sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id
M Rahmat Yananda

Dilema antara kesehatan dan ekonomi melawan Covid-19

M Rahmat Yananda Jumat, 15 Mei 2020 14:25 WIB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 527.999
Dirawat 66.752
Meninggal 16.646
Sembuh 441.983

Keynesian memandang adanya saling ketergantungan organik dalam kompleksitas lingkungan sistem sosial ekonomi. Keadaan kompleks menyebabkan ketidakmampuan untuk memprediksi, kebutuhan akan visi holistik, dan sebab tidak harus memunculkan dampak.

John Maynard Keynes menjelaskan perlunya mengatur ulang pola pikir dengan beralih dari budaya kepastian ke budaya ketidakpastian, dari kalkulasi ke intuisi, dari probabilitas ke konvensi, dari antisipasi ke adaptasi, dan dari aksi ke relasi (Padua, 2014), yang diwadahi oleh mekanisme kepercayaan. 

Saat menghadapi pandemi ini, dengan ketidaklengkapan perhitungan dan prediksi ke masa depan, para aktor mengandalkan sebagian keputusannya kepada emosi, yaitu mempercayai situasi dan aktor-aktor lain yang akan bertindak sesuai harapannya. Kepercayaan menuntun aktor-aktor mengambil keputusan dan bertindak dengan sepenuhnya sadar bahwa mereka tidak memiliki informasi yang memadai.

Saat ini. informasi pemerintah, publik, bisnis dan aktor-aktor lain terkait pandemi dan dampaknya juga tidak memadai. Pandemi adalah krisis yang memunculkan ketidakpastian dan kompleksitas karena belum tersedianya obat dan tidak diketahui kapan mereda. Oleh karena itu, kepercayaan diandalkan menjadi modal yang mengerangka keselarasan tindakan para aktor.

Meminjam semangat berpikir Keynesian di tengah ketidakpastian dan kompleksitas pandemi, sektor kesehatan harus menjadi prioritas penanganan pandemi. Apabila pemerintah bertindak sungguh-sungguh akan muncul kepercayaan dari publik dan sektor-sektor lain, dengan sendirinya akan membuka jalan perbaikan ke sektor ekonomi.

Pemerintah harus memandang kebijakan dan langkah di sektor kesehatan adalah kebijakan dan langkah awal mengembalikan aktivitas ekonomi. Pemerintah harus menyadari bahwa tidak relevan lagi mendikotomikan kesehatan dan ekonomi. Pemerintah harus berhenti memunculkan dilema antara sektor kesehatan dan ekonomi. Pernyataan pemerintah terkait dilema tersebut hanya akan berdampak negatif serta menambah keraguan publik atas langkah dan keseriusan pemerintah mengatasi pandemi.

Sebagai catatan tambahan untuk pemerintah, membangun kepercayaan membutuhkan kerendahan hati. Pernyataan yang terlalu percaya diri terkait kondisi ekonomi Indonesia pascapandemi, seperti angka perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia atau akan terjadinya permintaan tinggi di sektor pariwisata, harus dikurangi.

Publik belum lupa bahwa rezim yang sama di masa lalu, bahkan tanpa pandemi tidak mampu mewujudkan janji kampanyenya meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5% selama lima tahun, membangun infrastruktur secara besar-besaran yang ternyata tidak maksimal kegunaannya, dan berambisi memindahkan ibu kota dengan kondisi kas negara yang pas-pasan.  

Sponsored

Beberapa hari lalu, publik dikagetkan oleh kenaikan iuran BPJS di tengah-tengah lesunya ekonomi, pengangguran tinggi, dan menurunnya daya beli. Publik juga masih terheran-heran dan kesal karena tidak mengerti mengapa harga BBM tidak turun ketika harga minyak dunia anjlok ke titik terendah.

Rezim ini harus berhenti menampilkan wajah yang penuh dengan bedak tebal di bidang ekonomi. Tampilkan saja wajah polos dengan senyum ramah sebagai wujud simpati dan empati. Wajah itu dapat tampil di ikhtiar menjaga dan merawat kesehatan rakyat melawan Covid-19, yang membangun harapan dan kepercayaan sebagai modal bersama melalui ketipastian dan kompleksitas pandemi.

Berita Lainnya