sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

SBY vs media: SBY Dipelintir atau memang menggiring opini?

Presiden SBY merasa tidak pernah menyatakan bom JW Marriott- Ritz Carlton terkait pilpres 2009. Siapa yang salah?

Fitra Iskandar
Fitra Iskandar Kamis, 22 Jul 2021 07:40 WIB
SBY vs media: SBY Dipelintir atau memang menggiring opini?

Jakarta diguncang bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. 9 orang tewas, termasuk pembawa bom, 50 luka-luka. Presiden SBY pun tampil di publik menyatakan keprihatinannya. Persoalannya media kemudian ramai-ramai menulis berita yang intinya mengatakan SBY mengaitkan teror bom itu dengan pemilu presiden.

Teror bom pada 17 Juli 2009 itu terjadi setelah pemilihan presiden di mana SBY yang berpasangan dengan Boediono menang satu putaran langsung, dengan sekitar 60 persen suara. Ia menyingkirkan dua pasangan rival, Megawati-Prabowo, Jusuf Kalla-Wiranto. 

Hasil pemungutan suara pilpres itu juga diwarnai kekecewaan kubu yang kalah, karena merasa proses pemilihan presiden punya sejumlah masalah. Seperti soal belum tuntasnya dafar pemilih tetap ketika pemilihan dilaksanakan, pengurangan jumlah tempat pemungutan suara, dan penghentian tabulasi.   

Elite politik dan pakar pun bersautan setelah dimintai tanggapan oleh media terkait pernyataan SBY tersebut, termasuk para kandidat: Megawati, Prabowo Subianto dan Jusuf Kalla. Mereka tidak happy dengan pernyataan SBY. 

Megawati meminta siapapun tidak mengaitkan peristiwa bom itu dengan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden karena hanya akan memperkeruh suasana.

Prabowo Subianto juga membantah SBY, apalagi dikaitkan dengan aksi teror bom. "Berpikir untuk mengungkapkan kekecewaan dengan tindakan biadab ini pun tidak pernah," tegas Prabowo, ,seperti dikutip Tempo.

Jusuf Kalla lebih sinis."Orang politik tidak begitu caranya. Yang ngebom itu perencanaannya jauh sebelumnya, tidak bisa direncanakan seminggu, dan pemilu presiden baru seminggu lalu," katanya.

Berbagai tanggapan dari pengamat politik juga datang dengan nada utama mempertanyakan pernyataan SBY. Pengamat komunikasi politik Effendi Gozali menilai SBY terlalu sedih sehingga mengeluarkan pernyataan seperti itu.

Sponsored

SBY klarifikasi

SBY akhirnya melakukan sanggahan. Dia tidak merasa mengaitkan bom dengan pilpres. SBY yang ayah dari AHY ini merasa prihatin dengan polemik yang berkembang. Dia juga menuding ucapannya telah dipelintir media. 

"Yang terjadi berubah dari apa yang saya omongkan. Seperti dipelintir dan diputarbalikan. Apa yang terjadi, SBY dituduh begitu saja mengkaitkan bom dengan pilpres. Begitu katanya dalam pernyataan saya," ujar SBY di rakornas Partai Demokrat 22 Juli 2009, seperti dikutip Detik.com.

SBY kemudian membacakan ulang satu alinea pada pidatonya yang dipersoalkan itu. 

"Saya pagi ini mendapatkan banyak pertanyaan yang berteori paling tidak mencemaskan kalau aksi teror ini berkaitan dengan hasil pilpres. Saya tanggapi begini. Kita tidak boleh main tuding dan duga begitu saja. Semua teori dan spekulasi harus bisa dibuktikan secara hukum. Negara kita negara hukum dan demokrasi. Maka norma hukum dan demokrasi harus kita tegakkan. Bila dapat dibuktikan secara hukum bersalah, baru kita bisa nyatakan yang bersangkutan itu salah"

"Mana SBY menuduh bom itu terkait pilpres?"  SBY memprotes.

Dalam transkrip lengkap pidato SBY yang dilakukan enam jam setelah ledakan bom itu, SBY sebenarnya mengungkapkan dua hal: Dugaan motif di belakang aksi teror bom JW Marriott-Ritz Carlton, kemudian laporan intelijen soal adanya ancaman teroris terhadap dirinya. 

Pertama, Ia mengungkapkan mendengar ada teori yang beredar bahwa teror bom itu terkait pilpres, kemudian SBY menanggapinya dengan mengatakan 'kita tidak boleh main tuding begitu saja'.

Namun di pernyataan-pernyataan berikutnya, SBY mengungkapkan persoalan lain, bahwa ancaman terorisme terhadap dirinya memang ada. Ia menunjukkan kepada media foto orang berlatih menembak dengan gambar foto SBY sebagai sasarannya.' Ia menekankan bahwa informasi ancaman itu adalah laporan intelijen, bukan rumor.

"Bukan fitnah bukan isu. Saya mendapatkan laporan ini beberapa saat yang lalu. Masih berkaitan dengan intelijen, diketahui ada rencana untuk melakukan kekerasan dan tindakan melawan hukum berkaitan dengan hasil pemilu," kata SBY.

Tindakan itu, kata SBY, berupa ancaman pendudukan paksa KPU, dan revolusi jika SBY menang.

"Ini intelijen, bukan rumor, bukan isu, bukan gosip. Ada pernyataan, kita bikin Indonesia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan, bagaimanapun juga SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu. Dan puluhan intelijen lagi yang sekarang berada di pihak yang berwenang," kupas SBY.

SBY pun membuat pernyataan yang membuat orang bertanya-tanya lebih jauh soal siapa dalang terorisme karena SBY menyebut-nyebut 'siapapun orangnya dan latar belakang politiknya.'

"Kita prihatin, menangis, dan berduka seperti yang saya rasakan. Sementara ada juga segelintir orang di negeri ini yang tertawa puas disertai amarah dan keangkaramurkaan," kata Presiden SBY dalam pidatonya menyikapi aksi teroris di Istana Negara, dikutip Okezone.com.

"Saya juga instruksikan kepada penegak hukum untuk mengadili aksi teroris, siapa pun dia, status, dan latarbelakang politiknya," tambah dia di pernyataan selanjutnya. 

Salah satu anggota tim advokasi Mega-Prabowo, Arteria Dahlan menuding SBY sedang berusaha menggiring opini.  "SBY terkesan ingin menggiring opini bahwa aksi ini terjadi dalam kondisi politik dimana elite sedang tidak harmonis," kata Arteria.  

SBY vs media siapa yang salah?

"Dalam hal ini dua-duanya nggak ada yang salah, SBY nggak salah, media nggak salah, " kata ahli komunikasi dari LIPI Prof Rusdi Muchtar MA diwawancarai Detik.com.
 
Menurut Rusdi SBY tidak bisa disalahkan karena dinilai mencampuradukkan teror bom JW Marriott-Ritz Carlton dengan pilpres karena peristiwa itu memang berdekatan. Di sisi lain, media juga tidak salah memberitakan pernyataan SBY. "Media kan juga punya pandangan sendiri dalam memberitakan sesuatu," jelasnya.

Polemik timbul karena masalah interpretasi orang berbeda-beda.  Kritiknya pada kedua pihak menurut ProF Rusdi adalah SBY dinilai terburu-buru dalam membuat pernyataan, sementara media dianggap terlalu gampang dalam mengaitkan sesuatu.

Berita Lainnya