sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

5 strategi Nadiem genjot kualitas pendidikan

Kemendikbud menggunakan standar PISA, bukan lagi UN.

Fathor Rasi
Fathor Rasi Jumat, 03 Apr 2020 17:28 WIB
5 strategi Nadiem genjot kualitas pendidikan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 72347
Dirawat 35349
Meninggal 3469
Sembuh 33529

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyampaikan lima strategi agar kualitas pendidikan Indonesia meningkat, berdasarkan penilaian Programme for International Student Assessment (PISA).

PISA, jelas Nadiem, merupakan asesmen global yang memetakan sistem-sistem pendidikan di berbagai macam negara yang dites untuk anak di umur 15 tahun.

"Pertama adalah mengubah standar penilaian sendiri yang kita lakukan dari Ujian Nasional (UN) menjadi assesment kompentensi minimum yang terinspirasi PISA dan soal-soalnya pun melekat dengan PISA," katanya melalui video conference usai mengikuti rapat terbatas dipimpin langsung Presiden Jokowi, di Kantornya, Jakarta, Jumat (3/4)

Dalam ratas tersebut Jokowi mengatakan, berdasarkan skor rata-rata PISA tahun 2018 menurun di 3 kompetensi yaitu membaca, matematika dan sain.

"Tapi karena PISA hanya untuk usia 15 tahun maka kami akan menurunkan ke setiap jenjang SD, SMP, SMA dengan mengikuti standar internasional yaitu PISA dalam pemetaan pendidikan," tambah Nadiem.

Dengan menggunakan standar PISA, dan bukan lagi UN maka asesmen pendidikan Indonesia akan merujuk pada standar internasional.

"Tentu yang dites bukan hanya kognitif saja tapi juga karakter dan pernyataan hal-hal lain yang berhubungan dengan norma, norma kesehatan mental, kesehatan moral dan kesehatan anak-anak di masing-masing sekolah. Kita mengubah standar penilaian global yaitu PISA," ungkap Nadiem.

Strategi kedua adalah melakukan transformasi kepemimpinan sekolah. "Kami akan memastikan guru-guru penggerak terbaik di berbagai daerah yang menjadi kepala sekolah dan mereka diberikan fleksibilitas dan otonomi dalam penggunaan anggaran dan penggunaan teknologi untuk meminimalisasi beban administrasi sehingga mereka bisa fokus kepada mentoring guru-guru di dalam sekolah mereka," paparnya.

Sponsored

Ketiga, Nadiem berencana untuk meningkatkan kualitas pendidikan profesi guru (PPG) agar dapat mencetak guru yang berkualitas baik yang memiliki misi menghasilkan siswa terbaik.

Menurut mantan CEO GoJek itu, pelatihan-pelatihan guru saat ini sifatnya hanya teoritis. Untuk itu, ke depan pelatihan akan meliputi praktik dan pelatihan ke sekolah-sekolah yang kualitasnya lebih baik.

"Kami akan membuka program profesi guru lokal dan internasional dan akan menciptakan alumni yang lebih baik lagi karena ada banyak guru-guru PNS yang pensiun setiap tahunnya jadi pabrik guru kita harus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya," jelasnya.

"Jadi bukan hanya seminar tapi juga berinteraksi antara guru dan guru," imbuhnya.

Keempat, mentransformasi pengajaran yang sesuai tingkat kemampuan siswa karena banyak silabus dan kebijakan mengajar sangat ketat.

"Banyak guru yang tidak bisa mengajar dengan tingkat kemampuan siswa. Jadi kurikulum harus lebih fleksibel dan sederhana dan orientasi kompetensi dan dibantu juga dengan platform-platfrom 'online' yang membantu segmenetasi pembelajaran," ungkap Nadiem.

Para siswa, kata Nadiem, tidak harus mengerjakan tugas yang sama, mengingat setiap murid memiliki kemampuan berbeda, sehingga mereka dapat mengerjakan tugas yang berbeda-beda.

Kelima, transformasi atau perubahan. Hal ini tidak hanya dilakukan di Kemendikbud, melainkan juga mitranya di berbagai daerah.

"Dan berbagai organisasi penggerak akan kami tingkatkan. Kami percaya partisipasi masyarakat, organisasi, perusahaan-perusahaan yang punya passion di pendidikan, efek teknologi, start up-start up di pendidikan semua dirangkul untuk menyasar pendidikan pembelajaran siswa," urai Nadiem.

Untuk diketahui, PISA merupakan sistem ujian yang diinisasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia.

Setiap tiga tahun, yaitu pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, 2012 dan seterusnya, bagi siswa berusia 15 tahun dipilih secara acak untuk mengikuti tes dari tiga kompetensi dasar yaitu membaca, matematika dan sains.

Indonesia mulai sepenuhnya berpartisipasi sejak tahun 2001. Pada setiap siklus, terdapat 1 domain major sebagai fokus studi.

PISA tidak hanya memberikan informasi tentang benchmark Internasional, tetapi juga informasi mengenai kelemahan serta kekuatan siswa beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. (Ant)

Berita Lainnya