sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id
Khudori

Menghindari bencana pangan

Khudori Senin, 27 Apr 2020 17:22 WIB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 392.934
Dirawat 61.851
Meninggal 13.411
Sembuh 317.672

Krisis coronavirus telah menguji ketangguhan aspek kesehatan dan ekonomi. Jika korban virus terbesar adalah orang-orang yang rentan, seperti manula dan individu yang memiliki riwayat sakit, krisis ekonomi terberat menyasar kelompok rentan, yakni petani, nelayan, pekerja informal, pelaku UKM, dan warga miskin (di kota dan desa).

Kebijakan kerja-sekolah-ibadah di rumah diikuti pembatasan sosial berskala besar membuat banyak aktivitas berhenti (dihentikan). Dampaknya, para perantau yang mengais rezeki di ibu kota kehilangan pekerjaan. Mereka kemudian mudik dini ke kampung halaman.

Berapa jumlah yang sudah mudik dini sebelum larangan berlaku? Diperkirakan jumlahnya besar. Dalam situasi normal, tahun lalu 23 juta orang mudik. Bila 10% saja mereka mudik dini, betapa seriusnya ancaman di kampung halaman. Adalah benar “kampung halaman” tidak selalu desa. Juga benar mereka belum tentu carrier virus korona. Tetapi bisa dipastikan sebagian besar mereka berasal dari desa. Mereka kembali ke kampung halaman setelah merantau dari Jabodetabek, wilayah episenter Covid-19. Jadi, ancaman bagi desa amatlah nyata apabila arus mudik dini ini tak dicegah dan dilarang.

Realitas yang kasat mata sampai saat ini desa/perdesaan adalah tempat produksi pangan. Menurut kalkulasi Krisnamurthi (2020), saat ini produksi pangan tersebar: 80% di desa, 17% di pinggiran kota, dan 3% di kota. Bila impor dihitung, lebih 80% produksi pangan diproduksi di dalam negeri. Kala ada pembatasan sosial berskala besar, saat social/physical distancing diberlakukan, pangan harus tetap tersedia. Pangan tetap harus diproduksi di perdesaan untuk kemudian dialirkan lewat jalur logistik ke perkotaan.

Siapa pelaku produksi pangan itu? Para petani yang notabene orang desa. Jika petani harus #dirumah saja, siapa yang memproduksi pangan? Hari-hari ini kita tengah panen padi. Terhitung dari Maret-Mei nanti, periode yang dinamakan panen raya itu kira-kira produksinya mencapai 60%-65% dari produksi padi dalam setahun. Jika petani harus #dirumahsaja, siapa yang memanen padi? Jika pekerja penggilingan harus #dirumahsaja, siapa yang menggiling padi? Ujung dari semua ini: jika petani #dirumahsaja padi tidak dipanen, penggilingan padi tidak mendapatkan gabah, dan beras di pasar bakal langka.

Kita tahu beras adalah pangan pokok semua perut warga. Partisipasi konsumsi beras oleh warga merata di seantero negeri. Dalam struktur pengeluaran rumah tangga, beras mendominasi: rerata 24% dari total pengeluaran. Ketika harga beras naik lantaran pasokan seret karena petani #dirumahsaja, panic buying bakal terjadi. Hanya warga berkantong tebal yang bisa memborong beras.

Tak terbayang bagaimana kondisi sosial-politik apabila itu terjadi. Bukan mustahil situasi 1997-1998 terulang: rezim tumbang. Itu baru beras. Padahal, kita tahu desa juga penghasil pangan pokok dan penting selain padi. Seperti jagung, kedele, gula, kacang-kacangan, aneka umbi-umbian, daging (sapi, kambing/domba, dan unggas), telur (ayam, puyuh, itik), pelbagai sayuran, aneka komoditas hortikultura dan buah-buahan. Jika petani #dirumahsaja, produksi semua pangan penting itu terancam. Impor, yang biasa jadi jurus penguasa, tidak bisa lagi jadi solusi. Implikasi korona yang memutus/membatasi lalu lintas hubungan dan perdagangan antarbangsa karena lockdown membuat impor bukan saja sulit, tetapi nyaris mustahil.

