sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

45 penambang emas di Mongondow, Sulut, masih tertimbun longsor

Sekitar 100 personel tim gabungan diturunkan untuk mengevakuasi para korban.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Rabu, 27 Feb 2019 14:09 WIB
45 penambang emas di Mongondow, Sulut, masih tertimbun longsor
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Kepala Seksi (Kasi) Tanggap Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara, Abdul Muin Paputungan, mengatakan ada total 60 orang penambang emas yang tertimbun longsor di lokasi pertambangan di Desa Bakan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Saat ini, ada 45 korban yang masih tertimbun akibat longsor yang terjadi pukul 21.10 WITA, Selasa (26/2) kemarin.

"15 korban berhasil dievakuasi, sementara 45 korban lainnya masih terjebak, itu pun bisa bertambah dan bisa berkurang," kata Abdul saat dihubungi jurnalis Alinea.id dari Jakarta, Rabu (27/2).

Dari 15 korban tersebut, satu di antaranya meninggal dunia, sementara 14 korban lainnya dalam kondisi luka-luka.

Sekitar 100 personel tim gabungan diturunkan untuk mengevakuasi para korban. Tim terdiri dari personel BPBD Bolaang Mongondow, Basarnas Kota Mobagu, TNI, Polri dan juga masyarakat.

"Tadi ada tambahan personel dari Polres Kota Mobagu sebanyak 60 personel, jadi kami perkirakan 100 personel," kata Abdul.

Sejak tadi pagi, alat berat sudah berdatangan di sekitar lokasi longsor. Namun proses pencarian korban masih dilakukan secara manual.

"Alat berat sudah datang, ekskavator, tetapi itu digunakan ketika ada respon korban yang terjebak di dalam. Kalau kita gunakan secara tiba-tiba, takutnya korban di dalam malah tertimbun," katanya.

Selain itu, kondisi di sekitar lokasi merupakan medan yang curam dan penuh bebatuan. Namun, personel TNI dan Polri telah membuat jalur aman untuk mengevakuasi korban.

Sponsored

Abdul menduga, longsor disebabkan kontur tanah yang labil di lokasi pertambangan. Faktor kelabilan itu disebabkan dari banyaknya titik galian pertambangan.

"Kondisi tanah di sana labil, karena sudah banyak akses galian yang menimbulkan keretakan pada tanah," ucapnya.

Berita Lainnya