sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Penting dan genting, media sosial dalam karya jurnalis

Pemuatan infografis yang berbasis pada pemanfaatan big data adalah cara untuk memaksimalkan isi dan fungsi pemberitaan agar semakin lengkap.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Kamis, 08 Agst 2019 15:26 WIB
Penting dan genting, media sosial dalam karya jurnalis

Jurnalisme di era digital dituntut untuk dapat memberitakan informasi akurat dan lengkap bagi kebutuhan publik. Produksi berita pun tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan media sosial dan penggunaannya yang masif di masyarakat.

“Jika kita tidak memproduksi informasi secara komprehensif, kita tak akan mampu menjalankan berita yang bersifat mendalam dan investigatif,” kata Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan pada peringatan ulang tahun ke-25 AJI, Rabu (7/8).

Saat ini, kata Abdul, media massa telah beralih ke ranah digital yang bertumpu pada platform daring. Dia menyebutkan, rata-rata terdapat 70 media daring pada satu provinsi atau total sekitar 3.000 media online di seluruh Indonesia.

Sejalan dengan perkembangan digital yang pesat, media sosial pun tidak dapat dimungkiri memberi dampak bagi fungsi produksi dan distribusi berita.

Hal ini, menurut Direktur The International Federation of Journalist (IFJ) Asia Pacific Jane Worthington dipengaruhi pemanfaatan ponsel pintar telah melekat dengan gaya hidup masyarakat, tak terkecuali para jurnalis. 

Bermacam layanan dalam ponsel pintar, seperti media sosial pun dipakai oleh jurnalis hampir dalam setiap momen dan rutinitas.

“Melekatnya penggunaan ponsel dan teknologi di dalamnya lantas tak dapat dilepaskan dengan proses produksi berita. Menghadapi perkembangan media digital ini, pekerja media harus makin teliti dan mengecek kembali kebenaran beragam informasi,” ucap Jane.

Dari sisi produksi berita, menurut anggota Dewan Pers Indonesia Asep Setiawan, publik semakin menginginkan kelengkapan informasi. 

Sponsored

“Pemuatan infografis yang berbasis pada pemanfaatan big data adalah cara untuk memaksimalkan isi dan fungsi pemberitaan agar semakin lengkap,” kata Asep.

Di samping itu, kata dia, jurnalisme masa depan harus berbeda dan memiliki nilai tambah dari info yang beredar di media sosial. Produk-produk berita juga perlu mempertimbangkan target publik pembaca yang sesuai dan spesifik dengan jenis informasi yang diberitakan.

Dua sisi

Lebih jauh, Steven Gan, Pemimpin Redaksi Malaysiakini.com juga berpendapat, fungsi media sosial bisa dimaksimalkan untuk mendukung pengembangan kerja jurnalisme. Namun, kata dia, media sosial tak jarang berdampak negatif, khususnya menurunkan kualitas produksi berita. 

Hal ini karena takarannya, lalu ditentukan oleh mekanisme sistem monetisasi berita.

Selain itu, terjadi pula penyalahgunaan media sosial yang bertujuan memengaruhi hasil perolehan suara dalam Pemilu. Seperti banyak diberitakan, kepentingan politik Rusia ditengarai campur tangan dalam pemilu Amerika Serikat 2016 yang menggolkan Donald Trump sebagai Presiden AS hingga kini.

Bahkan media sosial seperti Facebook menjadi alat mobilisasi yang memecah-belah kelompok warga. Hal ini mencerminkan dampak media sosial yang kontraproduktif bagi demokrasi. 

Andreas Harsono, salah satu pendiri AJI, menguraikan di beberapa negara telah terjadi sejumlah tindak kekerasan dan friksi antarwarga akibat penyebaran kabar miring yang memecah-belah.

Di Myanmar, misalnya, tutur Andreas, Facebook digunakan memobilisasi kebencian masyarakat terhadap kelompok minoritas Rohingya. Begitu pula di Srilanka, pertentangan antara kelompok warga berkeyakinan Buddha dan minoritas Hindu semakin meruncing karena propaganda yang disebar melalui media-media sosial.

“Jadi jelas bahwa bahaya media sosial ini di banyak negara mengancam demokrasi bangsa,” ujarnya.

Pandangan itu pun diperkuat oleh ulasan Jane dalam makalahnya “Great Struggle for Media and Journalism” yang disampaikannya dalam forum sebelumnya, Selasa (6/8). Menurutnya, demi mendukung demokrasi dalam suatu negara, pemanfaatan media sosial harus semakin dikelola dengan bijak demi mencegah efek buruknya. 

Hal ini antara lain melalui regulasi pemerintah untuk membatasi akses media sosial bagi warga, dan pengembangan sumber pembiayaan newsroom dengan model bisnis yang ramah terhadap kebutuhan media massa.