sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

RSCM: Sebagian besar pasien anak meninggal karena Covid miliki komorbid

Penelitian tersebut dilakukan pada periode Maret-Oktober 2020 dengan meneliti 490 pasien anak yang dirawat karena Covid-19.

Hermansah
Hermansah Sabtu, 05 Jun 2021 19:30 WIB
RSCM: Sebagian besar pasien anak meninggal karena Covid miliki komorbid

Studi yang dilakukan tim Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, menemukan bahwa pasien anak yang terinfeksi Covid-19 berisiko fatalitas tinggi. Penelitian tersebut dilakukan pada periode Maret-Oktober 2020 dengan meneliti 490 pasien anak yang dirawat karena Covid-19.

Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa 40% di antaranya memiliki tingkat fatalitas tinggi. Hasil penelitian ini juga telah diterbitkan dalam International Journal of Infectious Diseases dengan judul 'Mortality in children with positive SARS CoV-2 polymerase chain reaction test: Lessons learned from a tertiary referral hospital in Indonesia’.

“Sebagian besar pasien anak yang meninggal memiliki komorbid. Umumnya memiliki lebih dari satu komorbid. Kebanyakan yang dominan adalah pasien dengan gagal ginjal, kemudian pasien dengan keganasan,” ujar peneliti utama riset Rismala Dewi, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/6).

Namun Guru Besar FK Unpad dan dokter spesialis anak Cissy Kartasasmita, dalam kesempatan terpisah mengatakan, menurut referensi jurnal medis terpercaya yang ada, risiko anak untuk terinfeksi dan sakit akibat Covid-19 sangat rendah. Kalaupun tertular tidak bergejala ataupun pada umumnya ringan.

Meski begitu, Cissy menyebutkan tidak menutup kemungkinan kalau pasien anak ada yang bergejala berat, masuk ICU, hingga sampai meninggal dunia akibat Covid-19.

“Biasanya karena memiliki penyakit lain sebelumnya seperti komorbid atau kurang gizi. Fatalitas di negara lain sebenarnya cukup rendah meski dalam hasil studi di Indonesia kita tinggi,” ujarnya.

Pernyataan Cissy ini mengacu salah satunya pada jurnal medis berjudul Children and Adolescents With SARS-CoV-2 Infection, yang menunjukkan bahwa saat terinfeksi Covid-19, anak-anak tidak menunjukkan gejala (asymptomatic) atau bergejala ringan.

Jurnal tersebut menunjukkan dari 203 pasien anak yang tertular Covid-19, 54,7% tidak memperlihatkan gejala, hanya 26,1% saja yang perlu perawatan akibat Covid-19, dan yang paling banyak dirawat adalah bayi berusia kurang dari satu tahun yaitu 19,5% dari total kasus.

Sponsored

Hal lain yang penting untuk diketahui dari penelitian ini adalah, orang dewasa berperan krusial dalam penularan virus ini kepada anak-anak, sementara anak-anak menularkan ke sesamanya dalam level yang moderat. Kecenderungan level penularan yang tinggi juga tergantung dari usia mereka.

Sementara jurnal medis lain dari RSUD Mataram, NTB dengan judul Characteristics and Outcomes of Children with Covid-19 in West Nusa Tenggara Province, Indonesia yang menyebutkan bahwa 
fatalitas kasus Covid-19 pada anak, karena terlambatnya datang ke pelayanan kesehatan, adanya penyakit lain, dan akses ke pelayanan kesehatan yang sulit.

Meski data-data menunjukkan kasus Covid-19 pada anak biasanya tidak bergejala, orang tua perlu terus menjaga anak-anak mereka agar tidak tertular Covid-19. Khawatirnya apabila anak-anak dengan penyakit penyerta seperti jantung, ginjal, TBC, asma, memperburuk kondisinya apabila tertular Covid-19.

“Protokol kesehatan harus dijalankan dengan ketat untuk menjaga anak-anak tidak tertular Covid-19. Orang tua harus berperan dengan mengajarkan anak-anak mereka cara menjaga diri dengan baik. Perlu diberikan contoh seperti misalnya, tidak dibawa ke kerumunan seperti ke pusat perbelanjaan, piknik, atau ke restoran yang banyak orangnya,” jelas Cissy.

Selain itu, Cissy juga menekankan agar terus mempertahankan daya tahan tubuh anak-anak dengan mencukupi kebutuhan makanan bergizi seimbang, minum air putih yang cukup, istirahat yang cukup, olahraga secara teratur dan cek serta lengkapi imunisasinya.

“Kalau perlu siapkan jadwal kegiatan harian untuk anak usia sekolah dasar. Kalau sudah remaja,  kontrol dan tanyakan kegiatan hariannya, ini penting untuk mempersiapkan mereka saat nanti pembelajaran tatap muka dibuka kembali, agar disiplin protokol kesehatan dari rumah sampai sekolah nanti,” tutup Cissy.

Berita Lainnya