Media / Pemilu 2019

Praktisi imbau media setia pada independensi di tahun politik

Dengan sikap independen, media massa dan jurnalis akan lebih mudah menyampaikan isu secara objektif.

Praktisi imbau media setia pada independensi di tahun politik Ilustrasi / Pixabay

Praktisi media dari Voice of America (VoA) Helmi Yohanes mengatakan, dengan setia kepada independensi maka media massa dan jurnalis akan lebih mudah menyampaikan berbagai isu secara objektif dan independen di tahun politik.

"Di Amerika Serikat sendiri, ada beberapa media yang bersifat partisan dan masyarakatnya juga terpolarisasi dalam dua kutub utama, liberal dan konservatif," terang Helmi Yohanes saat teleconference dari Washington DC, Amerika Serikat, dalam talkshow "Jurnalisme Meliput Pemilu" pada Festival Media 2018 yang digelar AJI di Rumah Radakng Pontianak, Sabtu (22/9).

Helmi melanjutkan, dengan polarisasi tersebut masyarakat Amerika Serikat sudah tahu media mana yang mengusung isu-isu liberalisme atau konservatif.

Isu yang diusung konservatif misalnya pemotongan pajak serta menentang pernikahan sejenis dan aborsi.

Sedangkan di kalangan liberal, isu yang diusung sebaliknya. "Pajak bagi para konglomerat, mendukung LGBT, dan aborsi," ujar dia.

Meski ada dua polarisasi, bukan berarti keduanya tidak memberi ruang bagi masing-masing kubu.

Sementara VoA meski dibiayai oleh Kongres Amerika Serikat, tetap bersikap independen dan melaporkan pemberitaan apa adanya. "Sebagai lembaga penyiaran, yang sifatnya pembawa berita atau pesan kita sampaikan apa adanya," kata Helmi Yohanes.

Ketua KPU Provinsi Kalbar Ramdan mengatakan, media massa mempunyai peranan penting untuk mencegah peluang konflik muncul.

"Contohnya di Kalbar, ketika ada gejolak setelah pilkada misalnya, namun media mampu meredamnya," ujar Ramdan.

Dia menambahkan, kecerdasan berpolitik masyarakat juga sudah jauh lebih baik. "Kalbar yang sebelumnya dikategorikan rawan pada pilkada, Alhamdulillah berlangsung aman dan lancar," kata Ramdan. (Ant)


Berita Terkait