sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Media harus kedepankan kode etik dalam beritakan Covid-19

Konten seperti itu tidak akan membantu siapapun, tidak akan membantu negara, atau masyarakat dalam menangkal penyebaran Covid-19.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Selasa, 03 Mar 2020 13:41 WIB
Media harus kedepankan kode etik dalam beritakan Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) mengimbau agar seluruh media mengedepankan kode etik dalam menuliskan pemberitaan ihwal coronavirus (Covid-19). 

Setidaknya ada delapan poin yang menjadi sorotan AMSI. Pertama, mengenai pemberitaan dua orang yang dinyatakan positif terpapar virus Covid-19.

"Identitas penderita coronavirus harus dirahasiakan. Nama, alamat dan data pribadi pasien tidak boleh disebarluaskan," kata Ketua AMSI Wenceslaus Manggut, berdasarkan keterangan resminya, Selasa (3/3).

Laki-laki yang akrab disapa Wens itu menjelaskan, media wajib memastikan pemerintah sudah menangani para penderita secara maksimal dan melakukan segala yang diharuskan demi mencegah penyebaran virus ini. 

Selain itu, AMSI juga meminta agar media menghindari menciptakan konten berita yang memicu publik menjadi panik. Konten seperti itu tidak akan membantu siapapun, tidak akan membantu negara, atau masyarakat dalam menangkal penyebaran Covid-19 dan menangani mereka yang tertular. 

Ada baiknya media memperbanyak konten berita yang sifatnya edukatif. Misalnya tentang bagaimana cara penularan, cara mengantisipasi, cara bersin dan cara batuk agar virus apapun tidak menular ke keluarga, sahabat di kantor, atau orang lain di area publik yang mereka kunjungi. 

"Keempat, edukasi publik bahwa peluang sembuh dari virus ini sangatlah besar. Tumbuhkan optimisme lewat data. Data kesembuhan tersedia di banyak negara," tegasnya.

Sebagi contoh, adalah Vietnam. Pemerintah setempat telah mengumumkan semua yang terkena virus ini sembuh total. Hal-hal positif seperti itulah yang harus diberitakan. Kehati-hatian sangat penting dibandingkan menumbuhkan ketakutan di tengah masyarakat. Ketakutan dan paranoid tidak membantu apa-apa, justru memperparah suasana.

Sponsored

Itulah sebabnya AMSI melihat memberikan informasi edukasi sangatlah penting, khususnya tentang bagaimana menjaga kesehatan. Misalnya konsumsi makanan sehat, olahraga, cara mencuci tangan, dan begitu banyak cara-cara sederhana agar terhindari dari virus ini. 

"AMSI mendorong para pebisnis, pemilik, dan pengelola fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, restoran, hotel, perkantoran, transportasi umum untuk mengikuti ketentuan standar World Health Organization (WHO) dan pemerintah, dalam mengoperasikan fasilitas publik demi mencegah terjadinya penyebaran virus ini," papar dia..

Apalagi media sejatinya dapat mendorong dan membantu pemerintah agar terus melakukan sosialisasi secara masif tentang standardisasi penanganan yang dilakukan. Oleh karena itu, hindari mempergunakan ruang media untuk debat kusir, bertengkar, berpolemik. Hal itu justru dapat menimbulkan kebingungan dan kepanikan.

Terakhir, AMSI mendorong agar seliruh media memerhatikan aspek-aspek keamanan dalam menugaskan reporter atau kru mereka. 

"Agar dalam penugasan setiap wartawan dan kru ke lapangan memerhatikan aspek-aspek keamanan dan keselamatan sesuai prosedur standar masing-masing," tegas Wens.

Tidak lupa, masyarakat dan para pengelola media harus mencegah penyebaran berita bohong, dengan membaca berita dari sumber terpercaya, serta terus tumbuhkan semangat optimisme. Masyarakat harus percaya, bahwa sudah puluhan ribu orang sembuh total dari virus ini.

Pecah kongsi di partai Tommy

Pecah kongsi di partai Tommy

Rabu, 01 Apr 2020 06:01 WIB
Memetik laba di tengah pandemi corona

Memetik laba di tengah pandemi corona

Selasa, 31 Mar 2020 17:51 WIB
Nasib pekerja informal yang di ujung tanduk

Nasib pekerja informal yang di ujung tanduk

Senin, 30 Mar 2020 06:10 WIB
Berita Lainnya