logo alinea.id logo alinea.id

Swing Kids: Usaha mendobrak sekat ideologi

Mungkinkah perang terhindarkan dalam sejarah peradaban, andai manusia bisa hidup tanpa ideologi?

Purnama Ayu Rizky Sabtu, 26 Jan 2019 18:01 WIB
Swing Kids: Usaha mendobrak sekat ideologi

Di dunia ini, berapa banyak manusia yang kehilangan orang tercintanya akibat perbedaan ideologi?

Dalam bukunya What Every Person Should Know About War (2003), Chris Hedges menghimpun lusinan kerugian akibat perang di dunia, dalam kurun 1900 hingga 2000-an.

Perang Dunia I menewaskan 62 juta warga sipil, Perang Dunia II merenggut 34 juta nyawa. Di Korea Utara, 1 juta nyawa melayang, di Korea Selatan ratusan ribu orang meninggal dunia. Hal ini belum termasuk dengan dampak lainnya, seperti pemerkosaan, kelaparan, trauma, dan kebangkrutan negara.

Melihat data itu, rasanya relatif sulit menemukan wajah kemanusiaan apapun dalam perang. Perang sesungguhnya tak perlu terjadi. Apalagi bila dalih utamanya hanya lantaran berbeda ideologi.

Premis inilah yang ditawarkan sutradara asal Korea Selatan Kang Hyeong-Cheol dalam film terbarunya, Swing Kids (2018).

Perang ideologi

Film berdurasi 134 menit ini berlatar sebuah kamp tawanan perang di Pulau Geojo, Korea pada 1951 hingga 1953. Ketika itu, Perang Korea sedang bising-bisingnya, seiring dengan Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

173 ribu militer Korea bagian utara dan China dijebloskan ke kamp itu, dengan pengawasan superketat sekutu Korea Selatan, militer Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, politik intervensi Harry S Truman dengan “kiri” sebagai ancaman, memang sedang gencar dikampanyekan.

Film ini disutradarai sutradara asal Korea Selatan Kang Hyeong-Cheol. (Imdb.com).

Tak heran bila Amerika Serikat berada di garda depan memerangi Korea Utara, yang memegang teguh ideologi komunis.

Sebaliknya, kebencian sudah kadung mendarah daging dalam diri tentara Korea Utara, terhadap negara tetangganya, Korea Selatan. Korea Utara mencurigai Korea Selatan sudah terpapar liberalisme, yang menyesatkan. Gesekan negara bersaudara itupun makin tak terelakan.

Mulanya, kamp tahanan ini sengaja dibuat untuk menertibkan para perusuh komunis yang bisa saja menggoyang liberalisme. Hal ini sekaligus menjadi lokasi repatriasi—pemulangan kembali pemberontak ke negara asal.

Yang menarik, dan tampaknya jadi pesan yang ditandai tebal oleh sutradara, film ini berusaha menampilkan wajah lain dari perang. Komandan kamp Amerika Serikat Brigjen Roberts (Ross Kettle) berusaha membuat kamp yang kerap dicap negatif karena banyak kerusuhan, menjadi lebih humanis.

Caranya, dengan meminta bantuan dari tentara kulit hitam korban perundungan, Sersan M. Jackson (Jared Grimes), yang lihai menari tap. Dia didapuk untuk mengumpulkan para tawanan, agar atraksi tari nan ceria dan membahagiakan, bisa dipertunjukkan di depan jurnalis Amerika Serikat yang datang bertandang.

Cinta bersemi dari aplikasi

Cinta bersemi dari aplikasi

Jumat, 15 Feb 2019 12:59 WIB