logo alinea.id logo alinea.id

The Lion King (2019): Visual ciamik, tapi tanpa plot twist berarti

Bagi penonton berusia 30 tahun-an, alur cerita film ini merangsang nostalgia.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Minggu, 28 Jul 2019 04:55 WIB
The Lion King (2019): Visual ciamik, tapi tanpa plot twist berarti

Film remake versi live-action The Lion King membangkitkan rasa penasaran lantaran diangkat dari animasi legendaris The Lion King tahun 1994. Teknologi Computer Generated Imagery (CGI) membawa film yang disutradarai oleh Jon Favreau pada pencapaian visual yang nyaris menyerupai aslinya.

Deretan pengisi suara beken, seperti Seth Rogen, Keegan Key, Donald Glover, Chiwetel Ejiofor, James Earl Jones, Beyonce Knowles, dan John Oliver juga menjanjikan film ini layak untuk dinikmati.

Berkisah petualangan Simba (Donald Glover), seekor singa yang kelak mewarisi takhta ayahnya, raja hutan bernama Musafa (James Earl Jones). Namun, Scar (Chiwetel Ejiofor) alias paman Simba berencana menelikung dan mengangkat dirinya sebagai raja hutan. Scar pun mengelabui Simba agar mau keluar dari kerajaan Pride Lands dengan dalih penerus takhta harus memiliki keberanian. Lantas, Scar menjebaknya, seolah-olah Simba terbunuh dalam kejaran kawanan Hyena. 

Bagi penonton berusia 30 tahun-an, alur cerita film ini merangsang nostalgia.

Tetap saja terdapat perbedaan antara film remake dan versi animasinya. Film remake Lion King (2019) tak lagi menyuguhkan drama menguras emosi penonton. 

Film ini terasa segar dengan aksi kocak kedua teman Simba, yakni Timon (Billy Eichner) dan Pumbaa (Seth Rogen). Keduanya memecah kebosanan dan mampu menggugah gelak tawa penonton. Timon dan Pumbaa mengajarkan Simba filosofi melepas masalah dan hidup bebas, Hakuna Matata. Artinya, jangan khawatir untuk sepanjang hidupmu. 

Perangai binatang

Patut diakui, deretan soundtrack film The Lion King (2019), seperti Hakuna Matata dan Can’t You Fell the Love Tonight yang ikonik, berpadu manis dengan visual ciamik menjadi kelebihan film remake ini. Suara merdu Beyoncé, Donald Glover, Billy Eichner, Seth Rogen, dan JD McCrary yang menyanyikan kedua lagu tersebut sanggup memanjakan telinga. 

Sponsored

Kualitas gambar tiga dimensi (3D) dari ekspresi tokoh hingga detail panorama yang disajikan dalam film ini sangat mengesankan. Seluruhnya seakan berupaya menampilkan realita hutan yang sesungguhnya.

Dikemas seperti film animasi Animal Farm (1954) yang diadaptasi dari novel karya George Orwell, film The Lion King juga menyisipkan sindiran atas kelakuan manusia.

Film Animal Farm (1954) menekankan kritik atas perbudakan dan perjuangan kelas dengan binatang sebagai pengandaian kelas tertindas dan pemilik peternakan adalah kelas penindasnya. Lalu, berikutnya malah memunculkan kelas penindas baru dari kalangan binatang.

Sementara itu, The Lion King menggambarkan kelakuan kebinatangan manusia secara lebih implisit.

Perangai haus kekuasaan dan menghalalkan segala cara licik walau menyangkut nyawa saudara sendiri, menjadi kritik atas sifat kebinatangan manusia. Misalnya, tercermin dari karakter Scar yang tega membunuh saudaranya karena dengki. Scar juga berbakat dalam menipu dan melakukan provokasi terhadap gerombolan Hyena yang kelaparan. 

Film Lion King (2019) menghadirkan peradaban binatang dengan tradisi budaya, dari kelahiran, inisiasi, kematian, dan bahkan miniatur kerajaan manusia. 

Dalam film Lion King (2019), singa menjadi simbol pemimpin dan kebijaksanaan. Tak ayal, film ini mengajarkan kepemimpinan, bagaimana menekankan logika kekuasaan yang bukannya perihal kepemilikan kerajaan Pride Lands, melainkan melindungi penghuninya. 

Disamping itu, mengajarkan pula bagaimana pemimpin berwibawa menghindari keserakahan dan menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan di sekitarnya demi kesejahteraan bersama. 

Sayangnya, sulit mengenali masing-masing tokoh dalam film versi live-action ini. Perbedaan antar karakter hanya dapat diketahui dari pengisi suaranya. Misalnya, Nala, ibu Simba, dan singa betina lain. Demikian juga dengan karakter Musafa, Scar, dan Simba Dewasa.

Film The Lion King (2019) juga terkesan masih mempertahankan detail adegan-adegan penting pada animasi 24 lalu. Meski tak ada kebaruan cerita yang disuguhkan, namun film ini patut ditonton bersama keluarga.