sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Diserang doxxing, jurnalis bisa kena mental

Hampir semua rata-rata sama bahwa doxxing itu adalah penyebaran identitas individu tanpa persetujuan dari pemilik.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Minggu, 08 Mei 2022 14:38 WIB
Diserang doxxing, jurnalis bisa kena mental

Bagaimana mengenali doxxing dan apa saja mitigasi yang bisa dilakukan? Menurut kondisi yang dihadapi Indonesia dalam konteks dua tahun terakhir di 2020 dan 2021 dalam catatan SAFEnet ditemukan khususnya tentang berapa kali suatu insiden terjadi

"Kita menemukan bahwa puncak-puncak serangan itu seringkali terjadi bersamaan dengan momentum politik. Jadi, ada satu pandangan yang beredar di kami, di para peneliti juga, melihat data tersebut memperlihatkan bahwa motif politik itu mendukung banyaknya serangan siber yang terjadi," kata Direktur SAFEnet Damar Juniarto, salah satu lembaga yang banyak melakukan pencatatan digital.

Damar berbicara dalam episode 2 Media Lab gelaran Dewan Pers bertajuk 'Dampak Doxing terhadap Jurnalis dan Solusinya' membahas perkembangan tren terkini dari sejumlah isu jurnalistik, Selasa (26/4).

Ia menyebutkan, misalnya banyak kegiatan aksi mahasiswa yang turun ke jalan dan ternyata mereka pada saat melakukan aksi mengaku mendapat serangan digital.

Dikatakan, derajat dan serangan siber sebenarnya perlu dipahami sebagai sesuatu yang khas terutama karena kalau serangan ini memang ditargetkan tepat kepada orang-orang dengan prasarana teknologi digital. Cara serangannya mungkin berbeda-beda seiring dengan teknologi yang juga semakin maju, tetapi yang selalu tetap atau selalu konstan itu adalah niat jahat dari pelaku serangan dan dampak dari serangan tersebut.

"Saya ulangi lagi jadi yang selalu tetap itu adalah niatnya dan juga dampaknya. Sementara kalau caranya mungkin bisa bermacam-macam, ambil contoh misalnya yang selalu sama itu adalah bagaimana motif sebuah serangan itu terjadi," sambung Damar.

Diuraikan, niat pelaku tidak jauh-jauh dari tiga hal pertama. Apakah itu sesuatu yang sifatnya pribadi, ataukah itu sifatnya lebih ke ekonomi atau penguasaan uang misalnya dengan penipuan atau yang terakhir itu adalah sifatnya sesuatu yang politis.

Katanya, orang yang mengalami doxxing bisa sampai kena mentalnya dan kemudian jadi marah karena diganggu di ruang siber. Tetapi juga ada serangan doxxing sebagai sesuatu yang sebenarnya sudah lama. Tetapi sebagai sebuah serangan kemudian berevolusi ke bentuk-bentuk baru yang serasa menarik untuk dilihat dan ditemukan sebagai sebuah kekhasan.

Sponsored

Doxxing sendiri sebetulnya adalah singkatan dari 'dropping document' atau istilahnya membongkar dokumen-dokumen dan informasi yang disebarkan oleh doxxer atau pelaku doxxing. Bisa saja itu berasal dari informasi yang tersedia secara publik atau dia misalnya melakukan riset terhadap data-data dokumen publik. Atau melakukan dengan cara akses yang tidak secara legal terhadap database dari targetnya.

"Kenapa doxxing kami kategorikan sebagai sebuah serangan? Karena memang kita melihat bahwa tidak semua nyata yang dilakukan sebagai perbuatan yang iseng. Tetapi ada intensinya," ujar Damar.

Jadi, diteruskannya, doxxing adalah sebuah upaya mengungkap sebuah identitas data informasi seseorang dan detail-detail lainnya tanpa persetujuan. Ini dilakukan dengan tujuan atau sesuatu yang sifatnya punya tujuan-tujuan tertentu.

Bagaimana terjadi fenomena sebagai bagian cara kekerasan yang dialami oleh jurnalis yang semula itu terjadi di ruang fisik, namun saat ini terjadi di ruang siber. Jurnalis adalah kelompok yang rentan didoxxing, selain aktivis prodemokrasi dan juga warga.

Hampir semua rata-rata sama bahwa doxxing itu adalah penyebaran identitas individu tanpa persetujuan dari pemilik.

"Mayoritas trauma dan juga membatasi praktik jurnalistik terkait dengan mobilitas yang pernah mereka tulis dan memancing doxxing. Mereka memilih untuk tidak lagi terlibat dalam objek berita yang pernah memantik doxxing," kata jurnalis liputan6.com Andri Haryanto, yang menyelesaikan program magister kriminologi pada FISIP UI, menulis tesis 'Doxxing Sebagai Kejahatan Digital Terhadap Jurnalis'.

Berita Lainnya