sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Buruknya pencegahan dini Covid-19 di RS Persahabatan Jakarta

Kekurangan tenaga medis, tidak cukupnya fasilitas kesehatan untuk melakukan pengecekan, dan tidak adanya instruksi dari direktur jadi alasan

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Minggu, 15 Mar 2020 15:20 WIB
Buruknya pencegahan dini Covid-19 di RS Persahabatan Jakarta
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 29521
Dirawat 18308
Meninggal 1770
Sembuh 9443

Langkah preventif coba diambil sejumlah jurnalis, seusai salah seorang pejabat tinggi negara terdeteksi positif coronavirus. Para jurnalis mencoba mengecek kesehatan ke rumah sakit (RS) rujukan RS Persahabatan atas inisiatif pribadi.

Pasalnya, sejumlah jurnalis sempat mengikuti kegiatan pejabat negara tersebut dalam tiga pekan terakhir. Baik di istana negara, maupun kegiatan lainnya di Jakarta dan di luar Jakarta.

Hanya saja, pihak RS Persahabatan terlihat tidak siap. Jurnalis yang telah berkumpul sejak pukul 08.00 WIB hanya disodori selembar formulir pendaftaran oleh resepsionis, tanpa pengecekan kesehatan apapun.

"Kami enggak bisa cek sekarang. Tenaga medis kurang. Direktur juga lagi enggak ada, harus nunggu keputusan direktur dulu," kata resepsionis tersebut meminta permakluman, Minggu (15/3).

Kekurangan tenaga medis, tidak cukupnya fasilitas kesehatan untuk melakukan pengecekan, dan tidak adanya instruksi dari direktur menjadi alasan pihak rumah sakit tak melakukan tindakan medis apapun bagi 30 jurnalis yang datang.

Bahkan, salah seorang dokter Rumah Sakit Persahabatan Royen Edison, mengaku pihak rumah sakit masih dalam upaya penyiapan sejumlah alat kesehatan untuk pemeriksaan.

"Nanti ibu Direktur Utama akan datang. Kami juga sedang menyiapkan alat-alat untuk memeriksa," ucap Royen.

Lebih parah lagi, ketika dihubungi terpisah Direktur RS Persahabatan Rita Rogayah, mengaku tidak siap jika adanya pemeriksaan secara bersamaan jika jumlahnya sebanyak 30 pasien.

Sponsored

Padahal, negara-negara seperti China, Vietnam, dan Singapura mampu memeriksa ratusan orang sehari untuk mencegah coronavirus.

"Kami baru tahu kalau ada yang mau periksa. Tidak bisa tiba-tiba ada 30 orang datang mau periksa," jelas Rita kepada wartawan.

Penolakan untuk masyarakat umum

Kekacaubalauan penanganan dini coronavirus di RS Persahabatan semakin buruk ketika yang akan memeriksa kesehatannya adalah nonjurnalis atau masyarakat umum. 

Pihak rumah sakit langsung mengatakan pengecekan tutup, tanpa menanyakan keluhan yang dialami orang tersebut terlebih dahulu. 

"Pengecekan sekarang sudah tutup, balik besok saja," ujar resepsionis.

Namun, ketika yang datang di antrian selanjutnya adalah jurnalis, resepsionis buru-buru menyodorkan lembaran formulir sembari meminta pemakluman.

"Oh jurnalis, isi dulu saja (formulir), kaya yang lain. Nanti dikontak lagi karena direktur lagi enggak ada," ucapnya.

Formulir yang diajukan pun hanya berisi sejumlah daftar gejala sakit yang sedang dialami seperti demam, pilek, batuk, dan sakit tenggorokan, serta riwayat kontak langsung dengan area dan orang positif corona, tanpa instruksi dan langkah-langkah pengamanan diri lainnya.

Sedangkan, badan kesehatan dunia (WHO) telah menetapkan coronavirus atau Covid-19 sebagai wabah pandemi yang dapat menular dengan cepat melalui udara dan cairan tubuh.

Berdasarkan data terbaru, jumlah pasien yang telah terjangkit di telah mencapai 156.400, dengan angka kematian mencapai 5.833 di seluruh dunia. Sementara tingkat kesembuhan tercatat sebesar 73.968 pasien.

Berita Lainnya