sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id
Aji Dedi Mulawarman

Setelah kita membaca realitas, Covid-19 mau ke mana?

Aji Dedi Mulawarman Selasa, 24 Mar 2020 23:33 WIB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 28818
Dirawat 18205
Meninggal 1721
Sembuh 8892

Pada 1347-1353, tujuh puluh lima hingga dua ratus juta atau sekitar 60% penduduk Eurasia melayang karena terpapar pes (black death). Kemudian bencana alam di 1815 membuat separuh dunia terimbas dentuman Gunung Tambora. Sejarah juga mencatat sepanjang 1913-1930 terjadinya wabah di berbagai belahan dunia termasuk di masa Hindia Belanda, Jawa Timur mengalami wabah pes yang merenggut puluhan ribu nyawa.

Kejadian luar biasa di atas, biasanya menyebabkan terjadinya apa yang dinamakan Institutional Drift, perubahan yang menyebabkan secara berangsur dan lama menjadi tatanan peradaban baru di masa depan.

Black death muncul di tengah kemunculan peradaban Nusantara di bawah Majapahit, di awal hingga nantinya beratus tahun kemudian kemajuan peradaban Eropa lepas dari kegelapan (the dark ages). Begitu pula peradaban Islam yang berumur ribuan tahun sejak revolusi moral abad ke-7, peradaban Hindu di India, peradaban Cina, revolusi Amerika dan seterusnya. Dan, bencana pandemik Covid-19 saat ini sepertinya adalah awal situasi yang bisa jadi mirip dengan kejadian-kejadian bernuansa Institutional Drift.

Tabel 1. Data Sebaran Covid-19 per 23 Maret 2020 (Sumber WHO dimodifikasi)

Bila dilihat dari perkembangan global, Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda hampir semua negara di dunia menjadi relevan dibicarakan sebagai bagian dari perputaran bandul peradaban yang sedang bergerak menuju kestabilan baru.

Bagaimana tidak? Per 23 Maret 2020 secara global manusia yang positif terpapar Covid-19 telah mencapai 332.930 (40.788 kasus baru) dengan tingkat total kematian 14.510 jiwa (1.727 kasus kematian baru).

Bila dilihat dari peta regional, Eropa merupakan wilayah paparan terbanyak, mencapai 171.424 jiwa yang positif (20.131 kasus baru), dengan kematian mencapai 8743 jiwa (1.318 kasus kematian baru). Lihat data global per region berdasarkan data Coronavirus Disease (Covid-19) Situation Reports-63 WHO per 23 Maret 2020 pukul 10.00, dalam Gambar 1 di atas. 

Dari paparan data per negara, China merupakan negara yang mengalami paparan terbesar, dengan data total positif Covid-19 mencapai 81.601 (103 kasus baru), dengan total kematian 3.276 (9 kasus baru). Italia merupakan negara kedua dengan total positif Covid-19 yaitu 59.138 (dengan 5.560 kasus baru), dan total kematian mencapai 5.476 (649 kasus baru). Amerika Serikat adalah negara ketiga yang memiliki paparan terbesar, dengan jumlah total positif Covid-19 mencapai 31.573 (16.354 kasus baru) dan jumlah total kematian sebesar 402 jiwa (201 kasus baru).

Sponsored

Secara umum Afrika merupakan daerah yang relatif kecil paparannya hingga per 23 Maret 2020, dengan kasus terbesar di Afrika Selatan (positif Covid-19 sejumlah 274/34 dengan 0 kematian. Jumlah kematian terbesar tercatat di Algeria yang mencapai 17/2 jiwa. 

Tabel 2. Negara, teritorial atau area yang terkonfirmasi terpapar Covid-19 per 23 Maret 2020

Lonjakan terjadi pada tanggal 24 Maret 2020 pukul 15.51 jumlahnya telah meningkat dari 332.930 menjadi 334.981, kematian dari 14.510 menjadi 14.652 jiwa dari 187 negara yang terpapar menjadi 190 negara.

Bagaimana dengan Indonesia? Di titik mana Indonesia kini? Data menunjukkan Indonesia berada di level yang telah memerlukan penanganan serius. Ya! Semua yang berkenaan dengan pandemi global memang harus serius, tetapi tidak harus dihadapi dengan ancaman dan “politicking” mengerikan seperti yang terjadi di media sosial saat ini. Data WHO menunjukkan total yang terpapar Covid-19 (514), data kasus terbaru (64), serta total kematian (48) serta data kematian terbaru (10). Sementara data nasional per 24 Maret 2020 pukul 15.38 WIB dari laman resmi pemerintah menunjukkan peningkatan yang sedikit berbeda, yaitu positif Covid-19 sebanyak 686 kasus, dalam perawatan 601 orang, sembuh 30 orang, dan meninggal 55 orang.

