sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Data menjadi hal penting dalam penulisan fiksi sejarah

Penulis sejarah selalu menghubungi pihak keluarga yang bersangkutan.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Sabtu, 14 Des 2019 23:20 WIB
Data menjadi hal penting dalam penulisan fiksi sejarah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Bagi sebagian orang, menulis buku fiksi sejarah merupakan alternatif untuk dapat menyajikan cerita sejarah dengan menarik. Bahkan dibanding buku sejarah, fiksi sejarah juga dinilai mampu memberikan keleluasaan terutama memberi ruang imajinasi bagi penulis.

Meski begitu, fiksi sejarah tetap memiliki batas. Terlebih karena sejarah merupakan cerita tentang seseorang atau sosok tokoh di masa lalu. Pelaku sejarah yang diceritakan bukanlah rekaan atau tokoh fiksi, tetapi nyata dan pernah ada. Sehingga menulis fiksi sejarah tetap membutuhkan riset dan pengumpulan data. 

Itulah sebabnya tidak mudah menulis buku fiksi sejarah. Butuh kehati-hatian dan kreatifitas penulis dalam mengawinkan informasi sejarah yang berbasis data dan juga alur cerita yang sifatnya subjektif. 

Sastrawan penulis buku fiksi sejarah Sergius Susanto mengatakan, data tetap menjadi hal yang paling penting dalam proses penulisan sejarah fiksi. 

"Data merupakan hal yang paling kami junjung tinggi dalam penulisan fiksi sejarah," kata Sergius dalam diskusi Litbeat di Post Santa, Jakarta, Sabtu (14/12). 

Penulis sejarah pasti selalu menghubungi pihak keluarga yang bersangkutan. Selain untuk mendapatkan izin atau restu, juga agar karya tulisnya dapat dikoreksi dan memperoleh informasi yang jelas dan akurat.  

Ketika menulis buku fiksi sejarah berjudul 'Hatta Aku Datang Karena Sejarah' misalnya, dia mengaku menemui puteri kandung wakil presiden Indonesia pertama tersebut, Meutia Hatta. Karyanya tentang sosok Hatta dikoreksi oleh Meutia Hatta selama tiga bulan. 

"Ketika menulis Romo Mangun dikoreksi hampir setengah tahun, ketika menulis Chairil Anwar juga dikoreksi Evawani Alissa, putri tunggal Chairil Anwar," katanya.

Sponsored

Bahkan bukunya tentang Chairil Anwar awalnya ingin diberi judul, 'Mampus Kau Dikoyak Sepi'. Namun putrinya tidak setuju. Sehingga dia memberi judul bukunya 'Chairil Anwar: Ini Kali Tidak Ada Yang Mencari Cinta'. 

Saat ini, dia baru saja rampung menggarap buku fiksi sejarah tentang empat tokoh nasional yang dibuang ke Banda Neira yaitu, Sutan Syahrir, Muhammad Hatta, Tjipto Mangunkusumo dan Iwa Kusuma. Buku yang masih di meja editor itu bercerita dari sudut pandang Sutan Syahrir.

Sergius mengatakan mendatangi puteri Sutan Syahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir. Dia sempat khawatir kalau karyanya itu justru ditolak atau tidak disetujui oleh Parvati. Padahal, dia sudah melakukan residensi ke Banda Neira, mengumpulkan banyak data dan tinggal di Banda Neira selama dua bulan. 

"Saya khawatir, tetapi saya bilang ke ibu Vati ingin menulis perjuangan Sutan Syahrir dengan latar belakang penantian cinta Sutan Syahrir kepada Maria. Untungnya diizinkan," katanya. 

Menurutnya restu dari pihak keluarga sangatlah penting, setidaknya hal tersebut dapat menjadi privilege agar masih tetap dalam koridor menulis karya sejarah.

Selanjutnya yang tidak kalah sulit dalam membuat buku fiksi sejarah, adalah, soal pendalaman karakter. Dia mencontohkan seperti Sutan Syahrir selalu memanggil Cipto Mangunkusumo dengan panggilan 'Om'. Sementara Sutan Syahrir memanggil Bung Hatta dengan panggilan Bung atau Atta. Hal itu sangat berguna saat menuliskan gaya dialog ke empat tokoh saat berinteraksi. 

"Kalau bicara, Syahrir selalu menggunakan pendekatan aku. Dia tidak pernah memanggil dirinya dengan kata saya. Berbeda dengan Hatta yang menggunakan pendekatan saya dan itu ditemukan di memoarnya," kata dia. 

Dia tidak menampik jika dalam menyajikan cerita sejarah terdapat 'bunga-bunga' yang dilebihkan, terutama untuk memberi kesan terhadap sebuah cerita. 

"Yang penting data tahunnya harus benar. Seperti tahun lulus sekolah Syahrir dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), perjumpaan dengan Bung Hatta mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia, itu harus benar datanya," katanya.  

Senada dengan itu, Sastrawan Kurnia Effendi mengatakan, dalam penulisan fiksi sejarah, data sangat berguna untuk menjadi patokan dalam melihat attitude dan karakter tokoh yang diceritakan. 

Penulis buku Raden Saleh ini mengatakan meski bercampur dengan subjektifitas, setiap alur cerita fiksi sejarah dipertimbangkan oleh penulis secara matang.

"Tetapi kami bertanggung jawab. Artinya segala sesuatu yang dituliskan itu dipertimbangkan secara matang. Kami memang membuat fiksi sejarah, dan kami tidak neko-neko, semua yang di dalam buku Raden Saleh, kami buat linear," terang dia.

Kurnia menjelakan, dalam menulis buku Raden Saleh juga berupaya menemui saksi sejarah atau ahli waris dari Raden Saleh, namun beberapa orang yang mengaku ahli waris Raden Saleh justru tidak dapat memberikan informasi banyak sehingga tidak pantas dijadikan rujukan. 

"Raden Saleh itu sudah seratus tahun lalu. Kalau rujukan, saya lebih memilih ahli seperti Peter Carey," kata dia.

Dia mengatakan fiksi sejarah sangat memungkinkan bercerita sesuatu hal yang tidak disajikan dalam buku sejarah pada umumnya. Kendati begitu, fiksi sejarah tidak dapat dijadikan rujukan 100%, tetapi penyajian data mengenai peristiwa penting sang tokoh tetap berdasarakan fakta. 

"Tahun-tahunnya tepat. Kapan Raden Saleh mulai berlayar ke Belanda. Kapan pameran di Belgia dan Perancis, itu tepat tahunnya," ucap dia.

Meski demikian, fiksi sejarah tidak kaku seperti buku sejarah pada umumnya. Sehingga pembaca dapat menikmati alur cerita yang disajikan. 

"Buku sejarah biasa tidak ada impresi yang lentur, ini (fiksi sejarah) bahkan ada dialog, dan becandanya, tetapi semuanya dalam konteks data yang benar," kata dia.

Sergius menambahkan, penulis fiksi sejarah terkadang harus dapat memposisiskan diri sebagai produser atau sutradara, hal itu karena menulis fiksi sejarah juga membutuhkan feeling dan pendalaman karakter. 

"Ketika saya menyelesaikan scene Chairil Anwar, saya menulisnya di RS Cipto Mangunkusumo. Saking saya ingin dapat feeling kematian seperti apa," katanya.

Berita Lainnya