sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Indra  Wardhana

Gerakan mahasiswa di seluruh dunia

Indra Wardhana Rabu, 25 Sep 2019 15:57 WIB

Kemudian gerakan pelajar dan mahasiswa di era 2000-an seperti Revolusi Payung di Hongkong serta masih banyak di negara-negara lainnya, di seluruh dunia.

Semua peneliti sosial tersebut pada hakekatnya sependapat tentang tiga hal pokok, yaitu, mahasiswa menunjukkan keaktifannya yang sangat menonjol, adanya kepekaan nurani dari gerakan mahasiswa terhadap perubahan sosial dan politik, serta akar dari semua gerakan mahasiswa adalah menyangkut keseluruhan masyarakat dan apa yang dirasakan oleh mahasiswa.

Situasi sosial dan ekonomi, ketidakadilan sosial, kebijakan luar negeri yang tidak adil dan politik yang tidak demokratis merupakan akar dari gerakan mahasiswa.

Sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia

Pergerakan Mahasiswa di Indonesia di bagi dalam beberapa periode, sebagai berikut :
1. Masa Kolonial

Sebelum Negara Republik Indonesia berdiri pada 17 Agustus 1945 atau tepatnya pada masa penjajahan Belanda, di wilayah Hindia Belanda tercatat ada dua gerakan mahasiswa yang sangat populer, unik dan monumental, yaitu pergerakan mahasiswa 1908 atau yang dikenal dengan Angkatan 08 dimotori Boedi Oetomo. Juga pergerakan mahasiswa 1928 yang dikenal sebagai Angkatan 28, yang dimotori Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) dan para pemuda pelajar dari berbagai perguruan tinggi di Hindia Belanda, seperti Jong Ambon, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Islamieten Bond, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Pemuda Kaum Betawi, dan lain-lain.

Gerakan mahasiswa Angkatan 08 dan Angkatan 28 disebut unik. Meskipun kedua gerakan pemuda pelajar tersebut tidak dapat dipisahkan dari anasir primordialisme; kesukuan, kedaerahan dan agama, namun tetap berbasiskan pada gerakan dengan semangat kemerdekaan untuk sebuah bangsa (nation) dan negara (state), sehingga sangat kental dengan nuansa nasionalismenya.

Begitu uniknya gerakan ini, sehingga Angkatan 08 dan Angkatan 28 selalu dan selamanya dilihat oleh para pemuda pelajar sebagai tonggak sejarah persatuan nasional. Juga dianggap paling monumental, karena gerakan mahasiswa angkatan selanjutnya bukan saja tetap menjadikan nasionalisme sebagai dasar moralnya, tetapi juga selalu menjadikan gerakan kaum terpelajar Angkatan 08 dan Angkatan 28 sebagai rujukannya.

Di satu sisi kedua angkatan itu merupakan produk dari kebijakan politik etis Belanda, tapi di lain sisi kedua produk itu justru kontra produktif dari gagasan politik etis Belanda. Kontra produktif karena politik etis Belanda berasumsi bahwa ganti rugi atas penderitaan masyarakat selama di bawah pemerintahan kolonial Belanda akan membuat masyarakat diam tanpa perlawanan, sehingga melalui politik etisnya, Belanda ingin memperlihatkan diri memerintah atas dasar moral. Kontraproduktif karena ganti rugi penderitaan masyarakat Hindia Belanda telah pula melahirkan legitimasi politik bagi masyarakat untuk menolak dan melawan berbagai bentuk kolonialisme yang dilancarkan oleh Belanda.

Berita Lainnya