Jadi, dalam perang menghentikan penyebaran virus corona, bukan hanya dokter, perawat, dan tenaga medis yang berada di garis terdepan (frontliner), petani juga jadi ujung tombak kita semua untuk menjamin ketersediaan logistik (baca: pangan). Lewat tangan petani dalam memproduksi pangan pokok dan penting, sayur, dan buah-buahan petugas medis, elite politik, dan kita semua akan mendapatkan asupan pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Kualitas asupan pangan akan menjaga imunitas tubuh, menentukan berhasil-tidaknya, dan daya tahan kita berperang melawan virus korona.

Sponsored

Karena itu, perlu segera dibuat aneka langkah nyata untuk melindungi desa dan petani. Ini menyangkut kepentingan strategis melawan korona. Pertama, pemerintah perlu merealokasi stimulus Rp405 triliun untuk dialirkan sebagian guna membantu desa dan petani. Bukan sebaliknya, menyunat anggaran Kementerian Pertanian untuk Covid-19.

Betapa strategisnya sektor pertanian/pangan dalam masa pandemi Covid-19 tidak perlu diragukan lagi. Bisa dipahami jika kemudian Presiden AS Donald Trump menyuntik petani yang terpukul Covid-19 sebesar US$19 miliar (Rp300 triliun). Langkah realokasi Dana Desa oleh pemerintah juga harus membuat warga desa/petani lebih berdaya dalam produksi pangan. Jaminan akses petani atas input (benih, pupuk, air) tak bisa ditawar.

Kedua, rantai pasok produk dari desa, terutama pangan, harus dijaga dan dijamin berjalan baik. Bagi warga desa ini berarti pendapatan terjaga, bagi warga luar desa berarti pangan dan produk lain tetap tersedia. Rantai pasok yang berjalan baik akan menutup peluang spekulasi, panic buying, dan ekskalasi kenaikan harga. Semua ini penting bagi konsumen. Ketika karantina dan pembatasan terjadi, arus logistik terhambat. Produk petani tak terserap. Upaya kreatif menghubungkan produsen-konsumen lewat pesanan online selain memperpendek rantai pasok juga menjamin aktivitas produksi berjalan. Ini semua perlu protokol khusus agar aktivitas produksi dan logistik itu tetap terjaga baik.

Ketiga, desa dan elemennya (pemerintah desa, dan kelompok masyarakat) perlu didampingi agar bisa meningkatkan kapasitas, agar lebih berdaya melawan korona. Misalnya, mendaya-gunakan potensi desa penghasil empon-empon atau memproduksi masker sederhana. Pendek kata, warga desa harus dipastikan tetap bisa bekerja dalam situasi perang melawan korona. Termasuk apabila desa harus dikarantina.

Keempat, desa perlu segera melakukan pendataan mandiri berbasis masyarakat ihwal korona secara digital. Pendataan ini akan menjadi basis pengelolaan orang dalam pemantauan atau pasien dalam pemantauan yang ada di desa. Termasuk jika ada yang positif Covid.19. Pengalaman masa lalu mengajarkan, desa bisa mengatasi masalahnya sendiri. Desa punya aneka cara dan kearifan untuk menghadapi aneka masalah. Namun, dalam perang melawan korona, desa membutuhkan solidaritas semua pihak. Hari-hari ini banyak pihak membuat kegiatan donasi, crowd funding, mengundang sukarelawan, guna saling membantu. Desa juga membutuhkan itu. Ini penting untuk menjamin orang desa tetap berpdoduksi dan kita semua bisa makan.

Jika desa dan petani terancam korona, pangan kita pun terancam. Jika itu terjadi, bencana/krisis pangan bakal terjadi. Ketika bencana/krisis pangan terjadi, ini sama artinya ancaman serius terhadap kehidupan.

Berita Lainnya