logo alinea.id logo alinea.id

Upaya penderita autisme mendapatkan pengakuan

Pengakuan, penerimaan, penghargaan, kebanggaan sangat dibutuhkan anak-anak penderita autisme.

Alfiansyah Ramdhani
Alfiansyah Ramdhani Minggu, 07 Jul 2019 05:40 WIB
Upaya penderita autisme mendapatkan pengakuan

Karya-karya seni rupa berjejer, mengisi tembok Bentara Budaya Jakarta dengan warna dan bentuk yang beragam. Karya-karya ini merupakan hasil dari keterampilan para penyandang autisme yang ditampilkan dalam sebuah pameran berjudul “Warna-Warni Duniaku” yang diinisiasi antara Yayasan Autisma Indonesia (YAI) dengan Bentara Budaya Jakarta.

Ketua Yayasan Autisma Indonesia, Melly Budiman mengingat, 22 tahun lalu, masih mengurus anak-anak kecil terdiagnosa autisme. Waktu berjalan mengiringi pertumbuhan anak-anak yang dibina sampai memasuki usia muda, di mana penderita autisme sudah memiliki kebutuhan berbeda dari ketika masih kanak-kanak.

Pengakuan, penerimaan, penghargaan, kebanggaan sangat dibutuhkan anak-anak tersebut. Oleh karena itu, pameran seni rupa ini diadakan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Aktivitas seperti inilah yang akan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Memenuhi kebutuhan diri mereka,” sebut Melly.

Pada buku kumpulan karya pameran seni rupa “Warna Warni Duniaku” Kepala Pengelola Bentara Budaya Jakarta Ika W Burhan menyebutkan, kegiatan ini adalah kerja sama pertama antara Bentara Budaya Jakarta dengan Yayasan Autisma Indonesia dalam rangka program Bentara peduli. Acara ini berlangsung di Bentara Budaya Jakarta sejak 6 juli 2019 dan berakhir pada 13 juli 2019.

Ia juga menuliskan musik dan seni sebagai salah satu metode mencermati minat dan menemukan “penyembuhan”. Mengingat autisme merupakan gangguan otak yang memengaruhi penyandang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

“Lukisan contohnya, menjadi salah satu ekspresi mereka secara intra personal. Apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan, biasanya tanpa ragu dituangkan di atas media kanvas maupun media lainnya,” tulis Ika di halaman awal.

Sebanyak 89 karya dari 53 peserta ditampilkan dalam pameran ini. Karya seni rupa yang ditampilkan menggunakan media berbeda-beda, seperti “Pink Beach” karya Johannes Setyo yang menggambar pantai menggunakan cat akrilik. Nathaniel dalam karyanya berjudul “Berenang Bersama” menggunakan krayon untuk pewarnaan, juga ada Indhy Mutiarahma DPK menggunakan mix media yaitu, kombinasi antara cat, kain,origami, beras dan kacang dalam karyanya yang berjudul “Artwork 1”. 

Sponsored

Proses penghimpunan karya yang mencapai 89 karya merupakan hal yang mudah bagi Melly. Anak penyandang autisme dengan kepandaian menggambar dapat dihubungi karena jejaring anggota yayasan yang jumlahnya banyak.

Seniman dan Kurator Bentara Budaya Ipong Purnama Sidhi, mengaku mendapatkan kesan luar biasa ketika melihat karya yang ditampilkan. 

Semua karya yang terpampang di tembok tidak dipandang berada dalam aliran tertentu sebagaimana aliran yang diketahui seperti surealis, realis dan sebagainya. Melainkan sebagai jenis tersendiri dan menghubungkan dengan outsider art,  seni yang diinisiasi seniman asal perancis Jean Dubuffet. Outsider art merupakan karya yang lebih ekspresif, naif dan apa adanya dan tidak dibuat-buat.

“Saya jujur, karya anak-anak ini setara dengan karya seniman penyandang autisme seluruh dunia,” ucap Ipong.