Data nasional (Lihat Gambar 1) menunjukkan masih mengalami kecenderungan meningkat drastis di dalam negeri, sehingga perlu dipantau kemungkinan peningkatannya per hari yang harus dicegah dengan berbagai program yang tegas dari pemerintah. Program-program ini sebaiknya dilaksanakan tanpa harus terlalu banyak conflict of interest dari berbagai kalangan di dalam negeri, terutama yang berbahaya bila ingin memancing di air keruh.

Gambar 1. Tren Nasional Penyebaran Covid-19 per 24 Maret 2020
Data nasional bila dimasukkan dalam peta global, memang lebih landai dibandingkan dengan perkembangan paparan virus di negara-negara di Eropa dan terutama Amerika Serikat (lihat Gambar 2). Mari berharap data nasional di negeri kita tersebut semoga adalah data yang sebenarnya, karena jika tidak dan ada yang di-“hidden”, artinya pemimpin negeri kita, baik lokal maupun nasional sedang bermain api dengan kematian anak negerinya sendiri.

Bila memang benar datanya benar dan sahih, artinya negeri kita tidak terlalu mengkhawatirkan kondisinya. Meskipun begitu, kita wajib dan harus selalu waspada, seperti yang telah dilakukan pemerintah di berbagai level saat ini. Kita perlu mengapresiasi tanggung jawab pemerintah untuk anak negeri. 

Situasi berbeda terjadi pada perkembangan media sosial yang menampakkan seakan negeri kita tergiring menuju jurang kehancuran dalam waktu tidak terlalu lama. Ancaman yang sangat tidak sehat dari banyak pihak, baik yang nyinyir, hoaks, maupun yang mempunyai kepentingan politik menyebar bak virus online yang lebih dahsyat dari Covid-19 itu sendiri.

Keresahan saya sebenarnya terletak pada politisi yang hanya banyak bicara dan memanfaatkan kecerdasan diksi dan kerupawanan mulut manisnya atas nama Covid-19, kemudian menunggangi untuk kepentingan kuasa. Belum lagi faksi-faksi yang memang punya keahlian memperkeruh situasi negeri ini, bukannya membantu penyelesaian, malahan beramai-ramai melakukan provokasi dengan berbagai cara (baik yang tampak maupun silent operation) dalam rangka menjatuhkan reputasi pemimpin negeri, baik di tingkat lokal hingga nasional.

Gambar 2. Kurva Epidemik Covid-10 yang terkonfimasi di berbagai region secara Global per 23 Maret 2020Saya tidak sedang berpendapat melawan arus, bahwa bahaya serius corona di negeri kita akan berpotensi banyak merenggut nyawa. Saya juga sepakat atas kemungkinan-kemungkinan itu. Saya ikut prihatin dan sedih melihat banyak kasus merebak dan penanganan yang ada, belum seberapa cepat dibanding dengan penyebaran virus. Saya lebih sedih lagi karena banyak pahlawan kesehatan mulai banyak yang syahid di medan juang kesehatan. Mereka pasti adalah pahlawan-pahlawan yang harusnya dimakamkan di taman makam pahlawan sejajar dengan TNI atau mantan presiden/wakil presiden, dan pahlawan lainnya. Mereka sangat layak diberi kehormatan untuk itu. Jangan lupa juga pemerintah wajib memberi tunjangan hidup bagi keluarga yang ditinggalkan dan membebaskan biaya pendidikan anak-anak mereka hingga sarjana, bahkan bila memang mereka secerdas orang tuanya almarhum.

Jadi? Mau ke mana kita? Apa yang kita akan lakukan? Cukupkah kita hanya berserah pada penanganan taktis tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan setelah Covid-19? Bersikap taktis dan strategis memang saat ini harus dan wajib kita perjuangkan demi mengurangi hingga nol-nya kasus Covid-19 dan kemungkinan turunan yang berubah dan berbeda kemudian. 

Pertanyaan lanjutannya adalah apa yang akan kita lakukan sekarang cukup hanya begitu? Apakah perlu kreativitas yang lebih dari itu? Bagaimana dengan posisi negeri ini, anak negeri ini, baik ekonomi, politik, sosial, hukum, pertahanan, keamanan, hukum, pendidikan, psiologis, hingga kebudayaan dan peradaban kita nantinya? Bagaimana posisi/kekuatan negeri ini dalam satu, dua, enam bulan, setahun, dan seterusnya, di mana pada saat bersamaan aktivitas transaksi, produksi, dan ekonomi hampir berhenti total, dan rupiah terjun bebas tak terkendalikan? Masyarakat tak berdaya di dalam rumah akibat social distancing memicu perubahan relasi kemanusiaan.

