnai drama karena sulitnya mencari anggota tim, Sheren dan Sayydah sukses menyabet gelar juara dalam lomba itu. 

Bagi Sheren dan Sayydah, SPI bukan lagi sekadar sekolah biasa. Lambat laun, SPI menjelma bak rumah mereka sendiri. Demi menjaga keindahan rumah baru itu, mereka pun bahu-membahu untuk mengubah citra sekolah 'kandang ayam' menjadi sekolah berprestasi.

Meskipun bertema mengejar mimpi, Say I Love juga tak kekurangan romansa. Di film ini, Sheren misalnya, jatuh hati pada Robert yang urakan. Sayangnya, kisah cinta mereka terganjal aturan keras dari Koh Jul. 

Murid-murid Selamat Pagi indonesia sedang dihukum. Foto screenshot Youtube.

Kritik pendidikan 

Dari sisi tema, film yang diproduksi Multi Buana Kreasindo (MBK) itu hampir sama dengan Laskar Pelangi yang diangkat dari novel garapan Andre Hirata. Seperti Laskar Pelangi, Say I Love You juga menunjukkan bahwa mimpi bisa diraih asalkan mau bekerja keras. 

Film ini sekaligus kritik bagi pendidikan Indonesia yang cenderung hanya menumpuk informasi dalam otak siswa, namun kerap tak mampu menggugah daya kritis serta menumbuhkan empati dan tanggung jawab di kalangan peserta didik. 

Berbasis kisah nyata, film berdurasi 1 jam 46 menit itu terasa ampuh sebagai media untuk menyebar inspirasi. Apalagi, sejumlah tokoh dalam film Say I Love You kini memang sukses menjalani kehidupan masing-masing.