sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Otak-atik nomenklatur era Jokowi

Sejak 2014, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah 'hobi' mengotak-atik nomenklatur kementerian.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Jumat, 25 Okt 2019 15:14 WIB
Otak-atik nomenklatur era Jokowi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 502.110
Dirawat 63.722
Meninggal 16.002
Sembuh 422.386

Sejak 2014, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah 'hobi' mengotak-atik nomenklatur kementerian. Ketika itu, tercatat ada enam kementerian yang pecah atau digabungkan oleh Jokowi. Kini, Jokowi mengubah lagi empat nomenklatur kementerian. 

Namun demikian, menurut pengamat kebijakan publik Universitas Padjadjaran (Unpad) Yogi Suprayogi, sebenarnya tak ada perubahan signifikan yang dilakukan Jokowi dengan mengotak-atik nomenklatur kementerian. Terkecuali Kemenko Maritim, nomenklatur kementerian cenderung kembali seperti era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

Dari segi biaya dan proses, Yogi mengatakan, perombakan nomenklatur yang dilakukan Jokowi juga tidak akan bikin 'ribet'. "Memang perlu waktu. Tapi, tak akan sampai lama karena ini balik lagi ke awal, seperti tupoksinya di era SBY. Pada dasarnya, ini hanya ganti merek saja," ujar dia saat dihubungi Alinea.id, belum lama ini. 

Dari susunan kabinet yang diracik Jokowi, Yogi membaca, mantan Wali Kota Solo itu ingin fokus terhadap dua bidang, yakni pertumbuhan ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Menurut Yogi, hal itu setidaknya dapat dilihat dari 'pernak-pernik' investasi dalam nomenklatur kementerian. 

Sponsored

"Saya rasa dia lebih ngejar itu. Pertama, kenapa pertumbuhan ekonomi? Karena indikator dia kan investasi. Investasi kita digenjot. Sekarang bayangkan saja yang berkaitan investasi itu ada 3 (kementerian) dan 1 lembaga yang sudah jelas," ujarnya.

Infografik Alinea.id/Oky Diaz

Menjinakkan La Nina demi ketahanan pangan

Menjinakkan La Nina demi ketahanan pangan

Senin, 23 Nov 2020 16:42 WIB
Efek domino kekerasan perempuan berbasis online

Efek domino kekerasan perempuan berbasis online

Minggu, 22 Nov 2020 14:48 WIB
Berita Lainnya