Pernah membuka laptop untuk mengerjakan sesuatu, lalu membalas chat, kemudian kembali ke pekerjaan utama? Kita mungkin merasa sedang menyelesaikan beberapa hal sekaligus. Padahal, otak tidak selalu benar-benar mengerjakan semuanya dalam waktu yang sama.
Ketika beberapa aktivitas membutuhkan perhatian, otak justru sering kali berpindah fokus dari satu tugas ke tugas lainnya. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi ketika kita merasa sedang multitasking? Berikut penjelasan lebih lanjut, dilansir dari National Library of Medicine (20/9).
Otak Tidak Benar-Benar Melakukan Multitasking
Multitasking sering dipahami sebagai kemampuan mengerjakan beberapa pekerjaan secara bersamaan. Namun, ketika dua tugas tersebut sama-sama membutuhkan perhatian, otak tidak selalu dapat memproses keduanya secara penuh dan bersamaan.
American Psychological Association (20/9) menjelaskan bahwa yang terjadi bisa berupa task switching, yaitu berpindah perhatian dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.
Misalnya, ketika kita sedang mengerjakan tugas rumah, kemudian muncul notifikasi pesan. Kita akan berhenti membaca dan membalas pesan tersebut. Setelah selesai, perhatian kembali diarahkan ke pekerjaan yang sebelumnya sempat tertunda.
Perpindahan itu mungkin tanpa kita sadari tampak begitu cepat sehingga kita merasa tetap mengerjakan keduanya sekaligus. Namun, setiap kali perhatian berpindah, otak justru perlu menyesuaikan diri dengan tugas yang sedang dikerjakan.
Ini bukan berarti otak sama sekali tidak bisa melakukan dua aktivitas dalam waktu bersamaan. Aktivitas yang sudah otomatis, seperti berjalan sambil bicara, bisa terasa berbeda. Tapi ketika dua pekerjaan sama-sama membutuhkan perhatian dan pengambilan keputusan, otak harus mengatur fokus di antara keduanya.
Dampak Dari Multitasking
Menulis, membuka email, membalas chat, lalu membuka halaman lain, dan kembali ke pekerjaan utama mungkin hanya mengambil waktu sebentar, tetapi perhatian harus terus dibangun kembali.
Akibatnya, pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan dalam satu alur dapat menjadi lebih panjang. Penelitian juga menunjukkan bahwa ketika seseorang menangani beberapa tugas, performanya dapat menurun dibandingkan dengan fokus pada satu tugas.
Akan tetapi, tidak semua aktivitas yang dilakukan bersamaan merupakan hal yang buruk. Situasinya berbeda ketika dua aktivitas sama-sama membutuhkan konsentrasi. Sehingga, persoalannya bukan sekadar melakukan dua hal sekaligus, tetapi apakah kedua aktivitas tersebut membutuhkan perhatian yang sama pada waktu yang bersamaan.
Kesimpulan
Otak manusia sebenarnya dapat mengatur beberapa aktivitas. Namun, ketika beberapa tugas sama-sama membutuhkan perhatian, kita sering kali tidak benar-benar mengerjakannya secara lengkap pada waktu yang bersamaan. Otak perlu mengalihkan perhatian dari satu tugas ke tugas lainnya.
Pada akhirnya, masalahnya mungkin bukan karena kita memiliki terlalu banyak pekerjaan, tetapi karena kita terlalu sering meminta otak berpindah di antara pekerjaan-pekerjaan tersebut.