sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

51,2% wilayah masuk kemarau hingga medio Juni

Diprakirakan curah hujan pada akhir Juni-pertengahan Juli kriteria rendah hingga menengah di sebagian besar Indonesia.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Sabtu, 27 Jun 2020 13:51 WIB
51,2% wilayah masuk kemarau hingga medio Juni
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 127083
Dirawat 39082
Meninggal 5765
Sembuh 82236

Seluas 51,2% wilayah Indonesia memasuki kemarau hingga 20 Juni 2020. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sisanya masih musim hujan.

"Musim kemarau ditandai oleh berkurangnya hari hujan dan rendahnya jumlah curah hujan yang terukur di permukaan," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, via keterangan tertulis, Jumat (26/6).

Kemarau telah terjadi di pesisir timur Aceh, bagian barat Sumatra Utara (Sumut), pantai timur Riau-Jambi, pesisir utara Banten, utara Jawa Barat (Jabar), utara dan timur Jawa Tengah (Jateng), sebagian besar Jawa Timur (Jatim), sebagian Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), selatan Sulawesi Barat (Sulbar), pesisir selatan Sulawesi Selatan (Sulsel), utara Sulawesi Utara (Sultra), Pulau Buru, serta timur Papua Barat.

Sebagian besar wilayah di NTT, NTB, Bali, dan Jatim telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut (deret hari kering) berkisar 20-60 hari. Sedangkan sebagian besar Jateng dan utara Jabar mengalami hari tanpa hujan berturut-turut berkisar 10-30 hari.

"Umumnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada pertengahan Juni 2020 berada pada kriteria rendah (0-50 mm/dasarian)," jelasnya. Sedangkan curah hujan kriteria menengah (50-150 mm/dasarian) terjadi di selatan Aceh, Riau, selatan Lampung, barat Jaten, barat laut Kalimantan Barat (Kalbar), dan Maluku Utara.

Sementara itu, curah hujan kategori tinggi (>150 mm/dasarian) terjadi di selatan Sulawesi Tengah (Sulteng), utara Sulawesi Tenggara (Sultra), barat Pulau Seram, barat Papua Barat, serta tengah Papua, khususnya di sekitar Timika.

Dibandingkan dengan curah hujan normalnya (rata-rata iklim 1981-2010) pada bulan Juni, ungkap Herizal, 50% dari wilayah-wilayah itu menunjukkan kondisi atas normal atau lebih basah dari biasanya.

"Sedangkan 30% wilayah yang lebih kering (bawah normal) terjadi di Sumatra Utara bagian tengah, Jawa Barat bagian tengah, Jawa Tengah bagian tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah bagian utara, Papua Barat bagian timur, Jayapura, dan Papua bagian utara dan tengah," tuturnya.

Sponsored

Untuk akhir Juni hingga pertengahan Juli 2020, BMKG memprediksi curah hujan umumnya pada kisaran kriteria rendah (0-50 mm/dasarian) hingga menengah (50-150 mm/dasarian) di sebagian besar Indonesia. Potensi kriteria rendah diprakirakan terjadi di Sumatra, khususnya Riau dengan peluang di atas 70%.

"Potensi curah hujan rendah di Jawa (kecuali Banten), Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan bagian selatan, dan Papua bagian selatan di sekitar Merauke memiliki peluang > 90%," sambung dia.

Di sisi lain, hasil pemantauan indikator anomali iklim Samudera Pasifik hingga medio Juni menunjukkan, suhu muka laut wilayah indikator ENSO (Nino 3.4) dalam kondisi netral atau fluktuasi suhu tidak menyimpang lebih dari 0,5°C dari rerata normal klimatologisnya.

"Sebagian besar lembaga meteorologi dunia memprediksi, anomali suhu muka laut di Nino 3.4 sampai akhir tahun berkisar antara netral dan La Nina lemah," ujarnya. La Nina dinyatakan lemah apabila penyimpangan suhu muka laut di wilayah indikator ENSO lebih dingin -0,5° hingga -1°C dari normal klimatologisnya.

Apabila kondisi La Nina terjadi, dapat menambah peluang peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Sehingga, musim kemarau terkesan lebih basah karena lebih banyak hujan daripada kemarau biasanya.

Sementara itu, pemantauan anomali iklim Samudera Hindia pada pertengahan Juni menunjukkan, beda suhu muka laut perairan timur Afrika dan barat Sumatera sebagai indikator Dipole Mode Samudera Hindia (IOD) bernilai positif (IOD+). Kondisi IOD+ diprediksi akan kembali netral pada Juli-November 2020.

Sedangkan hasil pemantauan kondisi suhu muka laut perairan Indonesia dalam keadaan normal, kisaran anomali antara -0.5 sampai 2°C. Suhu yang hangat (anomali positif) terjadi di perairan timur Sumatra, perairan selatan Jawa, Laut Banda, dan perairan utara Papua.

Dari berbagai kondisi tersebut, BMKG memprakirakan bakal menjadikan musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia cenderung basah. Meski demikian, perlu tetap mewaspadai potensi kekeringan di 30% wilayah Zona Musim (ZOM). Mencakup utara, tengah, dan selatan Aceh; selatan Sumut; utara Riau; serta utara dan timur Lampung.

Lalu selatan Banten; sebagian Jabar; tengah dan utara Jateng; timur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); selatan dan timur Bali; sebagian NTB; sebagian kecil NTT; timur dan selatan Kalimantan Timur (Kaltim); sebagian Sulsel; selatan Sulbar; selatan Sulteng; serta barat dan selatan Maluku.

BMKG juga memprakirakan, tidak ada ancaman potensi anomali iklim global yang signifikan. Ini berdasarkan perkembangan kemarau dan prospek curah hujan enam bulan mendatang.

Para mitra kerja BMKG dan masyarakat disarankan memanfaatkan informasi iklim ini untuk kewaspadaan ataupun perencanaan jangka pendek.

Sedangkan daerah yang masih mendapatkan curah hujan tinggi diminta mewaspadai potensi perkembangan nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue dan penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Untuk daerah-daerah yang yang telah memasuki musim kemarau dengan deret hari kering yang cukup panjang serta diprediksi dalam 2-4 bulan ke depan intensitas hujannya rendah, perlu melakukan mitigasi. Budi daya pertanian yang tidak mebutuhkan banyak air, melakukan gerakan hemat penggunaan air bersih, serta mewaspadai kebakaran hutan, lahan, dan semak, misalnya.

BMKG menyediakan layanan informasi cuaca 24 jam melalui berbagai kanal. Pusat panggilan 021 6546315/18, situs web bmkg.go.id, akun Twitter @infoBMKG, dan kantor terdekat.

Berita Lainnya