sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tantangan media pada masa pandemi Covid-19

Peran media itu antaranya pertama adalah menyajikan informasi secara rinci tentang ancaman kesehatan

Arpan Rachman
Arpan Rachman Minggu, 22 Mei 2022 21:14 WIB
 Tantangan media pada masa pandemi Covid-19

Apakah jurnalisme lambat (slow journalism) adalah jurnalisme yang cocok diterapkan pada saat krisis kesehatan? Kalau perspektif intermedia agenda setting bertanya mengapa di media itu sama semua beritanya?

Panelis Irwan Nugroho menguraikan Tantangan Media pada Masa Pandemi Covid-19 dalam sesi pertama dari rangkaian seminar nasional telah diselenggarakan Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jumat (13/5).

Irwan lulus dari Pascasarjana Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia tahun 2022. Dari tahun 2007 hingga kini dia bekerja di detikcom. Sekarang menjadi redaktur pelaksana indepth content.

Mengkompilasi beberapa penelitian yang sudah ada mengenai media di masa pandemi yang masih berlangsung sampai sekarang, Irwan membagi uraiannya menjadi peran vital media, lebih khusus lagi, di masa krisis kesehatan atau pandemi.

Lalu terjadi disrupsi di redaksi beberapa atau banyak media. Kemudian terjadinya penurunan kualitas jurnalisme. Terjadinya juga penurunan bisnis media sebagai salah satu sektor yang sangat terpukul pada saat pandemi. Lalu, kelima atau yang terakhir, beberapa kebijakan untuk menyelamatkan media.

"Kalau kita berbicara mengenai peran vital media mungkin kita sudah tahu bagaimana peran media seperti kontrol sosial, edukasi, hiburan. Tapi khusus untuk pandemi atau krisis kesehatan sepertinya perlu kita tekankan lebih dalam lagi apa sebetulnya peran vital media pada masa krisis," katanya.

Mengutip pendapat dari Lee Wilkins (dalam Furlan, 2021) yang mengatakan bahwa peran media itu antaranya pertama adalah menyajikan informasi secara rinci tentang ancaman kesehatan yang akan dihadapi oleh publik. Dihadapi, termasuk untuk membuat keputusan dan komunitas ilmiah. Wilkins mengatakan bahwa secara umum peran media itu harus bisa menyelamatkan nyawa publik di masa krisis kesehatan seperti Covid-19.

"Kemudian membuka saluran komunikasi multiarah antara publik dengan mereka yang memegang kekuasaan dan membuat kebijakan supaya terjadi demokratisasi di dalam kebijakan-kebijakan terkait dengan pandemi. Kemudian mengawasi seberapa baik pemerintah merespons peristiwa tertentu apapun, seperti misalnya ada suspect sampai yang terakhir aturan PSBB, itu harus dikontrol dengan baik oleh media," cetusnya.

Sponsored

Namun, dikatakannya, di masa krisis, media-media di Indonesia atau di seluruh dunia menghadapi tantangan, yaitu disrupsi redaksi. Sebenarnya disrupsi ini sebuah kata yang harusnya ada inovasi tertentu yang mengubah keadaan. Disrupsi di redaksi ini memang membuat kadang-kadang wartawan merasa kesulitan, tapi sebenarnya ini mungkin sebuah inovasi tertentu yang memang membuat pekerjaan jurnalistik menjadi lebih efisien sebetulnya.  

Di antaranya bahwa pada masa pandemi, kegiatan mencari dan memperoleh informasi dilakukan secara daring. Ini mungkin tidak hanya jurnalis juga, tapi semua bidang pekerjaan. Wawancara dilakukan secara daring, dokumen publik juga diperoleh secara online, video konferensi pers daring, dan website resmi dari pemerintah sebagai salah satu sumber informasi.

"Memiliki dan menyimpan informasi publik itu, kalau dulu melalui wawancara langsung, rekamannya kemudian disimpan, tapi sekarang semuanya serba daring. Mengolah informasi kemudian menyampaikan menjadi berita, kalau dulu hanya di kantor. Sekalipun sebenarnya jurnalisme lambat itu sudah lama ada sebenarnya. Jurnalis sudah berbudaya tidak datang ke kantor, jadi waktunya sangat fleksibel, mereka bisa bekerja dari mana saja," ujar Irwan.

Dicontohkannya, jurnalisme lambat itu bahkan bekerjanya ada yang setiap hari datang ke perpustakaan, bukan di rumah. Jadi di perpustakaan, buka buku, bikin berita. Terus kalau di masa pandemi seluruh kegiatan banyak yang dilakukan di rumah karena faktor risiko.

Tantangan lain yang terjadi, terutama dihadapi oleh wartawan pada saat pandemi. Covid-19 ini sebuah bencana yang membutuhkan pengetahuan sains yang memadai. Tapi sayangnya di antara jurnalis itu pengetahuan mengenai sains maupun pandemi sangat-sangat minim. Saat pandemi terjadi, jangankan wartawan yang setiap hari mengungkapkan masalah kesehatan. Semua wartawan, baik itu dari desk politik, ekonomi, semua meliput mengenai Covid-19. Bisa dibayangkan, sebenarnya wartawan cukup membantu tapi dalam hal pandemi ini sepertinya wartawan masih butuh banyak belajar.

"Ketika pengetahuan itu sangat sedikit, mereka harus dituntut untuk membuat berita mengenai Covid-19. Mungkin kita bisa dibayangkan seperti apa nanti kualitas jurnalismenya," katanya.

Menurut Irwan, media massa sampai beberapa tahun yang lalu tidak serius untuk menggarap rubik mengenai kesehatan. Ketika ada beberapa media yang khusus membahas mengenai kesehatan baru pada panik untuk membikin atau menseriusi rubrik kesehatan. Pengetahuan juga kurang, akses terhadap jurnal pun sangat minim. Kalau akademisi di kampus mungkin langsung buka scholar.google.id. Wartawan mungkin tidak sampai ke situ pikirannya untuk mencari jurnal, sehingga tidak mendapat referensi untuk membuat berita.

"Mengenai koordinasi mungkin sedikit agak terhambat karena wartawan tidak tahu misalnya dia di rumah mau ngapain saja. Selain menggarap berita, bisa juga mengerjakan kesibukan yang lain. Jadi kadang-kadang ada miskoordinasi. Mohon maaf untuk wartawan senior, mungkin ada gagap teknologi juga. Ketika zoom meeting atau konferensi pers melalui zoom, mereka agak susah," serunya.

Yang paling penting, narasumber pada saat itu, praktis sebenarnya hanya pemerintah yang banyak sekali dikutip oleh media. Ini juga berpengaruh terhadap independensi media dan terhadap berita yang disampaikan kepada publik. Kecenderungan pemilihan narasumber pada saat Covid-19 baru merebak di Indonesia bisa dilihat bahwa pemerintah adalah narasumber yang paling banyak dikutip oleh media. Saat itu ahli juga mungkin belum banyak yang mengetahui atau yang bisa berbicara secara jelas mengenai Covid-19.

Irwan mengungkapkan bahwa praktis kemudian karena pemerintah saat itu berperan sangat besar dalam penanganan pandemi, maka itulah kemudian yang cenderung terjadi ketika wartawan banyak lebih banyak memberitakan dari versi pemerintah.

Berita Lainnya
×
tekid