logo alinea.id logo alinea.id

Tol Trans Jawa, untung dan rugi

Kendaraan golongan V, seperti truk dan angkutan logistik dari Jakarta-Surabaya ditetapkan Rp1,3 juta.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 12 Feb 2019 11:20 WIB
Tol Trans Jawa, untung dan rugi

Mega proyek Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa, akhirnya rampung pada 2018 lalu. Total investasi untuk mewujudkan proyek ini pun tak main-main. Dari data Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), total investasi untuk Jalan Tol Trans Jawa mencapai Rp67,94 triliun.

Meski memakan investasi triliunan, kehadiran jalan bebas hambatan sepanjang 1.167 kilometer ini, tak disangsikan lagi, bisa memangkas waktu tempuh perjalanan. Bila melalui jalan tol ini, Jakarta ke Surabaya bisa ditempuh hanya 9 hingga 10 jam.

Sayangnya, alternatif melintasi kota-kota di Jawa itu harus dibayar mahal. Pengguna jalan tol ini harus mengeluarkan biaya Rp660.500 untuk kendaraan golongan I, dari Jakarta ke Surabaya. Sedangkan untuk kendaraan golongan V, seperti truk dan angkutan logistik dari Jakarta ke Surabaya ditetapkan Rp1,3 juta.

Besarnya ongkos itu, membuat para pengusaha logistik menjerit. Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengibaratkan penyedia jasa logistik layaknya “di-sandwich” akibat biaya tol itu. Dia mengemukakan beberapa alasan, tentang analoginya itu.

Sponsored

“Pertama, dari sisi daya beli, pelanggan kami tidak mengalami kenaikan,” kata Mahendra saat dihubungi reporter Alinea.id, Kamis (7/2).

Kedua, lanjut Mahendra, dari sisi tarif, harga jasa logistik tidak dapat dinaikkan seenaknya, karena sudah ada kontrak logistik. Menurut dia, selama masa kontrak, yang berwenang mengubah tarif logistik adalah bahan bakar minyak (BBM) atau upah minimun regional (UMR) yang naik.

Tarif Jalan Tol Trans Jawa yang mahal juga ikut memengaruhi ongkos logistik.