sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

WHO promosikan uji coba pengobatan herbal coronavirus

WHO telah mengizinkan uji coba pengobatan herbal untuk penanganan Covid-19.

Cindy Victoria Dhirmanto
Cindy Victoria Dhirmanto Sabtu, 26 Sep 2020 07:17 WIB
WHO promosikan uji coba pengobatan herbal coronavirus
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Hampir di negara seluruh dunia sedang berjuang melawan Covid-19. Fasilitas medis, rumah sakit, ilmuwan, dan beberapa organisasi turun langsung ke lapangan untuk bekerja sepanjang waktu dengan harapan dapat mengembangkan obat atau vaksin yang efektif untuk Covid-19. 

Virus ini menimbulkan beberapa gejala ringan hingga sangat berat. Menurut laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, organisasi ini telah mengizinkan uji coba pengobatan herbal untuk penanganan Covid-19.

Salah satunya pengujian obat-obatan herbal yang berasal dari Afrika, yang diduga berpotensi mengobati coronavirus dan epidemi lainnya.

Direktur Regional WHO Prosper Tumusiime mengatakan, jika ada produk obat tradisional yang ditemukan aman, berkhasiat, dan terjamin kualitasnya, maka WHO akan merekomendasikan itu untuk manufaktur lokal skala besar yang dilacak dengan cepat.

Untuk kebutuhan itu, WHO bekerja sama dengan Regional Expert Committee on Traditional Medicine for Covid-19, untuk pengesahan penggunaan jamu. Tak hanya itu, WHO juga bekerja sama dengan Africa Center for Disease Control and Prevention dan Komisi Uni Afrika untuk Urusan Sosial. Hasilnya, uji fase ketiga obat tradisional yang berasal dari Afrika telah diberikan lampu hijau oleh WHO.

Pada April lalu, Presiden Madagaskar Andry Rajoelina meluncurkan Covid-Organics yang diproduksi oleh Malagasy Institute of Applied Research. Tumbuhan Artemisia ini menjadi salah satu sumber bahan yang digunakan untuk pengobatan malaria, dan tumbuhan Malagasi lainnya.

Organisasi kesehatan juga memastikan untuk sementara studi dilakukan secara mendesak. Kendati begitu, obat-obatan untuk pengobatan Covid-19 akan dibuat tanpa mengurangi keselamatan peserta yang ikut uji coba.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Traditional and Complementary Medicine menyimpulkan bahwa terapi diet dan pengobatan herbal bisa menjadi terapi pencegahan komplementer untuk Covid-19. Namun, temuan ini memerlukan validasi pada model infeksi SARS-Cov-2 dan pasien Covid-19. 

Sponsored

Terdapat tantangan yang perlu dihadapi dalam mengembangkan obat-obatan herbal untuk Covid-19. Studi dan survei menunjukkan bahwa pengobatan tradisional telah dihargai secara global. Selain karena pendekatannya yang aman, ekonomis, dan holistik, efek sampingnya pun lebih aman dan lebih rendah dibandingkan pengobatan barat.

Namun, ada tantangan tertentu yang dapat menghambat pengembangan obat dengan tepat waktu untuk infeksi virus tersebut. Berikut beberapa tantangan dalam mengembangkan obat-obatan herbal: 

Masalah kualitas

Pemalsuan, kesalahan penyiapan dan pengumpulan jamu/tanaman, kesalahan identifikasi tanaman dan kesalahan formulasi yang dapat mengurangi keefektifan jamu, sehingga mengakibatkan ketidakefektifan dan efek samping.

Validasi 

Untuk melakukan validasi melalui uji klinis secara terkontrol dapat memakan waktu yang cukup lama. 

Praktik pertanian yang buruk

Tak hanya praktik pertanian yang buruk saja dapat menghambat proses obat-obatan untuk pasien Covid-19, tetapi pemanenan sembarangan, dan kurangnya teknik pemrosesan juga sangat meghambat kinerja dari proses tersebut.

Biopiracy 

Praktik yang dilakukan melalui pengetahuan adat mengenai alam ini berasal dari masyarakat adat yang digunakan oleh orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Hal tersebut dapat menjadi masalah besar karena akan menghambat produksi obat – obatan herbal dan sekali lagi praktik ini cukup memakan waktu. 

Sumber: boldsky.com

Berita Lainnya