logo alinea.id logo alinea.id

Tsundoku, beli buku dahulu dibaca entah kapan

Istilah tsundoku tercipta saat era Meiji di Jepang pada abad ke-19.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Selasa, 02 Apr 2019 12:36 WIB
Tsundoku, beli buku dahulu dibaca entah kapan

Beban psikologis

Sementara itu, pengajar psikologi di Fakultas Ilmu Administrasi Publik Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, Afthonul Afif mengatakan, kepemilikan buku masih kurang disikapi dengan kemauan membaca. Tak jarang, mengoleksi buku dianggap sebagai kebanggaan dalam pergaulan sosial.

“Bila melihat orang-orang di sekitarnya membeli buku-buku, seseorang bisa menjadi ikut-ikutan. Sehingga kepemilikan buku menjadi sebuah gengsi dalam pergaulan,” kata peneliti di Local Government Innovation Centre Universitas Krisnadwipayana, Jakarta ini, saat dihubungi, Senin (1/4).

Lantas, buku dianggap sebagai ukuran tingkat intelektual seseorang. Sayangnya, kata dia, pemahaman itu menjadi keliru, lantaran tak disadari minat membaca yang memadai.

Lebih dari itu, menurut Afthonul, setiap tumpukan buku yang tak terbaca akan menimbulkan bebas psikologis bagi pemiliknya, yakni perasaan bersalah.

Dahulu, Afthonul mengaku bisa membeli ratusan buku setiap bulan. Lalu, bercermin dari pengalamannya itu, belakangan ia membatasi jumlah judul buku yang akan dibelinya setiap bulan.

“Saya dulu, 3 sampai 4 tahun lalu, bisa beli ratusan buku setiap bulan. Itu berlangsung bertahun-tahun. Kini semakin sedikit waktu saya untuk membaca buku. Jadi merasa bersalah. Sekarang sebulan paling hanya 10 buku yang saya beli,” tutur Afthonul.

Pengunjung memilih buku di salah satu stan di arena Jogja Islamic Fair di Kompleks GOR Universitas Negeri Yogyakarta, DI Yogyakarta, Minggu (17/3). /Antara Foto.

Menurut dia, kebiasaan mengoleksi buku, tetapi tak membacanya mirip dengan hobi koleksi barang lainnya. “Kalau ketersediaan waktu membaca sebanding dengan jumlah buku yang dibeli, maka buku itu akan semakin bernilai guna. Rasa bersalah akan berkurang,” ujarnya.

Selain itu, kata Afthonul, memberi sebagian koleksi buku kepada orang lain yang lebih membutuhkan juga dapat mengurangi beban psikologis. Cara itu pun bertujuan agar nilai buku tidak hilang.

Dihubungi terpisah, pegiat literasi Nirwan Ahmad Arsuka menilai, tsundoku tak terkesan negatif selama pelakunya mau membagikan koleksi buku kepada orang lain. “Ada orang lain yang bersedia membaca buku-buku itu,” kata Nirwan saat dihubungi, Senin (1/4).

Nirwan pun mendirikan Pustaka Bergerak, sebuah gerakan mengumpulkan buku untuk orang-orang di daerah yang punya minat kepada literasi. Sebulan sekali komunitas ini mendorong pengiriman buku secara gratis se-Indonesia.

Cara lain untuk mencegah penimbunan buku adalah membuat prioritas. Atfhonul Afif mengatakan, selain menentukan buku yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhan, perlu diperhitungkan juga kapasitas waktu yang dimiliki untuk membaca.

“Membeli buku ini-itu bagus, tapi merawat minat membaca buku itu lebih penting,” ujarnya.

Sementara menurut Nirwan, antara berbelanja buku dan membaca buku punya dua sisi yang saling bertentangan. Nirwan menuturkan, bila belanja buku serasa dekat dengan rekreasi, maka membaca buku bisa sama dengan kerja keras.

“Membaca membutuhkan energi dan konsentrasi,” kata dia.