logo alinea.id logo alinea.id
Riza Annisa Pujarama

Memasuki industri 4.0, siapkah?

Riza Annisa Pujarama Senin, 25 Feb 2019 15:47 WIB

Dunia telah mengalami beberapa fase perubahan terhadap cara-cara memproduksi barang dan jasa, dari skala kecil hingga skala besar, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perubahan-perubahan itu dilakukan melalui sebuah proses inovasi dalam teknologi.

Momentum penggunaan inovasi teknologi dalam proses produksi yang mengubah perilaku manusia pada suatu waktu ini disebut dengan revolusi industri. Revolusi industri yang terjadi saat ini adalah revolusi industri fase ke empat yang dikenal dengan industri 4.0, ditandai dengan penggunaan cyberphysical systems analysis dalam proses produksi.

Tiga revolusi industri sebelumnya ditandai dengan penggunaan mesin uap (industri 1.0), penggunaan listrik (2.0), dan penggunaan komputer untuk otomatisasi (3.0).

Revolusi industri yang terjadi dapat menjadi kabar baik dan juga kabar buruk. Hal ini tergantung pada kesiapan dalam memanfaatkan momentum perubahan yang terjadi. Sejarah mencatat bahwa revolusi industri telah memicu pergolakan terutama dari kaum buruh yang pekerjaannya tergantikan oleh mesin, sementara pemilik faktor produksi mendapatkan keuntungan dengan peningkatan jumlah produksi yang berkali lipat yang diikuti dengan kemampuan menekan biaya pegawai.

Revolusi industri juga mendorong cakupan perdagangan menjadi lebih luas. Bermodalkan kemampuan berproduksi yang tinggi dengan barang yang relatif terdeferensiasi, maka langkah berikutnya adalah mencari pasar seluas-luasnya. Dari hal tersebut kemudian terjadi dampak turunan lain dari revolusi industri terhadap kehidupan sosial-ekonomi di dunia. 

Permasalahan yang muncul dari tiga fase revolusi industri yang telah terjadi, adalah masalah pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan yang terus berlangsung hingga mencapai revolusi industri 4.0 saat ini.

Industri 4.0 menawarkan proses produksi yang lebih canggih lagi yang membuat industri semakin padat modal dan sedikit tenaga kerja yang digunakan. Di sini dapat dikatakan bahwa kemampuan seseorang dalam teknologi dan ilmu pengetahuan akan menjadi sangat penting.

Industri yang padat modal ini akan memunculkan masalah pengangguran terutama bagi tenaga kerja dengan pendidikan dan keterampilan yang rendah. Meningkatnya pengangguran akan meningkatkan jumlah penduduk yang miskin karena tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup minimalnya.

Sementara itu ketimpangan akan terus membayangi revolusi industri 4.0 karena adanya perbedaan faktor-faktor produksi yang dimiliki (terjadinya konsentrasi kekayaan). Inovasi teknologi adalah sesuatu yang mahal dan tidak semua orang dapat mengaksesnya.

Kepemilikan teknologi dan kualitas sumber daya manusia yang tinggi pada akhirnya akan memberikan lebih banyak keuntungan pada pemilik faktor-faktor produksi. Disinilah pentingnya kehadiran pemerintah untuk meminimalisir ketimpangan yang terjadi.

Kesiapan Indonesia di industri 4.0

World Economic Forum berkolaborasi dengan AT Kearney mengeluarkan sebuah laporan mengenai kesiapan produksi di masa depan yang melibatkan 100 negara di 2018.

Mereka membagi empat klasifikasi kesiapan negara-negara tersebut berdasarkan kemampuan berproduksi di masa depan dengan menggunakan dua indikator utama (masing-masing indikator dibagi lagi menjadi sub-sub lainnya) yaitu struktur produksi dan penggerak produksi.  

Indonesia masuk dalam kategori nascent, yaitu negara dengan dasar produksi terbatas yang menunjukkan kesiapan produksi yang rendah untuk masa depan yang ditunjukkan dengan performa yang lemah pada indikator penggerak produksi.

Kelemahan Indonesia dalam industri 4.0 menurut laporan tersebut ada pada indikator: struktur produksi, teknologi dan inovasi, sumber daya manusia, perdagangan global dan investasi, kerangka institusi, serta keberlangsungan sumberdaya alam. 

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya telah sedikit banyak menunjukkan bagaimana kesiapan Indonesia menghadapi industri 4.0. Ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dari kondisi ekonomi saat ini di antaranya :

1. Deindustrialisasi yang sedang terjadi di Indonesia. Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB perlahan terus mengalami penurunan;

2. Komoditas ekspor utama masih mengandalkan sumberdaya alam yang belum mempunyai nilai tambah;

3. Angkatan kerja dan tenaga kerja di Indonesia masih didominasi oleh tenaga kerja dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah;

4. Defisit neraca perdagangan karena impor minyak yang tinggi dan peningkatan impor barang konsumsi.

Menjawab tantangan industri 4.0

Kunci dari industri 4.0 adalah inovasi teknologi yang disokong oleh kualitas sumber daya manusia yang tinggi. Untuk mendapatkan kualitas sumberdaya manusia yang tinggi di dapat dari pendidikan yang tinggi kualitasnya sehingga dapat melakukan riset dan pengembangan sebagai jalan pada inovasi teknologi, akses terhadap hal ini tidak dapat didapat oleh semua orang.

Hal ini kembali lagi pada fakta bahwa pendidikan berkualitas dan teknologi itu mahal. Sehingga di sinilah munculnya kebutuhan akan peran Pemerintah sebagai penyeimbang yang akan meminimalisir ketimpangan yang terjadi.

Langkah Pemerintah Indonesia untuk fokus pada perbaikan sumber daya manusia di 2019 dengan peningkatan kualitas pendidikan ini sudah tepat, namun hal ini tidak bisa jalan sendirian tanpa inovasi teknologi. Pemerintah perlu mendorong kemajuan inovasi teknologi dengan:

a. Meningkatkan pendanaan (belanja) pada riset dan pengembangan yang masih kalah dengan negara-negara tetangga;

b.Mendorong peningkatan hak paten;

c. Memudahkan tahapan hak paten;

d.Menjembatani kerjasama antara institusi pendidikan dengan industri;

e.Mencari pasar hasil produk inovasi. 

Peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan oleh Pemerintah di 2019 ini diharapkan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Hal ini agar permasalahan yang muncul akibat revolusi industri 4.0 seperti pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan dapat diminimalisir.