sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Peran negatif media dalam misinformasi krisis iklim

Sayangnya, komunitas dan organ lingkungan ketika membuat rilis pers, kampanye, dan pernyataan, itu justru seperti dipinggirkan di media.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Kamis, 07 Apr 2022 21:11 WIB
Peran negatif media dalam misinformasi krisis iklim

Di media, konsensus ilmuwan mengenai krisis iklim dengan dukungan bukti ilmiahnya lebih dari 95 persen, seakan-akan terus tertutupi oleh tangan-tangan tak terlihat dari dunia gelap. Dari liputan media, informasi yang diterima sehari-hari bahwa krisis iklim itu seolah-olah masih fenomena yang diperdebatkan. Itu bukan konsensus, bukan konteks ilmiah semata.

Persepsi publik jadi lebih terbentuk dengan peliputan media. Bukan konsensus dari ilmuwan. Di sini, ada gap (kesenjangan) tentang fakta ilmiah yang tidak tersampaikan kepada publik. "Salah satu penyebab paling besar adalah informasi yang diterima lewat media itu ternyata tidak merepresentasikan temuan ilmiah," cetus Aulia Dwi Nastiti, peneliti di Remotivi, sebuah lembaga studi dan pemantauan media, menjabarkan data riset peliputan media global.

Lebih dalam lagi, sejauh pengamatan Nastiti, kalau misalnya ini gap, sebenarnya yang ditampilkan media itu apa? Dari dua temuan ilmiah juga, melalui analisis konten media dalam skala yang sangat besar dan rentang waktu yang cukup lama, sekitar 40 tahun meneliti artikel berita, (walau konteksnya di Amerika) ditemukan juga bahwa sebenarnya di media itu pernyataan yang kontras atau pernyataan yang berusaha mendebat atau contrarian statement itu seperti rata-rata orang yang menganggap bahwa climate change (perubahan iklim) adalah konspirasi.

"Itu (pernyataan penyangkal) ternyata cukup banyak diberi suara oleh media. Lalu juga rilis pers dari korporasi besar yang banyak memakai energi fosil seringkali diamplifikasi oleh media. Terus koalisi bisnis. Rata-rata orang yang agendanya untuk kontra-aksi iklim. Sedangkan suara-suara kelompok yang pro-aksi iklim malah tidak diberikan ruang oleh media," ujar peneliti yang mengusung program serial liputan mengenai krisis iklim di Remotivi.

Salah satu temuan dari Remotivi juga, dari penelitian yang sedang dikerjakan Nastiti dkk, sebenarnya melihat peran organisasi lingkungan atau komunitas sangat krusial. Terlihat ada kaitan yang sangat signifkan, peran organisasi dan komunitas lingkungan dalam membentuk literasi dan kesadaran publik soal krisis iklim.

Sayangnya, komunitas dan organ lingkungan ketika membuat rilis pers, kampanye, dan pernyataan, itu justru seperti dipinggirkan di media. Media malah lebih banyak memberi ruang pada rilis-rilis pernyataan, agenda, dan kampanye dari perusahaan-perusahaan besar yang lebih banyak memakai energi fosil.

"Walaupun ini di konteks global, saya rasa, ini juga terjadi di Indonesia. Tapi poin penting dari berbagai studi bisa dilihat bahwa media itu adalah variabel dari faktor yang sangat penting dalam menentukan persepsi publik. Dia sebagai variabel, artinya dia bisa bekerja pengaruhnya baik positif maupun negatif. Kalau misalnya media itu bekerja secara positif, dia akan memperbaiki kesadaran publik. Memperbaiki literasi kita, mendorong adanya urgensi," tegasnya.

Nastiti berbicara dalam webinar "Krisis Iklim, Misinformasi dan Peran Media" oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Google Initiative ditayangkan YouTube, Selasa (5/3). Ditambahkannya, saat yang sama, media itu bisa jadi juga variabel yang buruk, membahayakan kesadaran, membuat publik abai, terus mengaburkan fakta-fakta ilmiah, dan juga menyepelekan masalah.

Sponsored

"Kurangnya kesadaran publik Indonesia, menurut hasil temuan, kami nilai sangat berkaitan dengan buruknya media dalam mengomunikasikan isu lingkungan, khususnya krisis iklim. Salah satu pola yang paling parah tentang misinformasi mengenai krisis iklim di media kita," katanya.

Menurut Nastiti, misinformasi dapat didefinisikan pemberitaan yang menyesatkan atau misleading (istilah bahasa Inggris). Tapi pemberitaan yang menyesatkan, baik berupa kelalaian atau ketidakmampuan, kegagalan, atau akibat kesengajaan. Kalau khusus kesengajaan itu sebutannya disinformasi. Studi ilmiah menunjukkan bahwa krisis iklim ini salah satu isu yang ternyata misinformasinya paling besar. Isu yang diberitakan media salah satu yang terbesar adalah isu krisis iklim. Biasanya misinformasi di media mengenai krisis iklim itu bekerja dengan menebarkan keraguan.

Diuraikannya, keraguan tersebut mencakup empat aspek. Pertama, krisis iklim benar-benar terjadi. Biasanya media melihatnya seperti siklus alamiah atau lebih menonjolkan sensasi bukan sains. Terus, kedua, meragukan bahwa krisis iklim itu penting. Biasanya frame yang dipakai media adalah krisis iklim memang ada tapi tidak separah yang dibayangkan. Atau krisis iklim ada tapi tidak ada kaitannya dengan bencana alam yang terjadi setiap tahun.

Ketiga, membuat orang ragu bahwa krisis iklim itu problem yang relevan bagi kehidupan sehari-hari. Biasanya cara media seperti melihat atau memotret krisis iklim itu bagai sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang seolah mengatakan bahwa krisis iklim itu programnya para elite saja. Jadi, tidak ada relevansinya dengan kehidupan orang biasa.

Keempat, cara misinformasi bekerja juga dengan menyuburkan apatisme dan polarisasi, salah satunya dengan mempolitisasi krisis iklim. Isu ini seperti dianggap komoditas politik dari kubu tertentu untuk berkuasa. Juga menonjolkan fiksionalisasi, jadi seperti membuat orang apatis, seperti meragukan mengapa narasi krisis iklim dibesar-besarkan.                        

Dua pembicara lainnya, Prof Daniel Mudiyarso, peneliti utama di Center for International Forestry Research (CIFOR). Guru besar di Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB, dengan gelar sarjana kehutanan dari IPB, dan Ph.D. tentang meteorologi dari University of Reading, Inggris.

Penelitiannya berkaitan dengan alih guna lahan dan siklus biokimia, termasuk emisi gas rumah kaca, yang terbit di sejumlah jurnal ilmiah. Penulis utama berbagai kajian IPCC. IPCC menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 2007. Mantan penasihat ahli Wetland International itu menjelaskan bagaimana situasi krisis iklim saat ini dan bagaimana sebenarnya Indonesia bisa berkontribusi dalam konteks mitigasi dan juga bagaimana strategi adaptasi.

Pembicara ketiga, Amanda Katili Niode, executive coach, pegiat, penatar, dan aktivis lingkungan hidup dan perubahan iklim serta akademisi. Direktur Climate Reality Indonesia, bagian dari organisasi global yang didirikan oleh mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore, dengan 42 ribu relawan di 174 negara. Fokusnya terutama ingin mengarusutamakan krisis iklim, dengan tawaran solusi yang bisa dilakukan. Amanda bergelar Ph.D. dari University of Michigan.

Berita Lainnya