sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Fakta seputar perokok anak-anak 

Ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak merokok.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Jumat, 08 Mei 2020 11:44 WIB
Fakta seputar perokok anak-anak 
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 80094
Dirawat 37247
Meninggal 3797
Sembuh 39050

Prevalensi perokok anak di Indonesia terus naik. Pada 2018, prevalensi perokok anak mencapai 9.1%. Artinya, diperkirakan 1 dari 10 anak di Indonesia sudah terbiasa merokok atau pernah merokok. Angka itu naik dari angka prevalensi pada 2013 yang hanya 7,2%.  

Menurut riset Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR) Universitas Indonesia pada 2019, para perokok anak kerap lahir karena terpapar beragam iklan rokok di berbagai platform. Selain itu, mayoritas perokok anak juga lahir di keluarga perokok. 

Hasil kajian itu juga menyimpulkan bahwa anak yang punya uang saku di atas Rp50.000 per hari memiliki kecenderungan untuk merokok 4,74 kali lebih besar ketimbang yang uang sakunya di bawah angka itu. 

Ketua Yayasan Lentera Anak (YLA) Lisda Sundari mengatakan ada banyak faktor yang menyebabkan maraknya perokok anak. Selain harga rokok yang terjangkau, menurut dia, banyak anak mulai merokok karena berkembangnya sikap permisif masyarakat terhadap rokok.

"Juga faktor tokoh teladan atau idola. Karena anak-anak mudah sekali meniru perilaku orang yang mereka kagumi. Dan yang juga penting adalah mudahnya keterjangkauan rokok, harga murah, bisa beli di mana aja dan ketersediaannya melimpah," kata Lisda kepada Alinea.id di Jakarta, Senin (4/5).

Selain itu, Lisda menilai, tingginya jumlah perokok anak tak lepas dari tak adanya pengawasan dan lemahnya penegakan hukum. Hingga kini, kata Lisda, tidak ada sanksi yang tegas bagi mereka yang kedapatan menjual rokok kepada anak-anak. 

Padahal, hal itu dilarang  dalam Peraturan Pemerintah Nomor 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. 

"Sementara itu, industri rokok leluasa merayu anak-anak kita melalui iklan dan sponsor. Jadi, kalau kita ingin perokok anak menurun, akses anak-anak terhadap rokok harus dijauhkan yaitu harga yang tinggi, tidak menjual kepada anak, dan larang iklan serta sponsor rokok," kata dia. 

Sponsored

Infografik Alinea.id/Dwi Setiawan

Berita Lainnya