sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id
M Rahmat Yananda

Dilema antara kesehatan dan ekonomi melawan Covid-19

M Rahmat Yananda Jumat, 15 Mei 2020 14:25 WIB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 506.302
Dirawat 64.878
Meninggal 16.111
Sembuh 425.313

Kesehatan terkelola, ekonomi bergerak

Berkaca dari survei tersebut dan perkembangan pandemi di tanah air, pemerintah harus menyadari bahwa publik menaruh harapan tinggi dengan mengutamakan penuntasan masalah di sektor kesehatan. Berdasarkan urutan prioritas, kesehatan sebagai fokus utama pemerintah tidak dapat ditawar-tawar.

Sektor kesehatan akan menjadi pengungkit (leverage) sektor ekonomi dan sektor-sektor lainnya. Alasannya, terkelola dan kemajuan penanganan Covid-19 akan memunculkan kepercayaan terhadap keseriusan dan kemampuan pemerintah.

Kehadiran rasa aman karena pemerintah mampu mengelola sektor kesehatan akan meyakinkan banyak pihak. Dan orang-orang akan berani memulai aktivitas harian, khususnya di sektor ekonomi. Sebaliknya, kegagalan penanganan Covid-19 akan memunculkan keraguan publik dan mereka enggan untuk keluar rumah, yang menjadikan gerak sektor-sektor lain lambat, khususnya ekonomi.

Semenjak awal pandemi sampai saat ini, pemerintah ternyata lebih fokus mengantipasi dampak ekonomi Covid-19. Pernyataan dan kebijakan pemerintah seringkali menyisipkan pesan-pesan ekonomi, mengkhawatirkan kondisi ekonomi, bahkan mulai mendorong pembukaan ekonomi.

Padahal publik membutuhkan langkah nyata yang terukur dalam rangka mitigasi. Mereka berharap kesehatan menjadi sektor priotas untuk memandu mereka memahami perkembangan pandemi. Nantinya, sektor kesehatan juga akan memandu mereka berkegiatan normal untuk mulai bekerja, melepas anak-anak ke sekolah, beribadah, mengunjungi keluarga dan lain-lain.

Oleh karena itu, langkah-langkah pemerintah saat ini terasa tanggung dan setengah hati di sektor kesehatan. Tidak heran PSBB yang tidak diselenggarakan dengan sepenuh hati ditambah dengan segala bentuk kebijakan “pelonggaran” mendapatkan kritikan publik. Apalagi angka pasien positif dan meninggal Covid-19 terus bertambah.

Dilema antara kesehatan dan ekonomi dapat diselaraskan dengan mengedepankan konsep kepercayaan (trust) meminjam pemikiran ekonom John Maynard Keynes. Kepercayaan sangat penting dalam dunia ekonomi yang realitasnya penuh ketidakpastian (uncertainty) dan kompeks (complex).

Sponsored

Sebagai catatan, pandemi juga memunculkan realitas yang sama. Ketidakpastian dan kompleksitas ekonomi datang dari interaksi banyak aktor dengan banyak kepentingan di banyak sektor dan di berbagai ruang. Menghadapi kenyataan tersebut, hampir tidak mungkin para aktor hanya mengandalkan rasionalitas, seperti membuat perhitungan dan prediksi yang efektif, untuk bertindak mencapai tujuan-tujuan ekonomi.

Menurut John Maynard Keynes (1883-1946), pendiri mahzab ekonomi Keynesian, di tengah ekonomi yang penuh ketidakpastian dan kompleks, telah menjadi fakta penting bahwa pengetahuan dasar terkait keputusan ekonomi memiliki potensi kerawanan untuk membuat prospek estimasi hasil.

Pengetahuan tersebut sangat sedikit dan seringkali tidak memadai untuk merancang investasi yang dapat mendatangkan hasil, seperti berinvestasi sepuluh tahun ke depan di kereta api, tambang tembaga, pabrik tekstil, obat paten, kapal, dan bangunan. Bahkan pengetahuan yang sangat sedikit dan terkadang tidak memadai tersebut juga tidak dapat merancang prospek hasil untuk investasi lima tahun ke depan (dalam Morgan dan Sheehan, 2014).

Mengatasi keterbatasan pengetahuan (informasi) tersebut, para aktor mengandalkan kepada kepercayaan untuk menjadi wadah pengambilan keputusan. Kepercayaan muncul dari pengelolaan ketidakpastian. Semakin tinggi perasaan ketidakpastiaan tumbuh, semakin banyak orang bersandar kepadanya karena kepercayaan mampu menyediakan kepastian dan andal.

Komponen kepercayaan, baik yang rasional maupun yang irasional, secara dinamis dapat mengelola tindakan, menyebarkan peran pengganti atau penyelesaian, dan memperlambat atau mempercepat proses. Jika dikelola dengan baik, hal tersebut dapat menjadi alat ekonomi, sosial dan politik yang luar biasa (Padua, 2014).

Berita Lainnya