sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id
Didin Nasirudin

Pembantaian Atlanta: Menguak tabir kekerasan rasial selama ratusan tahun

Didin Nasirudin Selasa, 23 Mar 2021 16:19 WIB

Trump siap comeback di 2022 dan 2024 sebagai warrior bagi kaum kulit putih

Terpilihnya Biden dan tergusurnya Trump dari Twitter pascapenyerbuan Capitol Hill pada 6 Januari membuat ketegangan rasial dalam politik AS sedikit mereda. Tetapi pengusaan Trump terhadap Partai Republik tidak luntur. 

Republican National Congress sebagai mesin politik terbesar Partai Republik masih dikuasai orang-orang dekat Trump. Elektabilitas Trump di kalangan pemilih Partai Republik juga masih di kisaran 80%. Tidak heran jika para pengamat meyakini Trump akan menjadi kingmaker di midterm elections 2022 dani capres Partai Republik di Pilpres 2024.

Apalagi fakta demografis menunjukkan, kaum kulit putih akan menjadi kelompok minoritas pada 6 pilpres ke depan, sehingga kaum kulit putih memerlukan seorang warrior seperti Trump yang bisa membuat kaum kulit putih tetap mendominasi politik AS meskipun secara demograsi menjadi minoritas.

Menurut data Biro Sensus AS, pada 1910, populasi kaum kulit putih masih di angka 88,1%. Pada 2019, populasi mereka turun drastis menjadi 60,1%. Pada 2045, kaum kulit putih hanya 49,7%, alias minoritas jika dibandingkan nonkulit putih.

Kelompok Asian American menjadi kelompok demografi yang akan tumbuh paling pesat, yakni dari 0,2% pada 1910 menjadi 7,9% pada 2045. Ini berarti prosentasi demografis kaum Asian American naik hampir 40 kali lipat dibanding pada 1910. Sementara prosentasi demografis kaum Hispanik hanya meningkat 27 kali lipat dan kaum kulit hitam hanya 1,2 kali lipat dari 1910.

Jadi semakin dipahami mengapa kelompok Asian American sangat dibenci oleh kelompok Supremasi kulit putih AS!

Pelajaran bagi Indonesia

Sponsored

Indonesia dan AS adalah sama-sama negara multietnis yang menganut sistem demokrasi presidensial. Namun Indonesia menerapkan sistem pemilihan langsung di mana pemenang pilpres atau pileg ditentukan berdasarkan perolehan suara popular dan partai-partai politik juga pragmatis, bukan sistem elektoral dengan partai-pertai politik yang sangat partisan seperti di AS, sehingga gejolak politik relatif lebih mudah diredam.

Hanya saja, penguasaan ekonomi oleh sekelompok kecil pengusaha dan elite politik bisa membuat kesenjangan sosial semakin lebar dan berpotensi menjadi pemicu aksi kerusuhan rasial di masa mendatang. 

Jangan salah, kekerasan rasial di Indonesia juga sudah berlangsung ratusan tahun. Menurut paper Abdul Muntholib dari Jurusan Sejarah FIS Unnes di Forum Ilmu Sosial pada 2 Desember 2008, kerusuhan rasial di Indonesia tidak hanya pada peristiwa Malari 1974, peristiwa kerusuhan Jawa Tengah pada 1980 dan saat krisis moneter pada 1998.

Kerusuhan rasial pertama di Indonesia terjadi lebih dulu dibandingkan di AS yakni pada 1740 di Batavia. Kemudian berulang lagi di Jawa Tengah pada 1918.

Kita bersyukur bahwa sampai hari ini kita terhindar dari kerusuhan rasial meski situasi ekonomi dan sosial cukup bergejolak akibat pandemi. Tetapi hal ini tidak menjamin bahwa Indonesia aman dari peristiwas serupa 1978, 1980 dan 1998 di masa mendatang.

Kita harus waspada!

Berita Lainnya