sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Dedi Kurnia Syah P

Bongkar pasang kebijakan Covid-19

Dedi Kurnia Syah P Senin, 18 Mei 2020 15:41 WIB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26473
Dirawat 17552
Meninggal 1613
Sembuh 7308

Alternasi politik

Dalam kaidah sederhana, alternasi politik merujuk pada aktifitas pemerintah yang menerapkan kebijakan secara uji coba, menukar satu gagasan dengan gagasan lain, dengan maksud mengundi dampak terbaik dari tiap kebijakan. Alternasi politik ini mengemuka dari kebijakan pemerintahan Joko Widodo yang tidak berumur panjang dan silang tafsir di tingkat bawah.

Ambil satu misal, sebelumnya, pemerintah dengan tegas memberikan maklumat agar publik tidak berkerumun, menjaga jarak antar orang (social and physical distancing), merujuk pada kebijakan PSBB. Tetapi implementasi program ini surut sebelum waktunya, muncul gagasan pelonggaran yang secara tiba-tiba hadir di tengah proses menunggu hasil PSBB.

Di antara bentuk pelonggaran itu, selain beroperasinya moda transportasi umum darat, laut dan udara, adalah wacana pembebasan aktifitas bagi warga negara dengan rentang usia di bawah 45 tahun. Gagasan ini jelas mengemukakan labilitas kebijakan sebelumnya PSBB, yang secara terang belum jelas keberhasilannya secara signifikan. Untuk itu, kembali diuji kebijakan baru dalam bentuk kelonggaran.

Seyogianya, tiga hal diperlukan dalam setiap kebijakan publik. Pertama, stakeholders. Pemerintah harus menentukan target publik dari kebijakan yang akan diterbitkan. Kedua, context. Bentuk kebijakan yang harus diterbitkan menyesuaikan dengan konsekuensi hukumnya. Ketiga, objective. Analisa hasil yang akan didapat setelah kebijakan diterbitkan.

Tiga hal di atas seharusnya diterapkan pemerintah mengambil kebijakan, artinya kebijakan harus selesai sampai menghasilkan baru diperkenankan untuk dievaluasi, atau dirombak, berlanjut atau dihentikan, sementara yang terjadi justru pemerintah menukar menindih kebijakan dengan kebijakan baru di tengah jalan. Inilah persoalannya.

Richard Mulgan dalam jurnalnya berjudul Aristotle and the Value of Political Participation (1990) menulis, aktifitas politik seharusnya menghadirkan kesenangan untuk semua pihak, di mana manifestasi politik seharusnya mengemuka dalam kebijakan publik, sebuah kebijakan diterbitkan harus membawa dampak baik bagi publik, bukan sebaliknya.

Di mana kekuasaan yang mengekang publik tanpa ada timbal balik, hanya akan melahirkan kontestasi politis, saling berebut panggung, dan publik sangat mungkin menjadi alas bagi pertarungan elite politik. Jangan sampai, wabah yang sudah merenggut ribuan nyawa, justru dijadikan panggung bagi elite (political performing), di mana yang seharusnya terjadi adalah aktifitas politik (political performance).

Harapannya, alternasi politik dalam kebijakan pemerintah segera diakhiri, publik memerlukan kebijakan yang dapat diterapkan tanpa harus berpikir dalam keraguan. Kepatuhan publik sangat mungkin mengemuka seiring dengan konsistensi pemerintah. Tentu, pemerintah secara keseluruhan, apa yang disampaikan presiden, demikian pula yang diteruskan para menteri, gubernur, hingga ketua rukun tetangga (RT).
 

Berita Lainnya