Di sisi lain, kota-kota mulai terpapar kegelisahan maupun ketakutan penularan berbagai hal. Bagaimana kita menangani perubahan signifikan seperti itu? Cukupkah hanya penyelesaian taktis atas coronavirus dan setelah itu negeri ini kembali menjadi seperti sediakala? Kalau memang itu yang terjadi, Alhamdulillah, kita berdoa sejauh memang kebaikan menjadi penunjuk negeri ini dan berada di depan, bukannya patgulipat atau bisa jadi penunggang kuda politik dan ekonomi yang terlalu dominan di kebanyakan para pemimpin dan politisi di negeri ini.

Pertanyaan lebih jauh, adakah antisipasi pada saat kegagalan global menangani secara bersama sehingga terjadinya peta perubahan peradaban? Saya tidak sedang berandai-andai dengan konspirasi yang banyak tersebar di banyak media sosial itu benar atau tidak. Tetapi bila memang permainan konspirasi terjadi sejak Juli-Agustus 2019 melalui paparan flu (entah itu Covid-19 atau bukan) yang merenggut banyak nyawa di Amerika Serikat, maka terjadinya pertemuan negara-negara internasional di China dalam waktu yang tidak terlalu lama di akhir 2019, hingga meledaknya Covid-19 di China awal Februari 2020 dalam runtun waktu yang sangat logis, dapat dibaca sebagai bagian dari perseteruan perang Barat yang sedang collapse dengan barisan peradaban di ruang Jalur Sutra Baru.

Perang dagang yang tak berkesudahan dan bisa jadi berujung pula pada kemungkinan seperti yang banyak terjadi di masa lalu, tijitibeh, mati siji mati kabeh (mati satu mati semua), sampyuh, Perang Bubat, Blitzkrieg, Kamikaze, atau apa lagi istilahnya. 

Saya telah menulis pada 2016, bahwa sejarah sangat terkonstruksi pada logika Institututional Drift seperti dikatakan Acemoglu dan Robinson, yang ditandai dengan banyak fenomena jatuh bangunnya peradaban masa lalu yang terlalu berkutat pada diskursus kebejatan politik-ekonomi. Mereka berpendapat bahwa peradaban masa itu akan tergusur oleh kekuatan negara atau peradaban yang menjadi pemimpin peradaban kemudian.

Saya tidak begitu sepakat dengan analisis Institutional Drift dari Acemoglu dan Robinson tersebut, karena pada dasarnya kekuatan Cultural Drift sebenarnya lebih dahsyat menjadi peubah sekaligus pemicu munculnya pemimpin moralitas peradaban sebagaimana terjadi di masa lalu. Contoh Cultural Drift berbasis moralitas sudah banyak terjadi di masa lalu seperti kemunculan peradaban Islam yang umurnya jauh hingga ribuan tahun sejak 624 dan mencapai puncaknya pada1324 hingga 1924.

Peradaban Barat berbasis Institutional Drift rata-rata hanya berumur 300-500 tahun dan sedang mengalami collapse-seperti kita lihat sekarang. Semoga kemerdekaan Indonesia 1945 berada pada logika Cultural Drift bila Pancasila memang adalah kata kunci kebudayaan dan peradaban.

Relasi menarik adalah apakah kasus pes di Jawa Timur masa Hindia Belanda sekitar 1913-1930 sebagaimana saya jelaskan di awal tulisan ini merupakan bagian tak terpisahkan munculnya gerakan Sarekat Islam di bawah tokoh fenomenal, De Ongkronde van Java HOS Tjokroaminoto, hingga nantinya muncul tokoh nasional Soekarno, yang kemudian membawa Indonesia menuju kemerdekaan 1945? Masalahnya kita terlalu silau dengan gempuran (pemikiran) gemerlap peradaban di luar sehingga bisa jadi negeri kita akan terjebak pada logika Insititutional Drift berumur jagung.

Semuanya bisa jadi punya potensi mengarah pada perubahan baru peradaban. Pertanyaan penting dari semua ulasan ini adalah: lalu apa yang akan dilakukan Indonesia? Menjadi peubah atau kembali menjadi bebek peradaban? Menarik lirik lagu Toto berikut yang bisa menjadi penyemangat kita bahwa kitalah pemberani, penyintas masa depan. Mungkinkah?

Every thing's gonna be alright boys, help is on the way

Hold your head up high now, there's no need to cry now

We're not running anymore

Leave the politics behind boys, they're not working anymore

There's so much more at stake here, it's make or break here

Haven't we been here before - tell me what we're waiting for

You gotta remember, you don't have to be afraid

You still have the freedom to learn, and say what you want to say
 

Berita Lainnya